Home > Cerpen > Pria Air Pancur

Pria Air Pancur

Oleh Penny Charity Lumbanraja

Aku harus pindah dari kehidupan terpuruk ini. Lingkungan lama yang tidak cocok dengan diriku, bukan karena sensasi fisik tetapi nuansa keadaan yang tidak klop dengan hati yang mungkin dapat mengganggu psikis. Orang-orang di lingkungan ini pemikirannya cukup beku dan statis. Padahal sekuleritas memaksa diri untuk peduli pada kondisi yang tidak dituntut untuk mengerjakan suatu hal yang masif. Masih hal yang biasa-biasa saja. Kebersihan, kepedulian kurang dibekali oleh orang tua terhadap anak-anak di lingkungan ini. Mau turut andil, tetapi apa daya.

Persepsi lebih dahulu mengintai. Disangka gagal mendidik, padahal sedang mengerjakan ajaran budaya timur untuk punya jiwa sosialisme yang tinggi. Katanya mesti peka dan peduli, tetapi karakter tak bisa ditolerir, tak terdimensi. Jadi, mengalah sajalah.

“Aku mesti pindah dari lingkungan itu”, gumam Rossy dengan helaan nafas penuh lelah di atas aspal hitam yang hangat dengan rebahan tubuh mungilnya dan melihat ke arah langit-langit sebelum melanjut lari sore dengan langkah kecilnya. Sungguh pemadangan yang indah dan tidak mudah dicari di kota besar ini.

Pemandangan dengan buaian angin sore sungguh menyegarkan pikiran yang cukup penat dari layar monitor komputer yang sangat menyilaukan mata yang monoton dikerjakan setiap hari. Tubuhnya yang kecil tetapi harus dipikul di pundak mungilnya dan beratnya buku-buku perkuliahan di dalam tote-bag yang mesti dijinjing sendiri. Sungguh, apa sudah tiba waktunya menjadi suatu kebutuhan bagi Rossy akan seseorang mau menemani dan mendengarkan setiap keluhannya secara pribadi. Cukup mendengarkan saja, tak dituntut untuk memberi solusi. Mengingatnya beratnya tuntutan sosial yang membuat dirinya jenuh untuk melaluinya secara mandiri. Teringat akan ucapan Berry, teman pria perkuliahan yang sudah dianggap saudaranya sendiri.

”Ros, sudah tepat waktunya bagi kamu untuk mengatakan yang sejujurnya padanya”, membuatnya cukup geli pada diri sendiri kala saat dia melakukan hal seberani itu. Hal mengungkapkan perasaan seorang wanita terhadap seorang pria yang dia sukai.

“Ah, apa aku tidak senaif yang kau nilai, aku hanya seorang wanita yang mengagumi seseorang yang mungkin aku lihat perspektif dari dirinya itu baik, menurutku sih Ber”, ujarnya kepada Berry waktu itu sambil berjalan bersama menuju parkiran motor saat hendak pulang dari jam perkuliahan malam.

“Itulah yang saat ini kau lihat Ros dari dirinya. Kau hanya mengenalnya dari komunikasi singkat kalian berdua selama ini, tetapi janganlah terlalu lama berteman dan berkomunikasi yang tidak sewajarnya untuk kalian miliki dalam waktu yang tidak sebentar kalian lalui, jangan sampai kalian berdua berada pada zona teman”, tutur Berry terhadapnya.

“Ah, kau ini, aku gak menuntut yang lebih kok. Aku gak menuntut apa-apa darinya. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat Berry. Aku tidak mungkin seberani itu. Aku ini wanita loh”, ujarnya.

“Aku disini hanya menolong perasaanmu saja Rossy, karena kulihat kau terlalu mengaguminya. Eh, entahlah, hanya dirimu yang tahu sih”, ujar Berry dengan serius.

”Entahlah Berry, aku cukup beresiko kalau membilangkan hal itu kepadanya”, ujar Rossy menunduk dengan gumam pelan.

“Hal apa yang engkau akan nyatakan padanya?, Hey Rossy, kau hanya perlu jujur saja dengan perasaanmu, itu saja. Nah, setelah itu, buatlah komitmen di dirimu sendiri, coba lihat dari pandangan yang lain, bahwa kau hanya perlu tegas dengan perasaanmu sendiri. Bukan agresif, naif atau hal yang lainnya. Aku membantumu melihat dari pandangan yang positif Rossy, supaya lega perasaanmu saat ini. Jika tidak darinya, ya sudahilah perasaanmu itu”, nasihat panjang Berry terhadap Rossy dengan laju kendaraan yang berdampingan hingga di persimpangan tempat keduanya dengan arah berbeda.

“Iya sih Ber, maaf sudah membuatmu geram padaku, aku pasti punya banyak pembelajaran nantinya. Aku harus tahu dengan jelas bahwa dia akan jelas menolakku, kan”, tuturnya dengan nada merendah.

“Betul itu, ambil kesimpulan yang pahit saja, tegaslah Rossy. Jawabannya hanya Ya, atau Tidak. Itu saja, Ok. Supaya kembali lagi cara berpikirmu yang rasionalisme. Aku tahu dirimu Rossy, wanita itu jadi lemah kalau sudah menyukai seorang lawan jenisnya. Bisa dibilang bahasa dunianya itu, kau itu jatuh cinta padanya”, ujarnya hingga tiba di persimpangan tempat keduanya berpisah arah dan berhenti sejenak.

“Trims untuk saranmu, Berry. Semoga kata-katamu bisa membuka kembali kesadaranku”, ujar Rossy kepada Berry sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit yang kelihatannya tidak terlalu banyaknya hamparan bintang.

“Iya Rossy, aku pernah baca suatu artikel. Apabila seseorang sedang berada pada fase menyukai seseorang yang lawan jenisnya, ketika ia melihat suatu kotoran, yang ia lihat itu bukan kotoran, tetapi bunga mawar. Hahaha, oke baiklah, Rossy, ini sudah malam. Sebelum pintu gerbang kost ku ditutup, aku harus segera pulang. Segeralah eksekusi dia ya”, sahut Berry dan teringat ia kala itu akan ejekan dan ledekan kecil Berry padanya waktu itu.

Jam sudah menunjukan kira-kira pada pergantian waktu sore ke malam. Sewaktu melintasi ramainya komplek pelarian, di pertengahan komplek, terdapat bangunan air pancur yang cukup indah terlihat sehingga ramai dikunjungi orang-orang di waktu malam. Ditambah kerlap-kerlip lampu jalan trotoar yang dikelola oleh pihak residen yang menarik hati para pengunjung. Rekreasi ringan yang tidak mengocek biaya. Secara tidak sengaja, Rossy berjumpa dengan si “Uka-uka”, julukan yang ia berikan kepadanya. Pria yang ia sukai di bangku jurusan yang berbeda, fakultas yang berbeda namun pada kampus yang sama. Rossy berjumpa dengan si Uka-uka pada salah satu unit organisasi seni teater tempat ia berhimpun.

“Ah, mengapa dia ada disini. Bukannya ini bukan jadwal dia berlari sore, aduh bagaimana ini”, gerutunya dari kejauhan sambil mengintip di balik pos keamanan residen.

“Ada apa mbak”, tanya salah satu pihak keamanan yang agak terusik pandangannya dari sinema elektronik yang dia tontoni.

“Hah, gak ada apa-apa, Pak. Abaikan saja saya, Pak”, ujarnya kepada Bapak keamanan.

“Tapi mbak kelihatannya khawatir sekali, apa ada yang perlu diamankan, mbak?. Kelihatannya di sebelah sana mengusik mbak”, tanya si Bapak dengan penasaran.

“Gak ada apa-apa kok Pak. Semuanya aman-aman saja”, ujarnya sambil melangkah menjauhi si Bapak keamanan yang banyak bertanya padanya.

Setelah meraih tempat yang lain untuk bersembunyi, dengan perasaan meletup-letup di dada.

“Ah, masa aku harus berjumpa dengannya di tempat ini. Kok bisa dia ada di sini, hari ini bukannya jadwal dia berlari sore”, ujarnya dengan nada pelan.

Dengan terpaksa Rossy menunggu agak gelapnya langit sore karena tidak adanya jalan lain baginya untuk dilalui supaya dapat menghindar dari si pria yang ia juluki “Uka-uka” itu.

“Sudah cukup gelap, sepertinya pria itu sudah pulang”, gumamnya dengan langkah intainya yang sembunyi-sembunyi. (*)

Leave a Reply