Home > Cerpen > Durasi Dua Jam

Oleh Pretty Lumbanraja

Aku berterimakasih, menyadari ada saja alibi untuk bisa bertatap penuh denganmu. Aku datang lebih dulu. Berkelebat menembus angin kalbu di balik awan gemawan. Menepis segala inhibisi, menunda decak-decak waktu, menyeringai yang lain. Hanya untuk berjumpa lebih lama denganmu.

Sambil menunggu, kupilih meja ciamik kayu jati bercorakkan gelonggongan, diatasnya ada kotak tisu lembut dan bersih dengan sendok dan garpu di samping kirinya. Wanginya harum, warnanya coklat mudah cerah, mampu menyilaukan pupil mataku yang melebar melihat wajahmu. Ku rasakan desiran angin yang lirih hanya berlalu menyentuh kulit wajahku seolah-olah mengejek mengapa aku selalu menunggumu.

Kutenggak air sebanyak mungkin, mendinginkan gesekan jantung yang memanaskan hati. Panas!, seperti gunung berapi yang siap mengeluarkan lahar yang panas. Tertawa dalam hati, oh ternyata bukan aku saja yang tidak sabar menantimu, hatiku juga. Sambil berkecimpung dengan kisah dulu, terakhir kali kita berjumpa, sepertinya sudah lama, dengan harapan masih sama, senyumanmu masih sama tiap kali melihatku.

Kau datang, aku berniat pergi, mengulang kembali posisiku tadi. Oh ternyata tidak, kau memposisikan dirimu agar aku dapat melihat paras elokmu itu. Satu harapanku tidak sia-sia. Sesekali kita baku tatap, iris mataku yang gagal berfungsi mengecilkan sepasang mataku yang terbelalak melihatmu, dan saat itu bersamaan juga aku merasa seperti bertemu lagi denganmu. Lagi-lagi dua harapanku tidak sia-sia.

Aku menyerah, aku tidak mampu berkamuflase, kenyataannya aku mencintaimu, masih sangat mencintaimu dengan setulus hatiku. Mereka bilang cintai yang membuat dirimu menjadi lebih baik, lebih indah, lebih lembut, lebih penuh kasih, lebih tulus, lebih rendah hati. Aku seperti lebih peka, ada satu tangan mengetuk pintu hatiku sambil berkata, “Aku menginginkanmu bersama dia”. Aku semakin yakin akan suara itu, karena yang ku tahu tanpa kau sadari perangaimu baik terlepas dari sisi yang lain yang tersembunyi.

Kuabaikan kepongahanmu, kuabaikan keluku, berusaha sebaik mungkin sampai aku merasakan dimana titik jenuh itu. Kusapa, kutegur, kudukung,ku songsong dan menyolok sampai kau bosan, sampai kau muak denganku memposisikan diri agar kau tahu betapaku mengasihimu.

Aku suka setiap adegan alam waktu saat ini, menyaksikan perubahan sore ke malam bersamamu, merasakan perubahan suhu hangat ke dingin angin malam bersamamu, menjadi saksi cerita bagi yang lain.

Aku suka sup panas dihadapanmu yang menguar menyentuh wajah tampanmu, aku suka suara paraumu dibingkiskan senyuman datarmu. Aku suka kursimu yang berderit menopang tubuh kurus cungkringmu itu, aku suka sendokmu yang berdenting juga. Aku suka buliran-buliran air jagung yang mengalir di dahimu, aku suka setiap kali kau berdeham. Aku suka tajam-tajam rambut lurusmu, aku suka setiap kali kau menyibaknya.

Hmm, banyak yang kusuka darimu, sampai-sampai aku lupa waktunya bagi kita untuk berpisah, meninggalkan kursi yang sudah panas kita duduki itu, meja kayu jati itu dan kotak tisu yang tersisa.

Selamat tinggal kau wahai pemilik hatiku…

Untuk Sintya dan sejuta kerinduan di hati menantikan dia yang mengabaikannya selama ini…
Sekian…

You may also like
[Cerpen] Aku Tertipu
Sewajan Cinta Instan
Suara Parau untukMu
Kelu
Break The Limit (?)
Pa, Jemput Aku Pulang

Leave a Reply