Sorotdaerah.com – Pandemi Covid-19 melantakkan perekonomian dunia usaha. Pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) memang kelompok masyarakat yang paling merasakan imbasnya. Termasuk para pelaku usaha bisnis perkopian.

“Penjualan kita semasa pandemi ini parah kali, Bang. Menurun. Dulu kita punya pelanggan di Medan, warkop-warkop. Mereka dah tutup. Orang sudah jarang nongkrong atau kongkow. Secara langsung, berimbas ke usaha kopi kita,” terang Adven Simbolon (26), seorang pengusaha muda bisnis kopi lokal asal Dairi.

Apalagi, Adven termasuk pendatang baru di blantika bisnis perkopian tanah air. Ia merintis usaha kopi dengan brand “Sodip Coffee” baru setahun ini. Terbilang muda. Sementara ada banyak jenis brand kopi lokal yang telah beredar dan tenar selama puluhan tahun dari Sidikalang. Ia harus siap berkompetisi secara fair. Kini muncul pandemi yang mengocok ulang segala jenis dunia bisnis.

Namun, situasi ini tidak membuat Adven patah arang. Hantaman pandemi Covid-19 sama sekali tidak menciutkan nyalinya. Meski banyak pelaku usaha kopi yang akhirnya menyerah dan gulung tikar, Adven bangkit dan terus optimis. “Memang harus fight,” kata dia.

Setahun terjun ke agrobisnis kopi, Adven mulai merambah juga ke usaha andaliman bubuk. Kedua produk ini ia kelola dengan saling mendukung. Memang kebun kopinya sempit, hanya lahan seluas 2 rante, atau 20×20 meter persegi. Tetapi Adven tak hilang akal. Bermodalkan ilmu berjejaring semasa kuliah dulu, dia kini mendekati petani kopi lokal untuk memasok biji kopi.

Pemilik brand Sodip Kopi, Adven Simbolon (26) berfoto dengan tanaman kopinya di kebunnya di desa Simartugan, Kecamatan Pegagan Hilir, Dairi, Sumut.

Lelaki muda ini memang basis ilmunya bukanlah pertanian. Ia lulusan sarjana teknik mesin dari Universitas Negeri Medan. Jelas tidak linier ilmunya. Tetapi, sebagai sosok pembelajar mandiri, ia tidak pernah menyerah. Ia selalu berkeyakinan setiap hal bisa dipelajari.

Kecintaannya pada bisnis kopi tidak muncul begitu saja. Ada kisah unik yang turut mempengaruhi. Semasa kuliah di jenjang sarjana, ia kerap menghambur ke toko buku. Apalagi, jika suntuk karena banyaknya tugas mata kuliah, pelariannya biasanya ke bacaan. Awalnya ia akan “bersembunyi” di balik buku-buku teknik dalam 15 sampai 30 menit pertama. Selebihnya ia akan bergeser ke buku-buku ‘berbau’ kopi. Jadilah ia mencintai pengetahuan tentang seputar perkopian.

“Aku suka baca buku di toko buku gramedia Gajah Mada. Yang kusukai buku-buku kopi, dari budidayanya sampai pengolahan dan penjualannya. Aku juga baca-baca artikel, pendukung, nanya-nanya petani. Aku si Thomas orangnya, enggak muda percaya begitu saja sama isi buku. Pasti kucari tau lagi, kusaring dan kudalami,” imbuhnya.

Selain membacai banyak referensi, observasi ke kebun kopi dan menyerap ilmu langsung dari petani kopi, Adven juga menyibukkan diri dengan belajar strategi penjualan gaya moderen. Ia baru belajar memanfaatkan gaya penjualan ala fesbuk dan penggunaan SEO (search enginee optimation).

Namun, baru tahap belajar, mendadak pandemi datang, ia pun gelagapan. “Ilmu masih tanggung, lagian aku mainnya tunggal, jadi enggak maksimal. Tapi enggak apa-apa. Namanya proses belajar,” sahutnya menyemangati diri.

Lelaki yang dulu aktif berorganisasi di kampus mengaku dalam setahun ini ia telah mendengar beragam nyinyiran orang, mulai dari ejekan hingga tudingan sebagai “orang goblok” lantaran tidak memanfaatkan ijazahnya untuk melamar kerja ke perusahaan-perusahaan raksasa. Namun bukan Adven namanya kalau tidak menyenangi tantangan.

Ia tidak memusingkan kata orang. Baginya, membangun bisnis kopi adalah panggilan hidup. Kopi adalah doa. Berdasarkan pemaknaan itulah ia memilih brand Sodip Coffee. Sodip dalam Bahasa Pakpak artinya doa.

Lantaran ia mencintai kopi lokal, dan bertekad memajukan kopi Sidikalang, ia pun memilih Robusta. Jenis kopi yang selama bertahun-tahun, turun temurun pernah membawa harum nama Sidikalang, kampung halamannya. Kopi Sidikalang pernah tenar sampai ke mancanegara. “Mimpi ku cuma itu saja. Mau mengharumkan kembali brand kopi lokal sambil cari uang,” jelasnya.

Logo Sodip Kopi. Sodip artinya Doa (Bahasa Pakpak)

Dengan memahami sejarah kopi lokal Sidikalang, kedekatan kultural serta aspek rohani, jadilah Adven memilih nama Sodip. Dengan logo Rumah Adat Pakpak dan dua keping biji kopi yang disusun miring sehingga tampak serupa tangan sedang berdoa. Sodip artinya berdoa. Jadi, usaha kopi ini adalah doa. Adven percaya, segala usaha akan sukses jika ada restu dari Allah. Doa cara mujarab berkomunikasi dengan Allah.

Adven bercerita panjang lebar mengapa citra kopi Sidikalang jenis Robusta belakangan ini anjlok. Menurutnya, pangkalnya datang dari petani dan masyarakat. Para petani lokal banyak yang tidak paham bagaimana memperlakukan kopi. Tak jarang ia menyaksikan budidaya kopi dikerjakan asal-asalan. Begitu juga proses pengeringan, sangrai hingga kopi sampai dikemas untuk dijual, kerap dilakukan semrawut tanpa kesungguhan hati.

Selain persoalan datang dari petani kopi, muncul problem lanjutan yaitu jerat tengkulak. Tengkulak atau pengepul menguasai mata rantai distribusi dan harga kopi. Sehingga petani kopi kerap tidak mendapatkan keuntungan ideal dari jerih payahnya.

“Sejauh ini saya amati, ternyata, nama kopi Sidikalang semakin jauh terpuruk karena masyarakat juga. Banyak yang enggak kenal kopi, enggak tau cara pengolahan ya. Masakan kopi dijemur di aspal? Ini kan perlakuan yang tidak benar pada biji kopi,” imbuhnya.

Namun Adven tidak mau berdebat. Ia memilih cara paling halus. Perlahan ia mulai mendekati petani dan masyarakat. Ia terbuka dan bersedia mengedukasi dan menyuluh masyarakat bagaimana membudidayakan kopi dengan baik serta bagaimana pengolahannya untuk mendapatkan hasil terbaik. “Sekarang, dengan penyuluhan, keburukan-keburukan mulai terminimalisir,” sambungnya.

Menyaksikan sendiri bisnis kopi lagi drop-dropnya, yang ditandai dengan banyaknya pelaku usaha kopi yang banting setir ke usaha lain dan warung-warung kopi bertutupan, namun Adven membaca situasi ini justru sebagai tantangan, bukan ancaman. “Memang harus petarung agar bisa lolos seleksi alam. Aku masih bertahan, sekalian ini proses belajar, Bang,” kata dia.

Pemilik brand Sodip Kopi, Adven Simbolon (26) berfoto dengan tanaman kopinya yang baru berbuah di kebunnya di Desa Simartugan, Kecamatan Pegagan Hilir, Dairi, Sumut.

Adven mulai merencanakan menggarap lahan milik ayahnya. Ia telah meminta izin sama bapak agar dapat tambahan lahan untuk budidaya kopi. Kebetulan, ayahnya memiliki lahan seluas 2 hektar yang selama ini diusahai orang lain. “Dulu bapak sering pindah-pindah tugas. Jadi daripada lahan itu kosong ditumbuhi belukar, ayahnya menyewakannya ke orang. Jadi selama ini orang lain yang mengusahakan. Aku dah minta ke bapak untuk pakai lahan itu,” tandasnya.

Kini, Sodip kopi pelan-pelan mulai dikenal publik. Adven mengandalkan jejaring pertemanannya. Ia juga mencoba mengenalkan kopinya ke warung-warung di sekitar kampung halamannya di desa Simartugan, Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi. “Ada banyak potensi perkopian di kampung saya yang bisa dikembangkan. Aku yakin, kopi Sidikalang akan kembali mendunia,” pungkasnya. (Red)

Tentang Admin

Redaksi

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan