Home > Daerah > Polisi Promoter dan Tantangan Abad 21

Polisi Promoter dan Tantangan Abad 21

Oleh Jon Roi Tua Purba
Inilah abad 21. Kemajuan teknologi tak hanya membawa kemudahan, tetapi juga mudarat. Orang sekarang mudah sekali melaporkan orang lain. Berkomentar miring atau sebar hoaks di medsos juga gampang sekali dipolisikan. Jika semua orang ditangani dengan pendekatan hukum, penjara bisa penuh. Di sinilah dibutuhkan polisi-polisi abad 21. Polisi yang memiliki keterampilam literasi tinggi, yang punya metode dan strategi serta pemecahan masalah lebih komprehensif.

Contoh Kasus
MASIH ingat kasus Surya Hardiyanto yang diburu tim gabungan Ditreskrimsus, Cyber Crime, Jahtanras Ditreskrimum, Subdit Keamanan Negara dan Polres Deli Serdang? Ia diburu dan ditangkap bahkan sudah jadi tersangka hanya gara-gara menyiarkan komentar hoaks di Facebook. Ia menyebut, kasus teror ke Markas Poldasu yang menewaskan Aiptu Martua Sigalingging, bukan terorisme melainkan masalah utang-piutang. Ia juga menuding baik korban maupun pelaku sama-sama beragama non muslim. Tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. Atas perlakuan “bodohnya” ia pun harus menjalani serangkaian pemeriksaan ketat bahkan kini mendekam di sel penjara. Padahal ia seorang pengusaha kargo di Bandara Kualanamu.

Kasus teranyar, Kaesang Pangerap, anak Preside  RI Jokowi dilaporkan ke polisi atas tuduhan menista agama karena mempublish video blog (vlog) tentang anak-anak yang teriak bunuh Ahok dengan komentar “Ndeso”.

Kasus lebih dekat, Bangun Prima Ekapersada, mahasiswa Geografi Unimed terpaksa dipecat oleh Rektor Unimed, karena hasil debatnya di inboks media sosial Facebook dicapture seseorang. Lalu capturean itu menjadi viral. Dalam chatnya dengan seseorang, Prima ini menjelek-jelekkan Nabi Muhammad SAW. Itulah menjadi jerat yang membawanya ke penjara.

Baik kasus Surya Hardiyanto, Kaesang Pangarep, maupun kasus Prima, semuanya melibatkan orang-orang berpendidikan. Mereka juga bukan orang-orang yang selama ini punya catatan kriminal. Namun kenapa mendadak berurusan dengan polisi?

Inilah abad 21. Kemajuan teknologi tak hanya membawa kemudahan, tetapi juga mudarat. Orang bisa begitu mudah berkomentar di media (baik media cetak, media online maupun media sosial). Kebebasan yang kebablasan bisa menjerat seseorang atau kelompok jatuh jurang proses hukum.

Betul, sekarang ini, polisi telah membuka corong layanan bagi masyarakat untuk melapor. Melalui aplikasi Polisi Kita Sumatera Utara,  masyarakat semakin mudah mengirim laporan aduan, dan aduan itu cepat direspon polisi. Masyakat tidak lagi harus mendatangi kantor-kantor Polsek terdekat demi melaporkan kasus yang menimpanya. Dan harus menghadapi sistem birokrasi di kepolisian yang belum lancar-lancar amat.

Bisa kita bayangkan jika warga harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk ke kantor Polsek demi melapor. Maka aplikasi Polisi Kita sangat membantu. Jarak tak lagi menjadi kendala untuk menyampaikan laporan. Cukup sekali klik, polisi langsung merespon. Laporan ditindaklanjuti. Inilah yang disebut dengan professional, cara pelaporanya juga modern mengikuti perkembangan zaman.

E-Policing
Melalui aplikasi Polisi Kita, polisi lebih mudah mendapat informasi dari masyarakat, dan lebih dipercaya publik. Dan adalan layanan aduan yang merahasiakan identitas pelapor, ini memberi kenyamanan bagi orang untuk melaporkan tindak kejahatan. Dan laporan yang masuk secara online ataupun real time, polisi akan lebih cepat meresponnya.

Terbukti aplikasi ini ampuh mengungkap berbagai kasus. Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara Rina Ginting mengakui sekarang ini banyak kasus yang dapat diungkap dari aplikasi Polisi Kita, termasuk juga informasi narkoba. “Itu semua karena identitas pelapor tidak terekspose, sehingga mereka merasa nyaman melapor secara online,” katanya.

Ini mulai menjawab kegelisan Kapoldasu Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel di awal memimpin Sumut. Keluhan masyarakat terhadap kinerja polisi begitu tinggi. Jumlah laporan aduan selama 2016 saja mencapai seribuan lebih. Dan 68 oknum aparat terlibat tindak kriminal. Ini menjadi tantangan dalam membangun kepercayaan publik.

Model Cal 911

Melalui layanan aplikasi “Polisi Kita”, Polda Sumut meningkatkan keseriusannya melayani masyarakat. Polda sepertinya mengkloning sistem kerja layanan call 911-nya Amerika Serikat. Sistem pelaporan aduan dengan menghubungi call center 911. Pihak operator kemudian menghubungkan ke pihak polisi terdekat untuk menindaklanjuti aduan dan meluncur ke TKP.

Dalam aplikasi Polisi Kita juga layanan serupa tersedia. Melalui fitur Respon Cepat, dalam satu klik, operator akan menghubungi balik si pelapor untuk menanyakan kevalidan laporan yang diterima. Jika valid, segera dikirimkan polisi ke TKP untuk menindaklanjutinya. Seperti yang kita ketahui wilayah Medan dan sekitarnya yang rawan maling, rampok, dan tindakan kriminal lainya, aplikasi Polisi Kita menjadi jawaban.

Aplikasi “Polisi Kita” diluncurkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di jajaran kepolisian daerah Sumut. Program ini menggunakan konsep “e-policing” atau pelayanan kepolisian terpadu berbasis elektronik. Konsep e-policing ini ditujukan untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan dari institusi kepolisian. Program e-policing tersebut sesuai dengan isi poin pertama konsep Nawacita Jokowi, agar instrumen negara selalu hadir melayani masyarakat.

Dengan adanya program tersebut, ada keinginan untuk memenuhi kebutuhan mendasar dari masyarakat yakni adanya upaya cepat dari kepolisian atas pengaduan dan informasi yang diberikan. Dengan kecanggihan sistem teknologi informasi, polisi bisa memendekkan jarak dan waktu. Dan mereka bisa menindaklanjuti aduan publik juga tak kalah cepat.

Dalam penerapannya di lapangan, begitu terasa bahwa polisi semakin dekat dan semakin melayani publik. Lembaga yang langsung bersentuhan dengan masyarakat ini terus berbenah. Terobosan demi terobosan terus dilakukan, tak lain adalah upaya mendekatkan pelayanan kepada publik. Harus kita akui, lembaga ini semakin hari kian professional, modern dan terpercaya.

Tantangan
Tantangan kepolisian saat ini dan ke depan, salah satunya penguasaan teknologi dan informasi. Perang informasi sudah begitu kentara. Orang begitu mudah menyebar hoax, fitnah, ujaran kebencian dan hujatan. Karena itu, Akademi Kepolisian dituntut mampu mendidik dan mencetak polisi-polisi yang cerdas dan melek literasi informasi.

Kita bersyukur, tahun ini, Lemdiklat Polri merekrut 200 orang sarjana Brigadir untuk dididik dalam penguasaan Informatika dan Teknologi. Mereka dipersiapkan khsusus kelak bekerja secara terampil dan profesional di bidang kejahatan siber (cyber crime). Ini juga bukti lain kesungguhan Polri menjadi semakin professional, modern dan terpercaya. “Kita siap cetak Polis Abad 21,” timpal Moechgiyarto, Kepala Lemdiklat saat ditemui di Semarang.

Dengan kesiapan itu, kita berharap, polisi-polisi kita ke depan bisa menjawab tantangan-tantangan di atas. Apalagi di usianya yang sudah 71 tahun, kiranya Polri makin menunjukkan kiprah terbaiknya. Sepasti disemboyankan Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel: “Bersih-bersih ke dalam, hajar ke luar.” Semboyan ini menunjukkan spirit baru dalam pembenahan kinerja polisi yang lebih profesional, moderan dan terpercaya. Dirgahayu Bhayangkara! (*)

Leave a Reply