Home > Cerpen > Sewajan Cinta Instan

Sewajan Cinta Instan

Oleh Pretty Luci Lumbanraja

EDO menguap lebar. Mulutnya menganga seperti singa kelaparan, gigi-gigi kecilnya yang berlapis-lapis menguning mundur ke belakang sampai kelihatan. Matanya sayup-sayup. Pandangannya pun buram.

Ia duduk di baris ke tiga kolom pertama. Samping kirinya jendela kaca bening langsung mengenai halaman belakang sekolah yang ditanami bunga. Sesekali diliriknya ke kiri sambil menguap karena bosan dengan pengajaran di kelas.

Tetap juga pemandangan itu tidak menyegarkan pikirannya. Tidak disadarinya Pak Tarso sudah melirik dengan wajah seringainya sedari tadi. Pak Tarso berdeham berkali-kali. Dehemannya itu tidak cukup mengode mulutnya yang menguap sedari tadi.

Udara pagi ini sangat segar. Membasahi bunga-bunga di sekitar koridor dipan kelas. Bukan karena disiram oleh pekebun sekolah, karena beliau tidak nampak sudah tiga hari ini.

Les ketiga mata pelajaran matematika, baru jam 10.00 WIB saja Edo sudah mengantuk berat. Perhitungan penentuan kelipatan persekutuan kecil dan faktor persekutuan terbesar tidak masuk ke otaknya lagi. Lambat laun matanya mulai menutup, dan tersentak ia menerima teguran dari pak Tarso yang sedari tadi sudah tak tahan dengan tingkahnya.

Apa gerangan, masalahnya tidak mata pelajaran itu saja ia mengantuk, tetapi yang lain juga. Lagi pula bulan ini tidak ada jadwal turnamen sepak bola di televisi. Lagian untuk anak sekecil itu baru kelas 6 SD apa mungkin sudah menyaksikan setiap turnamen di depan layar kaca televisi. Apabila jam istirahat telah tiba, ia tertidur. Tertidur pulas hingga sulit dibangunkan. Air liurnya yang berseliweran membasahi buku tulis matematika dan pipanya.

Tubuhnya tidak bersemangat seperti kurang gizi, tapi tidak kelihatan disembunyikan perut buncitnya yang berlipat-lipat melingkar di celana yang tidak bertali pinggang lagi dan pipinya yang amat tembem menggantung seperti seonggok daging sapi perah. Sangkin gemuknya menutupi kelopak mata bagian bawah. Bentuk tubuhnya yang gembrot itu tidak karuan.

Edo berjalan terseok-seok. Matanya memerah. Ingusnya meleleh. Ditarik-tariknya berkali-kali seperti terisak-isak. Ia pun langsung pulang ke rumah setelah pelajaran usai untuk membayar sisa tidurnya yang tidak lunas di sekolah seperti biasa setiap hari.

***
SUMI merinding sendiri. Dielus-elusnya bulu tengkuknya yang berdiri otomatis menyaksikan hal terhoror ini setiap hari. Tiga sendok makan MSG dan tiga bungkus bumbu penyedap rasa buatan yang mendarat di permukaan sambal cabe ulekannya. Belum lagi bumbu-bumbu buatan di sup ayam potong eropa dan sayur lodeh buatannya itu.

Jangankan mau makan, mencium uap sup yang mengepul saja perutnya sudah mau muntah. Kepalanya pening. Dadanya sesak. Matanya perih seperti disembur gas air mata. Dalam hati, “Ibu ini mau ikut campur saja dengan urusanku di belakang ini”.

Hal ini yang memang dihindarinya setiap kali masak. Perasaannya mau berjingkat-jingkat tiap kali nyonya besar menyuruhnya masak sendiri tanpa dibantu. Tapi tetap saja, percuma, Sumi tidak sanggup mengelakkannya. Nyonya pasti berlari ke belakang memasukkan bungkusan-bungkusan itu ke masakan Sumi sebelum makanan dihidangkan.

Sumi sudah jago menyembunyikan wajah seringainya tiap kali mendengar masakan nyonyanya itu dipuji-puji sangatlah enak.

“Papa mau tambah?” Biar Mama ambilin,” katanya bangga melihat suami dan anak-anaknya yang lahap makan. “Adek mau tambah juga?”

Suaminya selalu manggut-manggut sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutnya. Ketiga putranya pun juga begitu. Sepiring nasi tambahan lagi dihidangkan tanpa memerhatikan ukuran perut yang sudah muntah-muntah.

Sarapan pagi, makan siang, makan malam begitulah setiap hari. Sumi bergidik. Sudah berapa kilo racun menumpuk di badan mereka itu. Ia hanya makan telur mata sapi saja dibarengi irisan tomat dan timun muda tiap kali perutnya minta diisi.

Kalo tidak selera, dicampurnya kerupuk jangek yang harganya enam ribu rupiah saja untuk makan tiga hari. Kadang-kadang lauk ikan asin kering, atau gembung asin yang dibelinya tiap ada sisa belanja lima ribu rupiah.

Bukan bawang merah diperbanyak, juga bukan bawang putih. Supaya pedas bukan cabe merah atau rawit ditambahi, tapi saus botol instan. Ditambah lagi bungkusan-bungkusan instan mengkilat yang menggantung berkiloan dekat rak bumbu.

Jangankan bumbu penyedap, merica, kemiri dan santan kelapa saja pun instan juga. Bagaimana bisa seorang ibu seperti ini? Menyuapi racun pada keluarganya kian menahun.

Hanya supaya terlihat enak di lidah saja tanpa mengasihani kerja ginjal yang lelah menyiksa dan saraf otak yang lambat laun akan memutus.

Di sisi lain mau tak acuh, Sumi tak tega. Mau ditegur, pasti onggokan omelan dan bawelan yang terdengar nanti. Kuping Sumi tak tahan lagi mendengarnya. Ia sudah tua, mendengar perintah saja yang berulang-ulang kali ia tidak tahan lagi.

Akhirnya ia memilih untuk bungkam melihat nyonya besar itu tersenyum lebar dengan eksperimen-eksperimen aneh di atas wajan dan pancinya. Dalam hati ia hanya berdoa, “Semoga sehat-sehatlah keluarga ini”, sambil mengelus-eluskan dada dengan tafakurnya. (*)

You may also like
[Cerpen] Aku Tertipu
Durasi Dua Jam
Suara Parau untukMu
Kelu
Break The Limit (?)
Pa, Jemput Aku Pulang

Leave a Reply