Home > Features > Sekolah Tua Berjuang Membangun Budaya Literasi

Sekolah Tua Berjuang Membangun Budaya Literasi

Agar sukses hidup di abad 21, anak millenial harus menguasai enam keterampilan literasi. Yayasan Pendidikan Parulian menjawab tantangan itu dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Oleh Dedy Hutajulu

RUANG aula YP Parulian, di sebelah stadion Medan mendadak bergemuruh. Ratusan orang memberi standing aplaus terhadap presentasi dari tiga pelajar kelas 1 setingkat SD.

Pagi itu, Oktober 2018, Elisa Tampubolon, Norita Hutapea dan Alfaro Simatupang sukses memukau juri dan seluruh penonton yang hadir. Mereka membawakan topik penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan media belajar dari barang bekas, sepasti kaleng minuman, sedotan, dan kertas.

Dalam kontes bertajuk “Inovasi Pembelajaran” itu, Alfaro dan kawan-kawan (dkk) berhasil menunjukkan cara mengintegrasikan literasi ke dalam pembelajaran Matematika. Mereka mengambil topik: Bernalar Itu Asyik. Presentasi Alfaro, dkk selaras dengan hasil penelitian RISE atau Research on Improvement of System Education, tahun 2018 yang menyebut kemampuan siswa memecahkan soal matematika sederhana tidak berbeda secara signifikan antara siswa baru masuk sekolah dasar dan yang sudah tamat SMU.

Gawat darurat bermatematika itu pun ditegaskan oleh Survei Programme for International Student Assessment (PISA). PISA menunjukkan kemampuan bernalar matematika anak-anak kita berada di urutan 63 dari 72 negara. Survei ini dilakukan oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Supaya bisa setara dengan kemampuan bernalar anak-anak dari negara yang tergabung OECD, kita butuh berproses selama 317 tahun. Kegawat-daruratan bernalar ini diakui Mendikbud Muhadjir Effendy. Ia mengatakan, para siswa kita hari ini sangat lemah kecakapan bermatematikanya, yang di dalamnya termasuk kemampuan menalar, menganalisa dan mengevaluasi.

Data Puspendik Kemendikbud juga bagai alarm peringatan kuat, betapa kemampuan matematika anak kelas 4 secara nasional ternyata sangat buruk. Sekitar 70 persen tidak mampu bernalar! Anak yang mampu bernalar dengan baik jumlahnya di bawah 10 persen. Selebihnya bernalar, tapi lemah.

Data IFLS (Indonesia Family Life Survey) pada 2000, 2007 dan 2014 juga menegur kita. IFLS yang mewakili 83 persen populasi Indonesia juga menunjukkan kedaruratan bermatematika. Survey IFLS ini, menurut Presidium Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika, Ahmad Rizali menyebut, terjadi kemunduran kompetensi siswa secara akut. Ia menganjurkan seluruh pihak untuk tidak mengabaikan temuan-temuan ini jika tidak menginginkan Indonesia bubar karena kualitas SDM bangsa kita dari menurun secara signifikan dari tahun ke tahun.

Betty Tondang, guru SD Pelita Mutiara, Parulian mengatakan presentasi Alfaro, dkk begitu memukau lantaran di sekolah mereka terbiasa untuk presentasi. Pelajaran matematika diajarkan dengan metode PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Selama pembelajaran anak melakukan kegiatan 5M yakni mengamati, mencoba, menalar dan menganalisis. “Jadi anak lebih aktif,” tambahnya.

Guru-guru di sekolah juga terbiasa menerapkan pertanyaan tingkat tinggi (Hight Order Thinking Skills) atau HOTS. Dengan HOTS anak-anak ditantang untuk memecahkan masalah. Itu terjadi karena guru-guru YP Parulian terlebih dahulu dilatih oleh USAID PRIORITAS bagaimana menyusun pertanyaan tingkat tinggi.

Konsultan pendidikan YP Parulian, Erix Hutasoit mengatakan, sejak Oktober 2016, Parulian sudah menerapkan GLS secara mandiri. Bahkan YP Parulian merupakan sekolah swasta pertama yang mendeklarasikan diri sebagai sekolah literasi di Sumatera Utara. Deklarasi dipimpin oleh Konsulat Amerika Serikat untuk Pulau Sumatera Utara, Juha P. Salin.

Erix mengatakan, GLS di YP Parulian diimplementasikan di 16 sekolah dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK yang tersebar di sejumlah daerah di Sumut. Sebelum mengimplementasikan GLS, ratusan guru YP Parulian terlebih dahulu mendapat pelatihan active learning. “Kami melatih guru-guru ini agar mampu mendesain pembelajaran dengan mengintegrasikan literasi. Mereka harus menghubungkan topik pembelajaran dengan tantangan yang dihadapi di kehidupan sesungguhnya,” tegas Erix.

Lebih lanjut Erix mengatakan, presentasi Alfaro, dkk merupakan hal yang biasa di YP Parulian. Setiap hari siswa belajar dengan metode active learning. Anak terbiasa mencari informasi, berdiskusi dengan rekannya dan mempresentasikan pemikirannya sendiri. “Kalau Alfaro dan kawan-kawannya tampak percaya diri, itu karena mereka sudah terbiasa presentasi di sekolah. Setiap hari mereka belajarnya seperti itu,” imbuhnya.

Tiga Tahap GLS

Koordinator Literasi YP Parulian Poster Manalu menjelaskan, sebagai sekolah literasi, Parulian telah mengintegrasikan literasi ke dalam pembelajaran. Mereka membiasakan siswa menggunakan informasi untuk mencari solusi. Karena itu aktivitas pembelajaran didesain agar siswa melakukan kegiatan 5M yakni mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. “Agar mampu mengintegrasikan literasi, guru-guru kami terlebih dahulu mendapatkan pelatihan soal literasi,” terangnya.

Menurut Poster Manalu, ada tiga tahap penerapan GLS di YP Parulian yakni, menumbuhkan minat baca, mengembangkan dan mengintegrasikan. Menumbuhkan minat baca dilakukan melalui pembiasaan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Setelah pembiasaan berjalan rutin dan berkesinambungan, selanjutnya masuk ke tahap pengembangan kegiatan literasi dengan memberikan panggung unjuk karya bagi anak-anak. Terakhir, tahap pengintegrasian literasi ke dalam pembelajaran di semua mata pelajaran.

Tiga tahun sudah berjalan pasca deklarasi, Parulian terus setia mengerjakan gerakan literasi sekolah. Berbagai kegiatan literasi digelar, mulai dari menjalankan wajib membaca 15 menit setiap hari, menggelar festival literasi, lomba inovasi pembelajaran, pelatihan menulis cerpen, kontes debat, lomba pidato, pentas seni, lomba menulis puisi bertema buku, bulan bahasa, pemilihan duta baca dan membentuk klub jurnalis siswa untuk memperluas daya jangkau literasi.

Tidak hanya menuntut siswa gemar membaca, para guru telah menjadi suri teladan. Ini persis seperti dipesankan pegiat literasi dari Toba, Togu Simorangkir bahwa siapapun yang bergiat di bidang literasi harus tampil menjadi teladan.” Karena itulah, YP Parulian “memaksa” tiap gurunya wajib membaca enam buku secara tuntas. Selain itu, YP Parulian juga menargetkan 2000 buku donasi setiap tahun.

Kebijakan & Kelembagaan

Untuk memperlancar GLS ini, Parulian menguatkannya dengan kebijakan dan kelembagaan. YP Parulian menerbitkan surat edaran yang mewajibkan setiap unit satuan pendidikan (mulai SD sampai SMA/SMK) di seluruh sekolah binaannya mendesain program literasi. Kemudian membentuk tim literasi di setiap sekolah untuk mengejar target yang ditetapkan. Tak pelak, GLS tumbuh menjadi gerakan masif. Sekolah tua ini bergerilya untuk meningkatkan mutu pendidikan sekaligus berkontribusi dalam memajukan kebudayaan di tanah air.
Guna memperkuat komitmennya menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), YP Parulian melatih kepemimpinan para kepala sekolahnya. Mereka dilatih agar mampu mendesain program sekolah berbasis literasi. Sebanyak 30 orang kepala sekolah dari 15 sekolah binaan telah dilatih.

Sekretaris YP Parulian Erita Siburian mengatakan pasca deklarasi GLS, pihaknya terus berbenah. YP Parulian berkomitmen menerapkan GLS secara utuh. Merujuk Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, GLS dijalankan dalam tiga tahap yaitu pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. “Di dalam tahap pembelajaran, literasi diintegrasikan melalui pendekatan saintifik dengan model active learning. Itu sebabnya kami melatih kepala sekolah agar mereka mampu mendesain program kerja yang mendukung penerapan active learning di sekolah masing-masing,” tukasnya.

Praktisi Pendidikan, Agus Marwan mengatakan active learning merupakan model pembelajaran abad 21. Penerapan model ini membuat anak menjadi terampil berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif. Active learning didesain agar seluruh potensi anak tergali dan bisa dikembang secara maksimal.

Menurut Agus, penerapan active learning membutuhkan dukungan dari kepala sekolah dan guru. Active learning akan merevolusi gaya mengajar guru yang selama ini cenderung pasif. Anak menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, sedangkan peran guru menjadi fasilitator. “Jika kepala sekolah tidak mengerti soal active learning, tentu saja itu bisa menghambat perkembangan sekolah. Jadi kepala sekolah harus kita bantu agar mereka bisa paham dan mendukung,” tegasnya.

Agus Marwan menambahkan, YP Parulian telah melatih para kepala sekolahnya mengenai cara mendesain program dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Semangat inti MBS adalah otonomi, sehingga penerapan MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan berorientasi pada pembelajaran. Kepsek seharusnya mempunyai komitmen dan kapasitas pembelajaran yang baik sebagai pengarah dan pengelola pembelajaran.

Terlaksana Sesuai Harapan

Sekolah Literasi Parulian terlaksana dengan baik karena GLS dikerjakan secara bertahap dan terpadu, mulai dari pembiasaan, pengembangan hingga pembelajaran.

GLS, menurut Guru Betty Tondang, sangat relevan dan efektif meningkatkan minat baca anak. Ia melihat sejauh ini, anak-anak semakin bergairah membaca dan berkarya. Keberhasilan program GLS juga tak lepas dari andil Kepala Sekolah. Lenta Br Karo, salah satu Kepala SD Pelita Mutiara, Parulian menandaskan, ia mendukung penuh gerakan literasi melalui kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. “Demi membangun insan cerdas, saya bersama guru-guru bahu -membahu menerapkan GLS,” tuturnya.

GLS di YP Parulian bisa berkembang pesat sampai sejauh ini juga berkat didukung para orangtua murid. Orangtua berlomba-lomba menyumbang buku-buku bacaan, dan mendorong anaknya untuk rajin membaca. Sehingga murid-murid semakin senang karena didukung orangtua mereka.

Bangun (35), seorang dari orangtua murid mengatakan, gerakan literasi sekolah ini menarik sekali. Gerakan beginian ampuh untuk membangun kecerdasan anak dan memajukan budaya bangsa kita. Ia memuji keseriusan dan kreativitas YP Parulian dalam menerapkan GLS. “Saya lihat Parulian telah mampu melatih siswanya lebih literate. Anak didik mereka mulai cerdas menggunakan informasi untuk menghasilkan produk-produk inovatif. Ini tentu berguna bagi kehidupan anak saya dan masyarakat luas,” pujinya.

Apa yang dikerjakan Parulian menjawab persoalan bangsa kita. Sebagaimana UNESCO melansir, tingkat literasi kita kini terendah di dunia. Dari 61 negara yang disurvei, Indonesia anjlok di rangking 60. Bahkan data itu menegaskan, dari 1000 orang hanya satu orang anak didik kita yang punya minat baca. Namun anak-anak Parulian mulai memecah kebuntuan tersebut. (*)

 

 

You may also like
Tingkatkan Literasi, Togu Simorangkir Jalan Kaki 300 -an Km
Resmikan Gedung Baru, OJK KRS 5 Sumbagut Optimis Peningkatan Ekonomi Sumut
Somba Marhula-hula
Malinau-INOVASI Fokus Tingkatkan Literasi
INOVASI Dukung Bulungan Implementasikan GLS  
Konsul AS: Selamat Untuk Sumatera Utara!

Leave a Reply