Medan, Sorotdaerah.com –  Kematian Jonathan, bocah silver yang ditabrak truk minggu lalu, menjadi peringatan kepada Pemko Medan untuk lebih serius melindungi anak selama pandemi COVID-19.

Jonathan yang baru berusia 10 tahun, seharusnya berada di rumah mengikuti Program Belajar dari Rumah (BDR) bukan berada di jalanan.

“Kematian Jonathan juga menyiratkan adanya satu persoalan dalam penanganan perlindungan anak di Kota Medan yang harus dibenahi secara komprehensif dan menggunakan pendekatan berbasis hak anak,” terang Muhammad Jailani, MA, Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK-PUSPA) Kota Medan melalui keterangan tertulis kepada media di Medan, Selasa (9/9).

Jailani lebih lanjut mengatakan tidak hanya faktor kesulitan ekonomi yang memaksa anak mencari uang di jalanan selama masa pandemi. Faktor belum efektifnya penyelenggaraan BDR di Kota Medan ikut mempengaruhi.

Hasil penelitian Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) di Medan dan Deli Serdang, menunjukkan dari 227 anak yang menjadi responden, hanya 66,51 persen yang mengikuti BDR, sedangkan 33,49 persen sama sekali tidak belajar karena tidak memiliki sarana belajar seperti ponsel android.

Akan tetapi meskipun anak memiliki ponsel android dan kuota internet, ternyata tidak semua anak aktif belajar setiap hari. Dari 125 siswa yang memiliki ponsel Android, hanya 29,60 persen yang setiap hari mengikuti pembelajaran, sedangkan sisanya 70,40 persen pernah absen beberapa kali.

Penelitian ini juga menemukan bahwa guru masih sering memberikan tugas-tugas yang membosankan. Penugasan dari guru tidak selalui diikuti dengan diskusi yang intens antara guru dan siswa.

Bahkan guru jarang sekali menghubungi siswa untuk bertanya tentang pemahaman siswa akan materi pembelajaran, termasuk menanyakan kondisi psikologis siswa. “Siswa yang bosan dengan model pembelaran seperti ini dan tidak terpantau oleh orang tua dan guru, memilih untuk bermain atau bekerja yang diantaranya turun ke jalan,” tegasnya.

Pemko Medan diminta serius mencegah anak turun ke jalan menjadi manusia silver. Salah satunya dengan memastikan semua anak aktif belajar dari rumah. Pemko Medan harus mendesain model pembelajaran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan menyenangkan anak.

Hal ini bisa dimulai dengan melakukan pemetaan situasi belajar anak di rumah. Pemetaan ini harus menjangkau semua anak pada semua level pendidikan di sekolah negeri dan swasta. Hasil pemetaan ini menjadi landasan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan model pembelajaran.

Penguatan sektor ekonomi keluarga perlu dilakukan, terlebih di masa pandemi. Penguatan ini harus tepat sasaran baik melalui bantuan langsung, pelatihan untuk orangtuanya atau diberi peluang agar bisa memperoleh pekerjaan yang layak. Usaha penguatan ini diharapkan dapat menutupi kebutuhan keluarga.

Selain itu pemerintah juga harus memastikan penambahan dan penataan ruang-ruang terbuka di kota Medan untuk dapat diakses oleh anak-anak di seluruh sudut kota Medan.

Jailani mengatakan perlunya komitmen, konsistensi dan sinergi dari para pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang ramah, aman dan nyaman untuk anak. FK PUSPA bersedia bekerjasama dengan Pemko Medan agar kasus kematian Jonathan tidak terjadi lagi di kota Medan. (Redaksi)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan