Home > Daerah > Sawah Irigasi di Deliserdang Terancam Dijadikan Pemukiman

Sawah Irigasi di Deliserdang Terancam Dijadikan Pemukiman

Deliserdang, Sorotdaerah.com– Areal sawah irigasi di kawasan Desa Krio Dusun VII, Kecamatan Sungai Deliserdang, Kabupaten Deliserdang berpotensi akan tersingkir oleh pemukiman.

Pemerintah Kabupaten Daerah (Pemkab) Deliserdang diminta agar segera membuat aturan tentang alih fungsi lahan.

Hal tersebut dikarenakan beberapa areal persawahan di daerah tersebut telah ‘disulap’ menjadi pemukiman penduduk. Terutama di Kecamatan Sungai Deliserdang, yakni di sekitar desa Medan Krio, dusun VII. Lahan yang dulunya berfungsi sebagai persawahan, kini telah menjadi perumahan seluas 8000 meter.

Sementara lahan persawahan, tidak bisa dijadikan perumahan, dikarenakan sawah tersebut masih milik pemerintah.

Pemerintah sudah membuat Irigasi di persawahan Desa Krio pada tahun 2008. Sumber airnya dari sungai Tuntungan yang mengalir sampai Desa Medan Krio dibendung agar bisa disalurkan ke persawahan. Air sungai itu menjadi nadi bagi persawahan. Dan tanpa irigasi, masyarakat akan gagal bertani.

Maka dari itu, pemerintah sudah lama membuat saluran irigasi di desa Medan Krio, dusun VII, namun jika persawahan itu kelak didepak pemukiman, jejak pertanian akan raib. Dan ratusan petani akan tersingkir.

Kepala Desa (Kades) Medan Krio Suprayetno, pada Selasa (4/4) mengaku bahwa tanah yang mau dijadikan pemukiman itu milik Dian, salah satu warga. Sang kadea mengaku belum mengetahui tentang adanya tanah persawahan1 akan diubah jadi pemukiman.

Sementara, beber si Kades, di areal sawah irigasi jelas tidak bisa didirikan bangunan. Sayangnya, sang Kades belum juga melapor ke kantor Camat.

Menurutnya, di areal lahan persawahan itu tidak bisa dibangun rumah untuk pemukiman. Selain menyalahi aturan, juga bisa mengakibatkan banjir.

“Karena itu, kita memanggil langsung yang punya lahan sawah, agar kita dapat mengerti. Kalau Dian, mencoba mendirikan rumah pemukiman di atas lahan sawah, kita akan tutup pihak pekerjanya,” tandas Kades.

Lebih jauh Kades mengatakan, meskipun, si Dian yang punya lahan seluas 8000 meter dan akan dijual perkapling kepada pembeli, pihaknya bertekat tidak akan memberi izin. “Kami tidak akan memberikan izin kepada Dian (Pemilik Tanah), karena itu sebagian milik pemerintah,” gertaknya.

Sementara, Dian si pemilik tanah menerangkan, ia sama sekali tidak menjual tanah perkapling. “Saya anya membuat rumah kontrakan bukan perkapling. Jadi aset saya itu. Sudah banyak saya keluarkan demi mempertahankan lahan persawahan yang akan dijadikan rumah pemukiman,” tepisnya.

Beredar kabar, Diab menjual tanah per kapling seharga Rp 15 juta untuk tanah seluas 7×15 meter persegi. “Saya mau menutup utang, lantaran saya sudah banyak menghabiskan biaya untuk lahan sawah ini,” jelasnya.

Dengan membengkaknya populasi penduduk di Kabupaten Deliserdang, otomatis berbisnis pada lahan pemukiman sangat potensial.

MT, warga Desa Medan Krio Dusun VII, Kecamatan Sungai Deliserdang juga menolak alih fungsi lahan persawahan menjadi pemukiman warga. Menurutnya, undang – undang sendiri sudah mengatur tata cara pengalihfungsian lahan produktif. “Untuk itu kita di kabupaten harus membuat peraturan daerah tentang alih fungsi lahan ini,” pungkasnya. (JS)

You may also like
Irigasi di Pusat Pasar Kabanjahe Sukses

Leave a Reply