Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Satu ungkapan hikmat yang dikenal luas secara nasional dan yang maknanya diakui secara global.

Di masa-masa terakhir hidup seseorang, dia akan merenungkan dan menyadari, apa sebenarnya yang paling berharga di hidup ini. “Apa yang saya gapai dan apa yang bisa saya wariskan – yang menjadi legacy hidup saya di dunia ini.“

Nama-nama besar yang melegenda seperti Socrates, Aristoteles, Rasul Paulus, Abraham Lincoln, Ibu Theresia, Martin Luther, Martin Luther King Jr. Ingwer Ludwig Nommensen, Justin Sihombing, Steve Jobs, meninggalkan dunia ini. Mereka tidak meninggalkan segepok emas atau uang dalam jumlah fantastis, melainkan warisan yang indah dan paling berharga, yakni nilai, moralitas, hikmat dan karya terbaik yang berguna untuk kehidupan.

Salah satu dari nama masyhur di atas, Steve Jobs memberikan pesan berharga pada wisuda lulusan universitas terbaik di dunia ini yakni Universitas Stanford pada 2005. Dia berkata, “Jika saudara menjalani hidup ini seakan-akan inilah hari terakhirmu di dunia ini, suatu saat, saudara akan tiba pada pemahaman yang benar, yakni melakukan hanya yang paling utama dalam hidup ini.“

Dia menambahkan, “dengan menyadari bahwa cepat atau lambat, semua kita akan mati, adalah perangkat terpenting yang pernah ditemukan yang dapat membantu kita untuk memutuskan pilihan terbesar dalam hidup ini.“

Hidup ini adalah pilihan. Apakah kita memilih untuk mengisi hari-hari kita untuk mencari ketenaran dan kehormatan, mengumpulkan harta dan mencari jabatan, mondar-mandir mendapatkan popularitas dan pengakuan orang lain? Itu semua tergantung kita.

Sebagian orang mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk selalu menjadi yang terbaik di kelompoknya. Sebagian orang melakukan semua yang dapat dia lakukan untuk menjadi pemimpin dan yang utama di tempat kerja atau komunitasnya. Sebagian lainnya melakukan segalanya agar dia menjadi juara dan pemenang dalam setiap kompetisi.

Semua ini sah-sah saja, sepanjang mengikuti norma-norma yang dapat diterima oleh masyarakat umum. Tetapi, tidak sedikit yang bermain tidak sportif, bahkan berbuat curang untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan tidak jarang ada yang tega mengorbankan orang lain dan berlaku tercela untuk menggapai cita-citanya. Itu adalah pilihan, yang pada akhirnya akan dinilai rendah oleh masyarakat umum, terlebih dipandang oleh Tuhan sebagai perbuatan curang dan tercela.

Pengkhotbah sendiri sebagai orang berhikmat dan yang selalu dekat dengan Tuhan, menyadari apa yang dilakukannnya sejak masa mudanya sebagai kesia-siaan. Sepintas kita lihat apa yang dia lakukan itu normal, baik, bahkan sangat baik. Sesungguhnya, itulah yang dilakukan setiap orang di dunia ini (Pengkhobah 2:4-11).

“Membangun rumah-rumah, menanami kebun-kebun anggur, mengusahakan kebun dan taman-taman dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan, menggali kolam-kolam dan mengairi dari sini pohon-pohon muda, mengumpulkan perak dan emas, harta benda serta banyak sapi dan kambing domba.“

Ini adalah perbuatan baik dan sungguh mulia. Tidak ada yang salah dengan ini, bahkan kita mendorong anak-anak muda untuk melakukan itu. Kita tidak menginginkan generasi muda jatuh miskin dan ketinggalan zaman. Sebaliknya kita menuntut mereka supaya belajar keras dan bekerja keras agar mereka hidup layak, bahkan lebih sejahtera dan lebih makmur dari kita.

Itulah falsafah dan cita-cita kita orang Batak dengan 3H: Hamoraon, Hasangapon, Hagabeon.  Untuk menggapai semua ini kita berupaya menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. “Hugogo pe mancari arian nang bodari laho pasingkolahon gellenghi. Na ingkon marsingkola, satimbo-timbona intap ni na tolap gogongki.”

Tujuannya adalah supaya generasi muda itu berhasil: lebih baik dari orang tua, mampu berkompetisi, bahkan unggul dari yang lain. Itu adalah cita-cita mulia dan dilakukan setiap orang di dunia ini.

Namun demikian, pada akhirnya, terutama di masa-masa akhir hidup, semua kita akan tiba pada titik tertentu, mungkin titik terpenting dalam hidup ini, yakni titik dimana kita menyadari bahwa itu semua adalah kesia-siaan. Itu sia-sia jika dibandingkan dengan sesuatu yang paling indah, paling berharga dan paling mulia.

Apakah yang paling indah, berharga dan mulia itu? Tergantung bagaimana kita memandangnya. Bagi Steve Jobs, yang paling indah, berharga dan mulia itu adalah warisan tehnologi yang menjadikan masyarakat dunia bisa bekerja lebih efisien dan efektif dengan menghadirkan karya terbaik Macintosh dan komputer Apple.

Satu motto yang ditanamkan Steve Jobs adalah, “Setiap yang kami lakukan, kami yakini menantang status quo. Kami percaya akan pentingnya menawarkan pikiran yang berbeda.” Prinsip inilah yang menjadikan komputer Apple selalu membaharui diri dan menghadirkan produk terbaik hingga saat ini. Sekali pun Steve Jobs meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, yakni 56 tahun pada 2011 silam, tetapi dia sudah memengaruhi hidup miliaran orang di seluruh dunia, termasuk kita. Mau atau tidak, sadar atau tidak, kita berhutang kepada Steve Jobs.

Jika orang-orang hebat dengan nama besar dan masyhur telah mewariskan sesuatu yang paling berharga yang dinikmati banyak orang termasuk kita yang hidup di zaman ini, bagaimana dengan kita? Warisan seperti apakah yang dapat kita tinggalkan, kalau kita mati hari ini, besok, lusa, satu tahun lagi atau beberapa puluh tahun lagi?

Kita hidup di dunia ini, bukanlah sekadar hidup, melewati hari-hari dengan sekadar makan, minum dan mengumpulkan harta yang pada akhirnya hanyalah kesia-siaan seperti yang diungkapkan Pengkhotbah. Kita harus memiliki tujuan hidup. Kita harus memiliki nama yang indah, yang akan dikenang karena kebaikan, kejujuran, integritas, pengorbanan, nilai dan prinsip yang berguna bagi generasi setelah kita.

Saudara bisa, saya bisa, kita semua bisa mewariskan sesuatu yang paling berharga, paling indah dan paling mulia. Kita bisa, jika kita mau. Kita bisa, jika kita mau mengubah prioritas hidup kita. Kita bisa, jika kita mau mengorbankan ego dan godaan untuk memuaskan hasrat dan keinginan indra kita. Kita bisa jika kita mau memikirkan dan berkomitmen untuk hal-hal yang lebih besar dan mulia.

Saya sendiri memiliki impian dan harapan, bahwa umat Kristen benar-benar memahami apa artinya menjadi Kristen. Menjadi Kristen sesuai dengan pengajaran Kristus adalah menjadi manusia yang berguna bagi sebanyak mungkin orang. Hal ini juga menjadi motto pendeta Eka Dharmaputa – menjadi berkat yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang. Ini jugalah yang menjadi visi HKBP sesuai Aturan Peraturan 2002 “Menjadi Berkat Bagi Dunia ini.”

Menjadi berkat bagi dunia ini, kita harus mau dan mampu merendahkan diri dan melayani dengan segenap hati “Marhobas Sian Nasa Roha.” Kita harus sadari, bahwa apa pun yang kita pikirkan dan lakukan, harus menjadi pelayanan bagi Tuhan, umat Tuhan dan ciptaan Tuhan di dunia ini.

Jika ini yang menjadi pilihan dan prinsip hidup kita, kita tidak akan mau menghabiskan hari-hari hidup kita untuk hal-hal yang sia-sia seperti menjaring angin. “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.”

Pelajaran berharga dari pengalaman pengkhotbah dan hikmat Steve Jobs, jika kita melihat hari ini bisa sebagai hari terakhir kita di dunia ini, baiklah kita melakukan hanya yang paling penting dan terbaik saja: paling indah, paling berharga dan paling mulia.

Marilah kita melayani dengan segenap hati – marhobas sian nasa roha! Apa pun yang kita lakukan, apakah bekerja keras mengumpulkan harta kekayaan seperti yang dilakukan oleh Bill Gates, mengejar jabatan seperti dilakukan Jokowi, berupaya membangun kota di planet Mars seperti dilakukan oleh Elon Musk atau mengajar dan berkhotbah, bekerja di restoran dan menjadi tukang sapu jalanan, jika kita melakukannya dengan segenap hati dan menjadikannya pelayanan bagi banyak orang, itulah sesungguhnya yang paling indah, paling berharga dan paling mulia. (*)

Pdt. Dr. Deonal Sinaga
Praeses HKBP Distrik XXI Banten.

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan