Home > Cerpen > Cinta Seasin Madu

Cinta Seasin Madu

Oleh Penny Charity Lumbanraja

Aku rasa, baru aku yang merasakan dada meletup-letup yang terbuai dalam desiran mimpi kosong tak bermakna.
Titik-titik air berhamburan tumpah membasahi pangkal rambutku, mengungkap suasana hati yang terciduk di dalam sari mawar merah berlarut yang membiak sukaku.

Walau aku hanya bermimpi, namun tidak hidup dalam mimpi, pungkasku mengingat kata seseorang.

Walau aku takut bisa saja membagal, namun tak mudah menghempas sedikit saja senyumku kerap berwayang raut wajahmu dari kosongnya otakku.
Kala lintasanmu terpandang. Ah, dari jauh saja enggan melangkah, sebab aku tak berani.

Mendekat apalagi, kurasa angin menghardikku terperangah.

Jika sampai bergamik pada ujung-ujung jemarimu, suhu tubuhku memanas.
Aku pun membidas pada orbit langkahku yang mengarahkanku pada sesat arah.

Tapi, aku tak lupa kembali pada lini arahku sepiku jauh darimu, saking tak sanggup menyembunyikan refleks bidik mataku.

Pupil mataku dapat terbeliak.
Kelopak mataku membuntang melihat sibakan rambutmu.

Berlinang-linang di mata kerasnya menatap kerut senyum di pinggir lekukan pipimu.

Ingin kurasa berteriak dengan bahana tenggelam, sehingga tak terdengar dan tak aneh dilihat orang lain.

Ah, rasa ini tidak milikku saja.
Dan tidak juga jadi bencana untukku.
Aku jadi kikuk dalam pacak gaulku.

Aku terbuyar dalam lantunan gelagatku.
Mulutku terbungkam sesaat menantangku berpikir berbicara sebingkah topik padamu.

Supaya tak sepi, karena kepulan diammu dan bekuan mulutku.

Inginku mengungkap bahasa nuansa hatiku bukan dari kerepek mulutku yang hilang kendali.

Hati yang terbubung dengan rindu akan sentuhan dan senyummu kala saja engkau menatapku.

Tak ingin saat ini berakhir begitu sahaja.
Ingin membuatmu tertunduk menganga dalam untaikan kata tak langsungku.
Ingin setiap butir kataku yang memeronakan pipi cekungmu.

Hanya dari bisikan lewat gemericik angin yang sampai pada cupingmu, sebelum hatiku berkata sendiri tersusun dalam rangkaian yang bukan bualku.

Hanya dalam kuit gamitku memberi makna gerakku.
Sampai kapan cintaku terbuni darimu.
Sampai kapan aku memberi isyarat dalam galur arahku.

Aku hanya menganjur dalam setiap helaan nafasku.

Dalam setiap gasak-gasakan darah di jantungku, aku berusaha tetap tenang.
Aku takut terjatuh mengentak rasaku padamu.

Jika tidak, mengendap di dalam hatiku pun terasa seperti tertindih batu besar memipih ujung sekat dadaku

Kenapa begitu menyakitkan setiap gejolak terasa,
Rasaku tak kuedar pada yang lain, tak ingin manisnya terbagi pada jalur yang lain.

Tulusku tak terungkapkan lewat madu, bunga, gula, dan yang manis lainnya.
Tulusku terbenam di dalam asinnya garam yang kau cicip pada makan seleramu.
Yang berdentum dalam semerbak gelembung liur kunyahanmu.

Begitu kau menikmatinya, begitulah rasanya bantaian hatiku padamu.
Geli rasanya, dalam raut terlihat wajahku darimu.

Tetapi, sungguhpun tidak.
Tak sedikitpun kicuku, helatku ada tersisip dalam bingkai hatiku.

Telah menghunjam benar, kapan mulanya rasaku, aku tak ingat.

Entah mengapa, tetiba, sering memikirkan setiap sengsaramu yang tertutup oleh paras bahagiamu.

Aku menangis kadang tak sampai ungkapan gelombang rinduku padamu.
Ingin ku tiup di dalam gelembung yang mampu melayang ke arahmu dan mengumandangkannya.

Menghantar tulusku yang menghanyutkan hatimu terbawa kepadaku.(*)

Leave a Reply