Imam kepala dan tua-tua Yahudi berkumpul. Mereka bersepakat untuk membunuh Yesus. Selama ini, mereka merasa terganggu dengan sikap dan pengajaran Yesus, yang dianggap mengusik ‘zona nyaman’ mereka sebagai institusi agamawi yang sudah mapan.

Bergabung pula penguasa pada kumpulan orang jahat itu. Perkumpulan ini dilandasi beragam motivasi. Tetapi intinya, mereka melihat kehadiran Yesus di tengah masyarakat tak lebih dari seorang pengganggu “status quo.“ Yesus yang populer dan dicintai banyak orang bisa menjadi ancaman terhadap kekuasaan politik pemerintah di tengah masyarakat Yahudi bahkan terhadap kekaisaran romawi.

Yudas Iskariot, yang notabene orang dekat Yesus justru ikut bergabung dalam komplotan jahat ini. Ia bergabung dengan motivasi berbeda. Dia mungkin ingin mendapatkan keuntungan material. Dorongan hatinya untuk mendapatkan uang telah menuntun dia masuk dalam persekongkolan jahat ini. Dengan perencanaan yang matang dan strategi jitu, akhirnya persekongkolan mereka membawa Yesus pada penghakiman, hingga Yesus disalibkan di Bukit Golgatha.

Inji Matius 27: 1-10 mencatat secara apik kisah persekongkolan jahat terhadap Yesus. Kisah ini memberi pelajaran berharga, cepat atau lambat niat orang-orang jahat yang ingin mencelakakan orang lain akan ketahuan juga.

Orang-orang yang bergabung dalam satu komplotan dengan tujuan menghancurkan seseorang, biasanya mimiliki motivasi yang beragam. Ada yang didorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan, ada yang didorong balas dendam, dan ada yang didorong keinginan mempertahankan “status quo“ atau “zona nyaman.“ Mereka bersepakat karena masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri.

Biasanya kesepakatan seperti ini sangat rapuh dan sifatnya hanya sementara. Setelah tujuan tercapai, masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri, bahkan pada akhirnya mereka bisa saling bermusuhan dan salah menyalahkan. Hal inilah yang terjadi dengan perkumpulan orang-orang yang bersepakat membunuh Yesus.

Nyatanya, komplotan ini begitu rapuh. Bahkan sebelum kematian Yesus pun, komplotan jahat itu sudah mulai runtuh. Mereka saling menuding dan menyalahkan satu dengan yang lain. Yudas Iskariot – sahabat yang tega mengkhianati Yesus dan menyerahkan dia dengan pelukan dan ciuman, segera menyadari akibat fatal dari perbuatannya. Dia menyesal telah bergabung dalam komplotan jahat.

Namun sepertinya, “penyesalan datangnya terlambat.“ Apa boleh buat, “nasi sudah jadi bubur.” Sekali pun dia mengembalikan uang tiga puluh perak yang dia terima dari para imam dan tua-tua sebagai upah pengkhianatannya. Dia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah.“

Namun penyesalannya itu tidak mengubah apa-apa. Yesus segera akan dibunuh. Siapa yang peduli? Itu salah Yudas sendiri. Para tua-tua itu berkata, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri.“ Pada akhirnya, Yudas Iskariot menghukum diri sendiri dengan menggantung diri.

Persekongkolan orang-orang jahat telah menyebabkan kematian Yesus yang tak bersalah. Hal itu memang harus terjadi sesuai dengan nubuatan para nabi tentang jalan yag harus ditempuh Sang Mesias demi keselamatan orang-orang percaya, tetapi celakalah orang-orang yang tergabung dalam komplotan jahat itu. Mereka mau dipakai oleh iblis untuk menyakiti, bahkan membunuh Yesus.

Celakah orang-orang yang bergabung dalam satu komplotan dengan niat jahat terhadap seseorang. Dengan motivasi dan kepentingan yang beragam, mereka menggalang kekuatan untuk menghancurkan seseorang. Komplotan mereka hanyalah sementara. Ikatan mereka sangat rapuh. Sekali tujuan mereka tercapai, mereka akan tercerai-berai dan selalu dihantui oleh perasaan bersalah.

Tidak demikian dengan orang-orang baik dan benar yang membangun perkumpulan dan berupaya mewujudkan tujuan luhur. Sekali pun mereka datang dari latar belakang beragam. Lambat tapi pasti, mereka membangun visi dan komitmen bersama untuk mencapai tujuan bersama, yakni tujuan kebaikan. Ikatan mereka demikian kuat karena dibangun berdasarkan cinta kasih dan kerinduan untuk kedamaian, kebebasan, keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Perkumpulan seperti itulah yang dibangun oleh Yesus bersama para murid yang setia mengikut Dia. Yesus memiliki visi dan misi yang jelas, yakni menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Dia mengumpulkan para murid dan pengikut dari latar belakang dan talenta beragam, dan dibangun dengan satu dasar yang kuat, yakni kasih.

Kasih yang menjadi perekat pengikutNya untuk melakukan misi di dunia ini, sebagaimana Firman Tuhan yang mengatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikianlah kamu harus saling mengasihi.”

Ini menjadi hukum dan perintah yang harus diikuti oleh para pengikutNya, jika mereka ingin menjadi bagian dari upaya mewujudkan rencana dan rancangan Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Dasar yang kuat yang menjadi perekat persekutuan yang dibangun dan diperlengkapi oleh Yesus menjadikannya kuat dan bertahan lama. Dengan demikian, persekutuan di dalam Yesus mampu bertahan sejak abad pertama kekristenan hingga saat ini. Dan itu akan bertahan hingga akhir zaman.

Saudara-saudariku, kita adalah bagian dari persekutuan yang dibangun di atas dasar yang kuat. Karena itu, berbahagialah saudara dan saya, karena Tuhan telah memberikan kepada kita kesempatan berpartisipasi dalam satu misi mulia. Pemimpin kita adalah Yesus sendiri, yang memiliki tujuan yang jelas, menghadirkan dan menyebarkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini, dimana setiap orang yang percaya kepadanya beroleh keselamatan dan hidup yang kekal! (*)

 

Pdt. Dr. Deonal Sinaga
(Praeses HKBP Distrik XXI Banten)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan