Home > Cerpen > Aku, Seorang Nonkonformis?

Aku, Seorang Nonkonformis?

Karya :Penny Charity Lumbanraja

Part 1
“Baru saja, sepeda motor Lucy hilang semalam”, ucapku dengan sentakan tas yang kugeledah senjakala tetiba pulang ke rumah setelah membuat laporan kehilangan sepeda motor milik Lucy di kantor Polisi setempat. Habis jatuh tertimpa tangga pula, beginilah rasanya.

Saat itu, aku merasa hal yang menyakitkan dan menekan di bagian tulang tengkorak os.frontale dan os.occipetale kepalaku.

“Ada apa, ini?”, gumamku dengan nada kelus dibalik desakan kendaraan lain yang mengantri panjang lalu lintas akibat merahnya lampu lintas. Secapai-capainya mengendarai motor di bawah teriknya matahari, tidak pernah kurasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalaku. Ditambah lagi bunyi teretet mobil yang mendesak zona perhentian motor menyentak untuk maju jalan membuat kepalaku semakin sakit dan tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan di balik kebisingan yang berkumandang. Suasana lalu lintas di kota tidak akan pernah berubah jika semua sifat pengendara yang temahak dan menuntut keegoisannya masing-masing.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB, padahal jadwal masuk perkuliahan pukul 17.00 WIB tepat. Dengan tangkas jadinya menambah perengkat kelajuan sepeda motor menuju pulang ke rumah untuk bergegas pergi ke perkuliahan. Jarak antara rumah dengan kampus sangatlah jauh. Kira-kira membutuhkan waktu 45 menit untuk tempuh. Belum lagi medan jalan yang macetnya luar biasa. Geraknya hanya inci per inci.

Setelah tiba di rumah, dengan nafas meletup-letup karena berlabuh dengan tergesa-gesa dan ngacir kesana kemari karena sudah diburu waktu, aku teringat akan telepon genggam yang kutaruh di dalam tas sekolahku.

“Dimana handphone-ku?”, sontakku di dalam hati dengan penuh kekhawatiran. Pikirku dengan jeli dan dengan benar sebelum meninggalkan rumah, aku meletakkan handphone di dalam tas.

Lalu, aku bertanya dengan teman-temanku tempatku berhuni, mungkin ada orang lain yang masuk ke dalam rumah yang dengan sengaja mengambil handphone-ku di dalam tasku.

“Ody, ada kau lihat handphoneku?”, tanya Genie kepada Ody yang bergegas pergi dan berusaha menghengkang.

Kala itu, sebelum aku bersama dengan Lucy pergi meninggalkan rumah, ada lima orang yang tinggal di dalamnya. Tetapi, satu pun tidak kucurigai di antara mereka. Mungkin saja aku tidak menyadari dimana aku meletakkan benda tersebut. Jadi, di dalam hatiku aku berusahan untuk tetap mensugesti diri saja bahwa handphoneku tidak mungkin hilang. Akhirnya tiba pukul 17.00 WIB, dengan kelabakan dan ngacir sana sini, semestinya waktu untuk berangkat ke perkuliahan, tetapi kami masih saja di rumah. Dengan bergegas kami pun pergi menuju kampus yang nan jauh dari rumah. Namun, dengan perasaan gundah, aku masih saja berusaha mengingat dengan keras dimana aku meletakkan handphone tersebut. Bukan hanya karena kegunaan yang diberikan oleh handphone tersebut tetapi perasaan kepemilikan dan keterikatan terhadap benda tersebut yang kemudian dengan tidak senonoh direnggut oleh orang lain dari tasku secara tidak wajar yang membuat kepalaku tidak sanggup memikirkannya.

“Lucy, gak habis pikirku tentang handphoneku itu”, ucap Genie kerap dengan pandangan hampa setelah tiba di parkiran motor.
“Coba engkau mengingat-ingat lagi, mungkin saja kau tidak fokus meletakkan handphone mu itu”, sahut Lucy kepadanya.

“Ah, aku ingat betul dimana aku meletakkan barang-barangku. Aku tidak mungkin teledor meletakkannya”, sambil merogoh tas kuliah yang dipenuhi akan buku-buku pinjamannya dari perpustakaan kampus.

“Aku pun gak habis pikir, apa mungkin ada seseorang yang dengan sengaja mengambil handphonemu itu”, sambil merogoh kantung celana untuk memastikan apakah handphone tersebut saat ini dalam keadaan offline. Dengan mengusap layar handphone dan menghubungkannya dengan jaringan internet tanpa kabel, Lucy menunjukkan sesuatu ke arah Genie yang sibuk mengeluarkan buku-buku dari tas miliknya di atas kendaraannya.

“Waduh, handphonenya itu aktif data selulernya, kan?, ada juganya daya baterainya? Takutku habis pula baterainya, makanya gak bisa kuhubungi ini”, ujar Lucy kepadanya.

“Kujamin ada daya baterainya. Teringatku masih 30 persen. Ada apa rupanya?”, ujarnya dalam keadaan seregang.

“Bisa dipastikan handphonemu itu sudah hilang dan seseorang dengan sengaja mengambil handphonemu itu, soalnya di whatsappku hanya ada tanda satu centang saja, berarti handphonemu dalam keadaan internet mati”, sahut Lucy dengan jelas.

Pikiranku pun membuyar.
“Aduh, bagaimana ini. Tapi cobalah dulu kita cari pelan-pelan nanti ya Lucy, bisa saja handphoneku itu tidak tersambung dengan internet secara otomatis tetapi tidak daya mati. Bantu aku nanti mencarinya ya,” ujarnya dengan penuh cemas.

Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 19.00 WIB, dan jam perkuliahan telah berakhir. Dengan bergegas menghantam rintikan hujan yang tidak deras pulang menuju ke rumah. Dengan mengumpit kelajuan motor dan menebus sedikit arah lintas laju perjalanan.

Sesaat kemudian, akhirnya tiba di rumah di waktu yang agak cepat, dengan bergegas mengobrak-abrik barang-barang bahkan pakaian di lemari yang tertata rapi. Dengan santer rak pakaian, rak sepatu, kamar tidur, kolong tempat tidur, tempat sampah, keranjang pakaian kotor, bahkan kulkas pun ku digeledah untuk mencari benda tersebut karena yang berpergian belum juga tiba dirumah, sehingga barang-barang masih dalam kondisi yang sebelumnya.

Hingga orang rumah sudah pulang. Setelah kira-kira sejam mencari sampai seisi rumah. Benda yang tersusun apik jadi berantakan sana-sini. Aku kucar kacir hingga aku tergopoh-goph dan menjadi ekhibisi yang lainnya.

“Tidak habis pikirku kalau sampai mencari seluruh isi rumah ini, frustasi sudah aku”, teriakku dengan nada kesal sambil menitikkan air mata dengan rasa bergelidik.

“Ada kau lihat handphone kak Genie, Dy”, tanya Lucy sekali berulang mendelik ke arah Ody.

“Oalah kak-kak, gak ada loh kubilang. Jujur aja ya kak, aku bukannya berkekurangan, berlebihan malah. Untuk apalah kuambil handphone itu”, ujarnya menyinyir dan dengan tawa ejekan.

Hingga akhirnya tanpa bermaksud mencurigai secara subjektif, kutanyakan satu per satu kelima orang yang berada di rumah saat aku meninggalkan handphone tersebut. Batinku mengarah kepada salah satunya, namun aku tidak punya bukti yang kuat untuk mengujuknya. Kusoroti matanya, tetapi karena kutau dia adalah tipikal manusia yang emosinya mudah meletup-letup, jadi percuma saja bertanya mendalam, sekilas saja menyorotinya. Dengan sikap silengahnya, entah menghindari sesuatu atau memang masa bodohnya, akhirnya aku habis kata. Teringat akan pernyataan dari pihak kepolisian tempat mengadu dan melayani masyarakat selama 24 jam, aku pun mengambil sikap. Jelas kasus ini adalah pencurian.

“Sungguh tak masuk di akalku, kulaporkan masalah ini ke kantor polisi. Aku gak mau tahu. Hal ini harus segera kulaporkan”, gertakku kepada seluruh anggota hunian rumah.

Di rumah itu, aku tinggal bersama dengan sebuah keluarga yang memiliki tiga orang anak. 10 selain itu adalah mahasiswa-mahasiswi perantauan yang tinggal di dalamnya. Dari antara kelima subjek yang diwahami adalah anak si pemilik rumah yang sudah berusia 20 tahun. Kala itu, nyonya besar dan kedua anaknya yang lain tengah pergi berekreasi ke luar rumah dengan mobil mewahnya. Sedang anak yang satu mengurung diri di kamar dengan timbunan chip-nya. Anak ini memiliki kepribadian yang tidak baik. Candu game online cukup relevansi dengan candu-candu lainnya yang membentuk kepribadiannya yang liar, ditambah lagi kondisi perekonomian yang berada jauh di atas rata-rata tak jarang dipungkiri punya sikap pongah terhadap yang lain.

Akan lebih mudah untuk memeriksa kelima orang tersebut jika mengandalkan penyidikan pihak kepolisian. Jika hal tersebut dibiarkan dan didiamkan, akan memunculkan masalah baru dan imbasnya adalah orang-orang yang tak patut disalahkan. Kebutuhan akan uang membuatnya tidak peduli dengan kondisi orang lain yang baru saja mengalami kemalangan kehilangan sepeda motor. Sungguh buruk perangainya.

Ditambah lagi pemilik rumah yang tidak memiliki sikap tepaselira pada orang yang baru semalam kehilangan sepeda motor. Padahal jangkauan tak ada memerhatikan kendaraan yang mangkir di teras samping rumah lantaran memenuhi perintah si nyonya pemilik rumah untuk menjemput anaknya yang hendak pulang dari sekolah. Sungguh perangai orang-orang ini, Kehidupan berdimensi materi menutupi hati nurani.(*)

Leave a Reply