Home > Cerpen > Suara Parau untukMu

Suara Parau untukMu

Oleh Pretty Luci Lumbanraja

Suara Parau untukMu
Luci berlari ke arah rumah. Pintu gerbang sudah menganga lebar. Sontak ia mendapati sahabatnya tidak ada di teras samping rumah. “Kalian di rumah, tapi mengapa gak mengawasi di depan”, katanya meringis, tidak mencak-mencak, dan juga tidak berkelebat kepada dua orang yang tersisa. Saat itu ia baru keluar bersama adiknya selama empat puluh menit karena keperluan mendadak pemilik rumah dengan sepeda motor si pemilik rumah juga.

Tidak percaya dengan kenyataan, ia masuk dan mencari kuncinya dengan asumsi, mana tahu ada yang pakai tanpa sepengetahuannya. Ternyata tidak, kunci masih di posisi semula, di atas meja.

Dengan sangat yakin setelah memutar balikkan otaknya pasti ada maling yang mencuri. “Gak iya, udah hilang, udah hilang ini”, katanya berulang-ulang sambil mengusap wajahnya. Hatinya tercabik-cabik, kesayangannya telah sirna, direnggut habis darinya. Terlihat di TKP tampak bekas-bekas kasar tepat di atas posisi motornya digerayangi.

Buru-buru ia pergi kesana-kemari mencari motornya sambil bertanya-tanya pada orang sekitar. Saat itu, ada salah satu pria yang melihat kejadian itu. Ia sempat curiga, ketika pria ber-tato tersebut mendorong sebuah sepeda motor secara buru-buru, ia mengira bahwa motor itu habis bensin. Ternyata tidak, karena si maling tidak singgah mengisi bensin tepat di sebelah rumah saksi.

Empat orang teman dikerahkan bersama dengan orang sekitar yang lain tersibak mencari sampai di tanah garapan, lorong-lorong dan ke tempat-tempat lain.

Tak lama kemudian, ia pulang terhuyung-huyung setelah mencari menghabiskan waktu hampir empat jam. Perutnya lapar namun tidak selera untuk diisi. Kerabat rumah menyarankan untuk bertanya ke orang pintar. Sontak, Luci dan adiknya terkejut. Lidahnya berkelu tidak sanggup mendengar hal itu. Kakinya terasa berat, bagaimana mungkin aku menghianatiNya dengan percaya pada hal-hal takhayul si Ompung Ni raja batak. Walaupun pikiran sudah panik dan kacau balau, dengan yakin mereka menepis”, tidak”, kata ku berkacak.

“Mengapa kalian seperti itu, kita kan tidak berbuat jahat, tidak salah kita bertanya, lagi pula kita tidak melakukan kesalahan disini”, katanya pongah menguatkan meyakinkan.

Keduanya baku tatap, jujur hati lebih sedih mendengar pernyataan tersebut dibandingkan meratapi kenyataan kemalangan ini. Luci terdiam, ia tidak mau memekakannya dan tidak mampu berkata-kata lagi.
***

“Jangan lakukan itu ya nang, nanti marah Tuhan”, kata suara laki-laki dari balik ponsel genggamannya.
“Iya pak”, jawabnya terisak-isak.

“Lebih terkejut lagi bapak menerima kenyataan bahwa kau boru jatuh pingsan karena kecelakaan dari atas motor itu. Jangankan motor yang hilang, nyawapun sekarang bisa hilang. Sudahlah nang, aku tidak menyalahkanmu, doakanlah bapak dapat rezeki sehingga bisa menggantikan motormu, janganlah lagi bersedih, laporkanlah ke kantor polisi”, kata bapak dengan tenang.
Luci menangis. Air matanya mengalir deras, terharu setelah mendengar pernyataan itu. Ia memutuskan untuk datang besok.

Dapat pun atau tidak dapat, diproses ataupun tidak diproses yang penting melapor. Hanya ini yang bisa dilakukan, tetap percaya saja pada pihak yang berwenang. Siapa tahu sepeda motor itu digunakan untuk tindak kejahatan jika suatu saat nanti tertangkap, pemiliknya tidak tersangkut-paut.

Luci mengunci pintu kamarnya. Ia terus menangis mengingat sepeda motor yang sudah bersama dengannya selama ini yang ia gunakan kemanapun telah hilang.

Andai dia punya mulut, dia pasti bilang “kenapa aku tidak bersama kakak itu lagi? Dia memperlakukan ku lembut, dia merawatku, dia memperhatikanku, aku sudah bersama dengannya selama enam tahun ini, kenapa aku sama orang lain?”, bukan nilai nya, jujur, dia temanku kemanapun selama ini.

Bukan terlalu sentimentil dan melankolis tapi siapa saja yang kehilangan pasti sedih meskipun itu sebuah sandal jepit yang selalu dipakai melangkah kemana-mana. Ia menutup matanya dan berdoa sambil menangis dengan lirih, “Tuhan, aku tahu semua yang Kau kasih padaku itu adalah kepunyaanMu, dan kapanpun saja Kau pasti bisa mengambilnya.

Tuhan Kau tahu aku membutuhkannya untuk sekolahku, aku mensyukurinya selama ini, jika memang Kau mau mengambilnya dariku, tidak apa-apa Tuhan, namun bantu aku untuk meikhlaskannya dan jangan sampai aku tersesat dengan mendewakan harta duniawi yang fana, namun jika Kau mau itu bisa kugunakan lagi dengan sebaik mungkin, kirimkanlah malaikatMu untuk mengantarkannya kembali. Aku membutuhkannya Tuhan, juga Tuhan atas apa yang kami alami belakangan ini dan bahkan hari ini ajari kami lebih peka terhadap suaraMu agar kami yakin bahwa Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik buat kami. Kini aku berserah Tuhan”. Hujan di hatinya reda. Luci membuka matanya dan tersenyum. Ia mahfum dengan kenyataan dunia yang semakin bringas. Butuh dua hari saja ternyata baginya untuk ikhlas.
Sekian…
22ndMay

You may also like
[Cerpen] Aku Tertipu
Sewajan Cinta Instan
Durasi Dua Jam
Kelu
Break The Limit (?)
Pa, Jemput Aku Pulang

Leave a Reply