Home > Cerpen > Surat Untuk Sahabat

Surat Untuk Sahabat

Oleh Rina Silaban

Dear Alfrina,,,

Masih bisa dengan jelas kugambarkan dalam benakku bagaimana awal kita bertemu, bagaimana kita mulai saling mengenal satu sama lain, bagaimana kita mulai saling percaya, dan juga bagaimana kita memulai pertengkaran demi pertengkaran yang membuat kita lebih mengenal satu dengan yang lainnya. Tidak butuh waktu yang lama, untuk saling percaya ataupun saling berbagi kisah dan kasih, setiap hari selalu dihiasi kisah-kisah yang membuat kita lebih mengenal. Aku yang bukan siapa-siapa diperkenalkan dan dibiarkan masuk dalam lembaran ceritamu, aku mendapatkan sosok yang selama ini aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya saat aku mendapatkannya. Dan melalui kamu, keinginan itu bisa kualami sendiri. Terima kasih,,,

Entah berawal dari mana, dan kapan tepatnya aku juga tidak begitu menyadarinya bagaimana kita bisa mengerti satu dengan yang lainnya dengan baik. Apa yang kurasakan pasti dapat juga kamu merasakannya dengan baik. Sahabat, mungkin bukan lagi sekedar sahabat, tepatnya saudara. Tak peduli siapa yang sulung atau yang bungsu, karena pada waktu-waktunya kita punya dan pernah memainkan kedua peran itu. Telah banyak kisah yang telah terukir, bukan tidak ada duka ataupun sakit hati, namun aku percaya itu semua adalah bumbu yang membuat hubungan itu semakin dalam dan aku yakin tidak akan  ada luka yang terpendam di hati.

Sembab di matamu bukan tanpa alasan ataupun bukan semata-mata hanya karena jauhnya jarak yang akan memisahkan kita atau lamanya waktu yang akan berlalu untuk kita dapat bertemu kembali. Masih sangat jelas tergambar di ingatanku saat kamu melambaikan tangan waktu itu, bahkan semua obrolan masih saja terekam baik dalam benakku. Tentu saja aku merekamnya dengan jelas, karena aku juga tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranmu kala itu. Satu sisi kamu paham kenapa aku harus pergi, karena kamu juga salah satu yang ikut ambil alih dalam setiap proses sampai kesini, sama-sama kita berbagi dan saling mendoakan untuk visi masing-masing. Kamu juga tahu pasti langkah ini adalah langkah awal yang harus ku jalani demi cita dan harapan yang selama ini telah kita nyatakan kepada-Nya. Namun aku juga mengerti betul apa yang sedang kamu kuatirkan, karena aku juga demikian. Bagaimana bisa aku bisa mengambil langkah itu dan memutuskan dengan mudahnya untuk pergi, karena seharusnya aku tidak perlu jauh-jauh dari mereka, kamu mengerti dengan jelas bagaimana keadaanku.

Beberapa lama disini, aku begitu jarang memberi kabar ataupun menanyakan kabarmu. Mungkin aku terlalu sibuk dengan hal-hal baru disini, atau mungkin itu hanya sebuah alasan. Entahlah,,

Namun suatu hari kamu bercerita bahwa kamu begitu kuatir dengan keadaanku, aku hanya menjawab “aku baik-baik disini, tidak pelu kuatir”. Namun sebenarnya aku begitu rindu denganmu. Aku rindu waktu dimana kita bisa cerita panjang lebar, aku rindu dikala aku bisa meluapkan semua yang dihatiku kepadamu, dan aku rindu candaanmu. Namun rindu hanyalah rindu, dan yang lalu sdah jadi kenangan. Aku hanya berdoa dan berharap di kemudian hari aku bisa bertemu denganmu.

Al…..

Kamu tahu, disini aku banyak belajar. Disini aku banyak di bentuk. Dibentuk lebih lagi menjadi seorang pribadi yang kuat dan teguh serta punya belas kasih terhadap anak-anak. Bukan itu saja, aku jauh lebih baik mengenal diriku dibanding yang sebelumnya. Aku mulai mengerti betapa berharganya aku di mata Tuhan. Aku juga tahu bahwa tak satupun dari ciptaan-Nya yang tidak berharga. Di tempat ini aku tahu begitu banyak kisah yang begitu membuatku bersyukur dengan keadaanku. Banyak orang yang kisah perjalanan hidupnya tidak seberuntung kita. Dan melalui kisah itu juga aku lebih tahu lagi bahwa Tuhan itu maha baik dan maha kuasa. Mengingat setiap kisahku, betapa aku tidak bersyukur selama ini dengan apa yang aku miliki.

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ku perbincangkan denganmu,, aku ingin bercerita tentang gemerlap cahaya lampu yang hampir tiap malam aku melihatnya. Meski tiap malam, namun mataku tak pernah bosan untuk memandangnya, karena setiap kali aku melihatnya aku merasa ada sebuah cerita yang tergambar dibenakku, dan itu membuatku selalu memandangnya. Aku harap kita dapat melihatnya bersama-sama disuatu waktu nanti.

Aku tahu kisah ini belum selesai, dan aku masih menyimpan segudang cerita yang ingin kubagikan denganmu, jika nanti kita bertemu. Namun tak usah begitu penasaran, aku akan membagikan penggalan-penggalan kisah itu hingga nanti kita bertemu. Dan inilah salah satu penggalan yang bisa kubagikan untukmu, yang terkasih. Terimakasih untuk waktu-waktu yang telah terlewati bersama.

kadang kala kita mengerti betapa berharganya waktu-waktu yang lalu saat kita telah berjalan jauh ke depan” 

 

Penulis adalah seorang guru di Pesat

Leave a Reply