Home > Cerpen > Kelu

Oleh Pretty Luci Lumbanraja

Fony menenggak sebotol air dingin secara buru-buru yang dibeli di pinggir jalan. Langsung diangkatnya sebuah ponsel yang berdering di dalam tasnya.

“Selamat siang, ini betul Fony yang buat iklan jasa guru private, ini saya Bu Desvita lihat iklan kamu di internet saya berniat kamu ngajarin anak saya, kamu bisa?”

“E,ee, iya bu, saya bisa”, sontak Fony akan salam panjang dari ibu tersebut.
“Biasanya, kamu dibayar berapa, berapa aja yang kamu mau saya bayar deh, asal anak saya jadi pintar!”,celetuk ibu tersebut.

“Anak ibu kelas berapa ya?”, tanggap Fony tetap ramah meskipun ia sangat terkejut.

“Anak saya kelas 5 SD, kamu bisa ngajar apa aja memang? Matematika bisa ga? IPA? Bahasa Inggris?”, tambahnya lagi dengan bicara cepat-cepat.

“Semua mata pelajaran saya bisa bu, masalah itu bisa kita bicarakan nanti bu, sama saya dihitung berdasarkan per pertemuan, sekali pertemuan 1,5 jam bu”, jelas Fony dengan pelan dan ramah.

“Oh, iya udah kalo gitu, kamu nanti datang sore aja ke rumah saya di alamat Perumahan Griya Indah di Jln. Jambu No. 23A“.

“Baik bu, terimakasih ya bu”. Tutup ibu tersebut tanpa membalas salam Fony.

Fony adalah seorang mahasiswa tingkat tiga yang sudah terbiasa mengajar private untuk anak SD, SMP dari pintu ke pintu. Sepanjang perjalanan menuju pulang, Ia teringat akan panggilan terakhir yang ia terima, baru kali ini ia menerima panggilan untuk mengajar dengan cara tersebut, sebelumnya tidak. Ia memang butuh sekali uang untung mengurangi beban keluarga di desa. Namun tidak disepelekan seperti itu. Awalnya ia ragu dan berniat mangkir, bukan ragu dibayar berapa, namun ragu dengan cara-cara yang tidak enak seperti ibu itu. Tapi tidak salah mencoba benaknya, anggap saja ibaratkan seorang anak yang butuh dibimbing dalam belajar, dan ditambah lagi tantangan hidup yang harus dilaluinya juga.

Hidup memang harus seperti itu, harus bisa menembus zona aman, harus semakin banyak bersosialisasi dengan setiap banyak orang, agar tahu karakter dan kepribadian setiap orang masing-masing, agar bisa dijadikan pembelajaran serta pengalaman hidup dan juga sebagai antisipasi untuk menghindari sikap dan sifat yang tidak baik. Akhirnya Fony dengan yakin untuk pergi kesana.

Bel berbunyi, Fony pun masuk setelah pintu dibukakan oleh salah satu pembantu rumah tangga yang berlari terburu-buru dari belakang. Matanya terbelalak melihat rumah semegah itu, lampu-lampu, perabot-perabot mewah, dan guci kuda besar yang terpampang gagah seolah-olah menyambut seorang konsul datang. Lidahnya berkelu, tanpa disadari mulutnya menganga, sontak ia mengatup, dilihatnya seorang anak kecil yang duduk menggurat-garit pensil warnanya sambil terisak-isak. Dilihatnya ke arah pembantu, namun hanya tersenyum tipis seperti mengasihani anak tersebut. Fony langsung menyapa dengan lembut.

“Hai, adik, nama kamu siapa?”. Setelah lama ia menjawab, “Ri, ric, ric”, jawabnya tersengal-sengal. Tiba-tiba anak tersebut meremas tangan Fony seperti berusaha menyembunyikan diri dari seseorang. Fony menoleh ke belakang.

“Kamu ajari ya anak saya, satu tambah satu pun dia tidak tahu, bodoh sekali dia memang, kerjanya melukis aja itu, lukisannya jelek, malu saya punya anak seperti dia, masak selalu aja ranking terakhir, percuma di les-kan terus, heh!”, kata Desvita nada kasar melebih-lebihkan. Fony terkejut, kok bisa ada orang tua seperti itu di depan orang lain, ia meresponi hanya sederhana saja”, baik bu, saya usahakan yang terbaik”.

Fony memandangi anak tersebut. Rasanya seperti dibebankan tanggung jawab yang sangat besar di pundaknya. Bagaimana bisa, ada seorang ibu seperti itu, sangat cerewet dan berlebihan, membunuh keberanian dan tidak menjaga marwah anaknya di depan orang lain, Fony geram dan berniat pergi sama seperti yang dilakukan guru-guru lain yang tidak tahan dengan cara Desvita sepengetahuannya dari pembantu yang baru bersamanya selama dua puluh menit lalu selepas Desvita berlalu. “Ini ga betul, ga betul”, katanya. Tapi dalam lubuk hatinya ia sedih, melihat seorang anak yang hanya menunduk tidak mengangkat kepalanya sedari tadi. Kasihan sekali kamu dik. Terlintas ia menyadari, ini panggilan dalam hidupnya, aku harus coba, anak itu perlu dibimbing!

Fony melakukan pendekatan-pendekatan lembut terhadap Richardo, sebuah nama yang sangat susah payah diketahuinya selama dua minggu itu. Awalnya Richardo hanya menunduk-nunduk saja, lambat laun ia mulai berani mengangkat kepalanya. Sesekali Desvita lewat dengan menyeringai dan melengos. Begitu juga dengan kedua saudaranya yang tidak mau membantu mengajari Cardo. Fony terdiam melengus dadanya.

Cardo sebenarnya anak yang pintar. Daya tangkapnya lumayan cepat. Dasar berlebihan sekali ibunya mengatakan dia bodoh dengan satu tambah satu pun tidak bisa. Cardo juga anak yang lembut, dan pendiam. Jika menjawab pun, suaranya lirih.

“Kamu salah, bukan seperti ini ya”, kata Fony. Cardo hanya tersenyum. “Iya maaf ya kak”. Hanya itu jawabnya.
Fony meyakinkan dan menumbuhkan semangat Cardo kembali. “Cardo, sebenarnya kamu anak yang pintar dek,salah itu biasa ya, dari kesalahan kita banyak belajar, yakinlah, kamu pasti juara”, berulang-ulang katanya sambil mengelus pundak Cardo.
“Iya kak”, jawab Cardo.

“Cardo, lukisan kamu bagus sekali, karya-karyamu bisa tuh dibingkai dan dipajang di kamar”, tambah Fony mengingatkan terus. Cardo pun tersenyum.

“Cardo, kamu jangan sedih ya kalo mama marah sama kamu, itu karena mama sayang samamu dan pingin kamu pintar, melukis boleh tapi jangan lupa belajar ya”. “Iya kak”, syukurlah Cardo meresponnya baik. Anak sekecil itu tidak boleh membenci ibunya hanya karena hal ini, pikirnya.

Fony bersyukur, bisa mengajari Cardo. Banyak perubahan yang terjadi pada anak itu setelah tiga bulan dibimbing. Rankingnya meningkat drastis menjadi dua belas. Cardo pun juga menjadi lebih ceria. Tanggung jawabny selesai saatnya bagi dia untuk berpamitan.

Jujur Cardo sedih saat ia tahu Fony akan berhenti mengajarinya lagi seperti biasa. Namun apa mau dikata.
Fony pun menjumpai ibu Desvita selalu dilakukannya seperti biasa dua minggu sekali sesuai dengan harapan Desvita. Bagaimanapun ia tetap mengharapkan perkembangan Cardo, anaknya menjadi lebih baik.

Fony mempelajari, sebenarnya Ibu Desvita adalah baik. Tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab besar yang diembannya membuatnya seperti itu. Selepas kepergian suaminya 3 tahun lalu, Desvita memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan, dan pendidikan anak-anak sehari-hari. Kenyataan bahwa Cardo hanya melukis saja dirumah membuatnya marah dan melepaskan kekesalan dan kepenatannya di rumah. Imbasnya ya anak-anak. Jujur, mereka bertiga pun sebenarnya kekurangan kasih sayang, wajar menjadi seperti itu.

“Bu, ini laporan bulanan Cardo, peringkatnya sudah meningkat”.
“Oh, terimakasih ya”, katanya dengan ramah.

Fony memberanikan diri menambahkan, “Bu sebenarnya Cardo pintar, ia tidak bodoh, ia bisa belajar mandiri sekarang, ibu jangan seperti itu lagi padanya, itu membuatnya lebih pesimis dan penakut”.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?”, respon Desvita.

“Iya bu, saya sudah mengajarinya selama ini, Cardo memang hobi melukis, ia tidak bisa dikekang bu. Juga Cardo anak yang baik bu, ia mulai ceria lagi. Saya minta maaf sebelumnya bu, bukan saya menasehati ibu tapi inilah yang diharapkan Cardo. Ia berharap ibu mendukungnya dengan lembut”, kata Fony dengan berani namun sedikit gugup, tangannya bergetar. Ibu Desvita hanya diam. Matanya berkaca-kaca melihat raport bulanan Cardo. Air matanya berlinang. Ia menyadari caranya yang tidak memperlakukan Cardo dengan baik selama ini.
Setelah lama kemudian.

“Iya, saya sangat berterimakasih ya, saya terima saran kamu, kamu tetap temani Cardo ya belajar disini, jangan berhenti meskipun dia sudah lebih baik, saya butuh kamu temani anak-anak disini, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu”, respon ibu Desvita meraih tangan Fony.

Sontak Fony berkata, “Baik bu, saya siap”.

Sekian…

You may also like
[Cerpen] Aku Tertipu
Sewajan Cinta Instan
Durasi Dua Jam
Suara Parau untukMu
Break The Limit (?)
Pa, Jemput Aku Pulang

Leave a Reply