Home > Cerpen > [Cerpen] Aku, Seorang Nonkonformis?

[Cerpen] Aku, Seorang Nonkonformis?

Karya: Penny Charity Lumbanraja

Part 2.
Dengan berkutat akhirnya muncul guratan ide yang terilham dari otak yang sudah lelah berpikir, akhirnya aku meminta Lucy untuk mengunduh aplikasi yang mampu mendeteksi keberadaan handphone yang hilang dari pandangan pada radius yang cukup untuk didengar. Dengan melog-in akun surel pemilik handphone yang terdaftar di handphone yang hilang di dalam aplikasi tersebut, membuatnya memaksa bunyi handphone tersebut walaupun dalam pengaturan silent. Jika handphone tersebut tidak berdaya mati dan tersambung dengan internet, maka handphone tersebut akan mengeluarkan suara bak sirene, sehingga pencari dapat mendengar dan mendeteksi keberadaan handphone tersebut.

Bukan untuk menggertak tetapi membuktikan pernyataan bahwa jelas handphone tersebut telah dicuri oleh seseorang secara sengaja membuat objek yang dicurigai mulai merasa gundah karena handphone yang dipaksa untuk berbunyi tersebut tidak berbunyi akibat telah didayamatikan oleh seseorang. Sehingga dengan penuh keyakinan untuk memberikan laporan yang jelas tentang kasus pencurian kepada polisi di dalam rumah tempat aku berhuni.

“Permisilah inang, di rumahmu ini sudah sering terjadi kasus pencurian, baik uang dan dompet. Kali ini, kami tidak bisa toleransi. Jadi, dengan izinmu kami mau melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian”, tutur Lucy dengan sopan.

“Ya, baiklah. Silahkan saja”, ujarnya dengan parut wajah gelisah.

“Ya, sudah amankan saja tas mu Genie, supaya mudah disidik jari”, ucap Lucy mengingatkan Genie.

Aku pun mengamankan tas dan mulai berasa ringan perasaan karena tak dirudung penasaran. Aku dan Lucy dan keempat lainnya bercokol di loteng rumah.

“Sabarlah kalian, nggi. Kalian tidak mungkin aku curigai”, ujarku kepada ke empat lainnya.

“Wajarlah kakak mencurigai kami, namanya saja kami di rumah. Tetapi kalaupun kami harus diperiksa oleh polisi, kami siap kak”, sahut Rita dengan penuh pasti.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari lantai bawah, memanggil salah satu di antara kami. Toni, seorang pria muda yang didesak untuk mengantarkan si nyonya menuju ke rumah “orang pintar” lantaran takut akan pernyataan yang diperbuat oleh Lucy dan Genie yang mungkin dapat mejerumuskan putra kesayangannya itu. Dengan langkah inisiatif si Nyonya, dukun pun bertindak. Aku pun menyinyir.

“Sudah jelas si Ody yang mengambil handphonemu, kak”, sahut Utri sambil melitup pintu agar tidak terdengar dengan orang lain.

“Buktinya mengapa dia pergi bergolak meninggalkan tempat kejadian, berarti dia takut dan menghindari sesuatu, kan”, ucap Lucy dengan percaya diri.

“Dari kakak mengatakan akan pergi ke polisi ditambah lagi sesuatu bergetar setelah kakaknhidupkan aplikasi itu, dia mulai gelisah dan akhirnya pergi”, ucap Utri.

“Kita perhatikan saja selanjutnya sikap si Ody”, ujar Genie.

Tak lama kemudian.
Malam itu, terdengar hentakan pintu gerbang yang menandakan seseorang datang ke rumah, ternyata si Ody. Dengan perasaan tak tahu malu. Ia pun manapaki anak tangga dan mengambil handuknya yang terjemur di jemuran yang berada pada loteng rumah.

Aku pun menuruni anak tangga dan secara tidak sengaja, pandanganku mengarah pada ventilasi pintu kamarnya. Daaasss, aku melihat handphoneku tergeletak disana. Tuhan mendengar doaku dan segera mengirimkan malaikatnya untuk mengembalikan handphoneku dari tangan pencuri. Sepertinya dengan keras malaikat menampar pipi kiri dan pipi kanannya.
Segera aku mengamankan handphone tersebut sebelum si pencuri berubah pikiran dan mengambil kembali kepemilikanku.

Tak lama kemudian, si nyonya pemilik rumah dan Tony tiba di rumah. Dengan suasana yang mengherankan, dia mendesakku dan mengambil tas yang kubopong kala itu. Sambil mengunyah sesuatu yang ternyata adalah merica merah, dia menyatakan, “Ompu ni Raja Batak”, ucapnya. Di dalam hatiku aku tertawa. “Luar biasa orang ini”, gumamku. Katanya handphoneku akan segera dikembalikan. Mengapa dia harus repot-repot supaya handphoneku kembali. Jelas sekali bahwa dia takut polisi akan terlibat yang kemungkinan akan membawa putranya ke dalam sel penjara.
Di dalam percokolan tersembunyi di atas loteng rumah.

“Ya ampun, orang ini menggelikan. Oalah, udah tas kunyuk tambah kunyuk dengan bau air ludah bercampur merica”, ucap Genie dengan perasaan geli yang melihat tasnya bersimbah merica yang menguar.

“Jauh sebelum itu sudahnya dikembalikan handphonemu”, ujar Lucy.

“Tapi kak, sudah sering kasus kehilangan di rumah ini, dan kami tidak terima kalau kami selalu dituduh orang-orang ini”, ujar Rita dengan sedih mengingat kembali ucapan si nyonya pemilik rumah yang menyatakan bahwa keduanya, Rita dan Utri memiliki tingkat masa bodoh yang tinggi.

“Itulah dek, bukan niat kakak untuk memperpanjang masalah. Tetapi, handphone ini sekarang kakak diamkan dan disimpan di dalam kantung plastik. Siapa tau jika masalah ini diangkat, tetap ada sidik jari si pelaku”, tutur Genie kepada keempatnya.

“Sudahlah kak, kehidupan mereka berbeda dengan kita. Mereka punya kuasa. Kalau masalah ini diperpanjang kak, kita bisa kena dendam dari mereka”, usul Tony.

“Masalahnya dek, laptop-laptop fungsioner sudah berapa kali hilang dari rumah ini. Dan kau juga yang dituduh berkomplotan dengan orang lain di luar rumah ini, masalah ini jangan didiamkan. Dia akan terus merasa sepele akan setiap kasus pencurian yang diulahnya, dek”, sahut Genie dengan tegas.

“Iya, jelas-jelas ini kasus pencurian. Berani sekali di menggerayangi tas orang lain. Masa kita melindungi penjahat, dek. Biar dia jangan sepele sama kakak. Enak kali dia lolos terus”, sembur Lucy.

“Cobalah kakak pikirkan lagi, biar dia yang menerima ganjaran dari resikonya sendiri. Kalau orang tuanya terus menerus menyembunyikan kesalahan anaknya. Nanti mereka tanggung sendiri akibatnya”, ujar Tony.

Setelah cukup lama berdiskusi.
“Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti kencing juga, eh jatuh juga”, oceh Genie.

“Haha, ya sudah lah. Mulai saat ini kita jaga saja masing-masing benda kita. Tingkat antisipasi kita semakin ada”, ujar Lucy memperingatkan lainnya.

Keesokan harinya, aku pun menyatakan bahwa handphoneku sudah kembali hingga terdengar oleh si nyonya pemilik rumah.
“Sudah kembalinya handphonemu kan. Asal kau tau, sudah berapa uangku keluar membayar orang pintar untuk handphonemu itu (padahal lima puluh ribu), itu karena aku gak suka ada orang merasa kehilangan barang dan hilangnya dari rumahku. Jadi maksudku, kau jangan terlalu munafik kalau disuruh ke orang pintar. Di dunia ini gak bisa kau pungkiri ada kuasa duniawi. Jangan terlalu pandang rendah kalau bertanya pada orang pintar”, ujarnya dengan ketus terhadap Genie yang berulangkali merepekkan kata munafik terhadapnya.

Kuingat saja kata-kata ini “Mengalah itu bukan kalah, melainkan menang secara hakiki”

Dengan posisi termangu dan di dalam hati, bagi ku aku hanya mendengar buras bualan orang tersesat. Aku merasa begitu berat untuk berkata-kata dan ingin menutup cuping saja. Bukan bagianku untuk menyatakan bahwa begitu bahayanya bila saja melibatkan kuasa yang lain. Jalan memang berbelengkok, namun janganlah sampai kehilangan arah. Sungguh geruh.

You may also like
[Cerpen] Aku Tertipu

Leave a Reply