Sorotdaerah.com – Pandemi Covid-19 menghantam sendi perekonomian masyarakat. Dan kelompok paling menderita atas pukulan wabah ini tak lain adalah masyarakat marjinal, seperti pemulung. Selain mereka kesulitan secara ekonomi, mereka pun harus menghadapi banyak problem kehidupan lainnya, seperti dialami pemulung di Sunggal.

“Kami benar-benar terpuruk selama pandemi Covid-19 ini. Setiap hari kami hanya bisa makan nasi pakai garam. Kalau ada ikan asin, rasanya sudah sangat mewah,” kata Siti Maria Boru Siburian warga Dusun VI Jalan Karya VII, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumut, Selasa (8/9/2020).

Maria kini dilanda kebingungan besar. Ia sama sekali tidak punya uang. Ia juga telah berusaha mengajukan diri bekerja kepada orang lain, tapi selalu kata yang sama dia dapatkan: tak ada lowongan pekerjaan. “Hanya memulung ini saja sumber penghasilan kami, Pak,” ujar Maria didampingi suaminya saat ditemui di rumah mereka.

Maria bingung karena beberapa kali ponselnya menerima notifikasi yang memberitahukan bahwa ia menunggak iuran premi BPJS Kesehatan. Padahal, kata Maria, dia telah membayar luas seluruh tunggakan.

“Kami betul-betul bingung, beberapa bulan yang lalu kami sudah upayakan melunasi tunggakan iuran kepesertaan BPJS Kesehatan. Jumlahnya hampir dua jutaan. Kami bayarkan di Indomaret. Kami patuh dan taat aturan. Itu pun uang koperasi juga kami pinjam untuk melunasinya,” beber dia.

Selain merasa telah melunasi seluruh tunggakan, Maria dan suaminya pun mengupayakan mengurus surat keterangan tidak mampu dari desa diketahui Camat Sunggal. Surat keterangan tidak mampu itu kemudian dia serahkan ke kantor dinas sosial, Deli Serdang di Lubuk Pakam. Tak lupa dia sertakan bukti pembayaran keterlambatan BPJS yang menunggak dengan nominalnya sekitar Rp 2 jutaan.

“Semua upaya itu kami lakukan dengan harapan bisa dibantu oleh pemerintah, agar kami mendapatkan keringanan atau karena kami sudah tidak mampu lagi membayar iuran premi ini,” imbuh Maria.

Belakangan ini, Maria hanya mampu membeli sembako seadanya. Sebagai orangtua, ia remuk hati setiap kali menyaksikan anak-anaknya makan. Mereka tidak pernah lagi merasakan nikmatnya makanan bergizi. Yang penting, kata dia, bisa bertahan hidup di masa sulit ini.

Maria bingung karena segala upaya yang dia tempuh untuk mendapatkan perhatian pemerintah, seperti sia-sia. Nyatanya, ia justru terus mendapat notifikasi bahwa iuran BPJS Kesehatannya masih menunggak.

“Saya pikir sudah dibantu oleh pemerintah, taunya tiap bulan malah datang SMS dari BPJS Kesehatan bahkan kadang kala saya ditelepon. Jadi nggak kuangkatlah. Kan tak logika sudah kami bayari tunggakan, eh malah menunggak lagi sudah empat bulan. Sedangkan uang koperasi aja belum lunas kami bayari,” ungkapnya dengan wajah kecut.

Dalam kebingungannya itu, Maria dan suaminya mendatangi Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) Uba Pasaribu. Mereka meminta bantuan YPPS untuk menuntaskan persoalan ini.

Menanggapi penuturan Maria, Uba Pasaribu menyesalkan revolusi mental dan Nawacita Jokowi yang sampai hari ini belum menyentuh rakyat kecil seperti persoalan yang membelit keluarga Maria.

Uba Pasaribu meminta pihak BPJS Kesehatan agar merestui permintaan Siti Maria Siburian. Keluarga Maria meminta mundur atau diputuskan kepesertaan mereka dari BPJS Kesehatan lantaran ekonomi mereka sudah benar-benar terpuruk.

“Karena sudah tak mampu lagi membayar iuran preminya, Keluarga Marian meminta untuk mundur dari kepesertaan BPJS Kesehatan. Ini kan bentuk persoalan yang sangat krusial. Warga miskin yang terpuruk, memilih untuk mundur dari kepesertaan BPJS Kesehatan. Sedih sekali,” terang Uba.

Apalagi, sampai hari ini, selama masa pandemi Covid-19, keluarga Maria mengaku sama sekali tidak mendapat bantuan apapun. “Jujur, tak kenal kami yang namanya bantuan apapun. Di kantor kepala desa, berkas pengajuan sudah kami serahkan, supaya kami dapat bantuan, nyatanya tidak pernah dapat apa-apa,” pungkas Maria. (Redaksi)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan