Home > Budaya > Rayakan Kemerdekaan Indonesia TWF Adakan Workshop Dan Luncurkan Website

Rayakan Kemerdekaan Indonesia TWF Adakan Workshop Dan Luncurkan Website

Sorotdaerah.com- Merayakan dirgahayu 72 tahun Indonesia, komunitas Toba Writers Forum (TWF) mengadakan workshop di Siallagan, Samosir, Kamis (17/8).

Sebelumnya, TWF mengikuti upacara 17-an bersama pihak Pemda Samosir di Lapangan Merdeka, Pangururan. Upacara berlangsung meriah dan khidmat serta dimeriahkan berbagai penampilan marching band dari berbagai sekolah.

Selesai upacara, TWF merangsek ke Huta Siallagan untuk menggelar workshop dengan topik: “Menyambut Danau Baru & Merdeka Dalam Menulis”. TWF disambut hangat oleh Ir Gading Siallagan, pengelola Desa Wisata Siallagan.

Pada workshop “Menyambut Danau Baru”, hadir sebagai pembicara Hilarius Kemit dari JPIC, Robintang Naibaho dari Kabid Promosi Pariwisata Samosir dan Thompson Hs, Budayawan. Acara dimoderatori Andil Siregar. “Kami sengaja membuat workshop ‘Menunggu Danau Baru’ sebagai materi pertama agar ini bisa dibawakan sebagai tema untuk pelatihan menulis pada sesi kedua nantinya,” kata Andil membukakan workshop.

Workshop ini dikhususkan untuk pelajar di sekitaran Danau Toba. Tetapi, beberapa orangtua juga turut menyaksikannya. Workshop menarik perhatian warga karena topik yang dibawakan berdasarkan kisah-kisah yang dialami sendiri oleh rakyat setempat.

Hilarius Kemit dari JPIC juga tampil bersemangat membawakan materinya. “Siapa yang masih sering melihat sungai yang ada airnya?” tanya Kemit. Hampir tak ada dari peserta yang menjawab. Tetapi, ketika Kemit bertanya tentang berapa banyak jembatan di Samosir, peserta dengan semangat menyebutnya satu per satu. Kemit mengatakan, jembatan sejatinya, penghubung dua daerah karena dipisahkan jurang berisi air. “Menjadi menarik sekaligus memilukan ketika kalian tahu banyak jembatan, tetapi malah tidak tahu di mana ada jembatan yang di bawahnya masih banyak airnya di Samosir ini,” tegasnya.

Menurut Kemit, Danau Toba kini sudah tidak sehat lagi. Berbagai keagungan dan keindahan yang dikisahkan tinggal cerita. Nyatanya, air danau kini sudah semakin keruh. “Siapa yang pernah minum air danau?” tanya Kemit. Semua siswa menggeleng. Tetapi, beberapa orangtua mengaku pernah meminum air danau sewaktu muda.

“Dulu kami selalu minum dari danau. Tapi kini, kami tak berani lagi. Mandi pun sudah jarang ke danau,” kata seorang tua yang hadir dalam workshop itu. Danau Toba dari berbagai penelitian memang disebutkan, air danau kini sudah tidak sehat lagi. Padahal, ikon Danau Toba bukan pegunungan dan pantai, tetapi airnya. “Kalau tak ada air, Danau Toba akan menjadi kubangan tak berarti”, ujar Kemit menegaskan.

Kemit sangat mengharapkan, peserta terutama orang muda, memperjuangkan Danau Toba. Kemit mengingatkan, Danau Toba adalah milik bersama yang harus dirawat. Bagi Kemit, merawat Danau ini merawat alam. Karena itu, warga harus sama-sama menolak kehadiran perusahaan besar yang menggunduli sekitaran danau.

“Perusahaan-perusahaan perusak alam seperti penggundul hutan dan pengusaha kerambah harus ditolak. Mereka inilah mengotori danau kita. Mereka meninggalkan sampah di halaman rumah kita, lalu kita dipaksa untuk tidak lagi minum, bahkan mandi di danau” tutup Kemit. Para pengunjung mengangguk-angguk pertanda setuju.

Robintang Naibaho sebagai utusan Pemda Samosir, Samosir adalah daerah wisata. “Pemerintah akan selalu berjuang untuk merawat lingkungan agar wisatawan ke Samosir semakin banyak,” kata Robintang. Robintang sangat antusias menyambut acara workshop tersebut.

Menurutnya, anak muda harus dibekali pengetahuan berupa informasi dan keterampilan. “Saya sangat mengapresiasi TWF yang mengadakan acara ini secara swadaya. Kita membutuhkan anak-anak muda yang terampil, termasuk menuliskan lingkungan danau. Ini agar daerah kita terawat dan terpromosikan,” lanjut Robintang.

Menurut Thompson HS, keindahan danau yang alami hampir tak bisa lagi dinikmati oleh generasi manusia sekarang. Pemulihan Danau Toba untuk kembali seperti sediakalah konon membutuhkan waktu sebanyak 80 tahun. “Kita memang tak bisa lagi menikmati betul danau ini karena kita menunggu hingga 80 tahun supaya danau ini kembali utuh,” tegasnya.

Thompson menantang, meski bukan untuk kita nikmati, harusnya kita bisa mewariskan danau ini ke generasi selanjutnya. “Mari mewariskan Danau Toba ke anak cucu kita, bukan danau tuba. Danau ini masalah air dan ekologi. Kalau airnya keruh, kita akan mewariskan danau tuba, danau racun. Mari jangan wariskan racun,” tegas Thompson HS lagi.

Setelah workshop “Menungu Danau Baru”, acara dilanjutkan lagi dengan pelatihan menulis. Acara ini dibawakan Riduan Situmorang, salah satu Pembina TWF. “Menulis itu harus memerdekakan diri, juga orang lain,” kata Riduan Situmorang.

Riduan mengatakan, agar para peserta menuliskan pengalamannya terkait pencemaran Danau Toba lalu mencampurkannya dengan informasi dari ketiga narasumber. Menurut Riduan, mengembalikan danau ke keadaan sebelumnya sejatinya bisa dilakukan oleh orang muda yang tinggal di sekitar danau.

“Gampang! Jika semua orang muda aktif menuliskan berita-berita terbaru, bahkan berupa surat terbuka kepada Jokowi yang isinya tuntutan agar danau diperhatikan, niscaya Danau Toba akan selamat,” tantang Riduan. TWF memang sebentar lagi akan mengumpulkan “1.000 Surat anak Sumut untuk Jokowi”.

Riduan juga mengajak agar peserta menuliskan artikelnya ke tobawriters.com dengan cara mendaftarkan akunnya ke tobawriters.com. Riduan mengatakan, pihak TWF bersedia secara daring mapun luring untuk memberikan pelatihan kepada para peserta, terutama siswa-siswa.

Tertarik akan dunia literasi dan mengembalikan keindahan Danau Toba, Robintang Naibaho mengajak agar TWF datang kembali ke Samosir, tepatnya di Huta Tinggi untuk memberikan pelatihan menulis. “Kita ingin agar TWF datang kembali memberikan pelatihan menulis dan literasi di Huta Tinggi dalam waktu dekat,” harap Robintang Naibaho.

TWF langsung menyahuti, kalau Pemda Samosir terbuka, TWF akan terjun langsung mengedukasi siswa-siswa. Anggota TWF lain yang juga ikut hadir dalam Perayaan Kemerdekaan itu, Parno S Mahulae, Niko Adriano Hutabarat, dan Partahanan Simbolon. Setelah selesai acara, Parno S Mahulae mengharapakan agar anak muda ikut aktif dalam perjuangan.

“Sederhana saja, jika satu orang berteriak, maka orang lain bisa menyebut orang itu sebagai orang gila. Tapi, jika ada ribuan anak muda yang ikut aktif menulis memperjuangkan Danau Toba, pemerintah pasti akan berjuang keras mengembalikan keindahan danau. Gerakan kita harus gerakan intlektual yang bersifat kebersamaan,” tegasnya.

Acara ditutup dengan peluncuran website TWF: tobawriters.com. Website ini akan aktif terhitung Senin, 21 Agustus. TWF mengharapkan penulis dari mana pun untuk ikut aktif menulis di situs tersebut. “Silakan bagi penulis dan pejuang muda, kunjungi situs kami, buat akun, lalu kirim tulisan. Jika cocok, kami akan menerbitkannya,” pinta Riduan (JS)

You may also like
Menggali Potensi Wisata Siantar
PGTS Sebut Tanaman Kaliandra Bagus Untuk Pakan Ternak Kambing
Istri Kapolri Tito Puji Keindahan Danau Toba
Kapoldasu Dukung Program Pemerintah Jadikan Danau Toba Destinasi Wisata Dunia
Setahun, TWF Akan Kumpulkan Seribu Surat Untuk Jokowi
Pesona Bentangan Pegunungan dari Parapat

Leave a Reply