Home > Kesehatan > Juru Selamat Itu Bernama BPJS Kesehatan

Juru Selamat Itu Bernama BPJS Kesehatan

Oleh Jon Roi Tua Purba

Delapan tahun dirawat di Rumah Sakit, semua biaya kesehatan Magda ditanggung BPJS Kesehatan. Jika tak ada BPJS, bisa jadi Magda hanya tinggal kenangan bagi keluarganya.

***
Jarum jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Suasana Ruang Lavender Rumah Sakit Umum dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar tenang. Setelah mengontrol seluruh pasien, perawat mencatat rekam medik pasien. Di pojok kiri ruangan, Magda tidur pulas.

Bulan Magdalena Hutagaol (27) merupakan warga Desa Matio, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ia merupakan pasien terlama di Rumah Sakit. Jika dilaporkan ke Jaya Supratna pendiri Rekor MURI, barangkali Magda akan mendapatkan prestasi kategori pasien BPJS terlama dirawat.

Magda mengalami kondisi saraf tertidur, istilah medis dikenal dengan kontusio serebri. Tubuhnya kaku. Tak sedikitpun ada respon dari tubuh. Magda tak ubahnya seperti mayat hidup. Kondisi ini terjadi selama 3 bulan awal. Tak ada gerakan sama sekali dari tubuhnya.

“Anak Ibu mengalami saraf tertidur. Masih ada harapan untuk anak Ibu. Ibu tetap berdoa kepada Tuhan ya,” anjur dr. Indra Bakti, delapan tahun silam.

Magda dilarikan ke rumah sakit, pasca kecelakaan hebat pada 22 Maret 2009 di Siborong-borong. Ketika itu, Magda dibonceng seniornya dari Akademi Perawat Rumah Sakit HKBP Balige. Mereka berkendara dari Balige hendak menuju Tarutung.

Belum sampai di Tarutung, di perjalanan Magda mengalami hari naas. Tepat di Jalan Raya Siborong-borong. Mobil bak terbuka menabrak sepeda motor yang ditumpanginya. Magda terpental. Kepalanya membentur aspal. Kondisinya kritis. Oleh warga setempat, Magda dilarikan ke salah satu rumah sakit swasta di Pematangsiantar.

Bulan Magdalena Hutagaol sedang tertidur di Ruang Lavender Rumah Sakit dr. Djasamen Saragih Pematangisantar

Berasal dari keluarga sederhana, biaya perobatan yang besar memberatkan bagi keluarga. Tentu ini tak mudah bagi Melur Panjaitan (49), ibu kandungnya. Apalagi, Melur telah lama menjadi orangtua tunggal. Suaminya kabur entah kemana. Tak ada kabar. Betapa tegarnya keluarga ini menghadapi cobaan demi cobaan.

Keluarga yang awalnya membantu biaya pengobatan Magda sudah mulai kehabisan amunisi dana. Magda harus menjalani proses pemulihan yang sangat panjang nan melelahkan. Menurut dokter, pemulihannya bisa memakan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Tentu biayanya terus membengkak. Padahal pekerjaan Melur hanya sebagai seorang petani biasa.

Indra Bakti, dokter yang menangani Magda paham betul kondisi keluarga ini. Ia menyarankan agar Melur mengurus Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang sekarang bertransformasi menjadi lembaga BPJS Kesehatan.

Semenjak, sudah mengantongi Kartu Kepesertaan BPJS Kesehatan, Magda pun dipindahkan ke Rumah Sakit dr. Djasamen Saragih milik pemerintah Kota Pematangsiantar. Walau pindah tempat perawatan, Magda tetap ditangani dr. Indra Bakti. Dokter ini begitu setia melayani pasiennya. Ia seorang profesional nan humanis.

Walau sudah ditangani dokter yang tepat, namun pergumulan masalah biaya masih terus menjadi momok bagi keluarga ini. Awalnya keluarga bergantian untuk menjaga Magda di Rumah Sakit. Namun, ongkos pergi dan pulang ke Balige terus menambah beban. Hasil pertanian sama sekali nihil. Tak ada yang mengolah ladang. Sebelum akhirnya, Melur menyatakan komitmennya untuk terus menjaga Magda sampai sembuh di rumah sakit.

Melur yakin akan terbuka banyak jalan untuk kesembuhan putrinya. Ia berdoa siang-malam, tanpa putus-putusnya. Ia meyakini pertolongan Tuhan selalu datang. Hingga akhirnya salah seorang Pendeta bersedia memberikan bantuan membayar iuran BPJS Kesehatan bagi Magda. Magda pun terdaftar sebagai peserta BPJS Mandiri. Melur merasa lega, walau masalah dana tak sepenuhnya terselesaikan. Karena ia sendiri juga mempunyai kebutuhan untuk tetap bertahan hidup. Belum lagi asupan gizi pada Magda harus terus diberikan.

Bagi Melur BPJS adalah penyelamat dan penyambung nyawa anaknya. Magda sudah bertahun-tahun dirawat di rumah sakit entah sudah berapa dana yang dihabiskan. Ia tak bisa membayangkan jika tidak ada BPJS. Jika seandainya saja sehari menghabiskan 1 juta rupiah, berarti setahun sudah 365 juta rupiah. Dan jika ini dikalikan 8 tahun berarti sudah menghabiskan dana sedikitnya 2,9 miliar rupiah. Maka layaklah BPJS dikatakan sebagai penyelamat.

“Betapa tertolongnya kami karena layananan BPJS. Saya yakin anak saya Magda pasti sembuh. Jika dihitung dengan biaya sendiri, pasti tak sanggup,” ungkapnya penuh haru.

Magda ketika masih sehat

Hingga saat ini, dr. Indra Bakti terus memantau perkembangan Magda. Perkembanganya menurutnya cukup baik. “Saat ini Magda sudah bisa menggerakkan kepala, tangan dan kakinya. Fungsi sarafnya sudah semakin membaik. Untuk kasus seperti Magda perlu penanganan khusus dan membutuhkan waktu yang panjang. Harus Sabar!” kata Melur menirukan penjelasan dokter ahli saraf ketika ditemui di rumah sakit.

Sebagai dokter yang menangani Magda, Indra terus memotivasi dan menyemangati Melur. Menurutnya sebagai orang tua Melur juga menjadi perawat yang sangat luar biasa bagi Magda.

Magda jelas merasakan kebermanfaat BPJS Kesehatan. Dengan pertolongan BPJS Kesehatan, putrinya bisa melewati masa kritisnya. Pelayanan yang dirasakan juga menjadi bukti bahwa BPJS sangat dibutuhkan dan memberikan pertolongan nyata. Magda mungkin satu dari jutaan pasien yang beruntung karena pelayanan BPJS.

Delapan tahun mendapatkan pelayanan dari BPJS bukanlah waktu yang singkat. Pelayanan BPJS memang dibutuhkan masyarakat. Mungkin ada pasien yang sama seperti Magda yang membutuhkan pelayanan BPJS. Dan terbukti bahwa BPJS memberikan pelayanan terbaik. Apalagi kasus seperti Magda merupakan kasus langka.

Ungkapan terimakasih yang tak terhingga dialamatkan Melur kepada BPJS Kesehatan. Terimakasih juga ditujukannya kepada dokter Indra yang dengan sepenuh hati, daya dan nalar memberikan pelayanan terbaik kepada anaknya. Demikian juga untuk Rumah Sakit tempat Magda dirawat.

“Apa yang dialami anak saya Magda termasuk kasus yang langka menurut dokter. Ini lain dari yang lain. Karena itu saya sangat berterimakasih pada BPJS. Terus hadir untuk masyarakat sebagai penyelamat,” doanya. (*)

You may also like
Andika Bocah 8 Tahun Gagal Berobat Pakai Kartu BPJS
Hidup Susah Karena KTP
Putus Sekolah, Susah Akses Layanan Kesehatan, Komunitas Pemulung Mengadu Ke DPRDSU
Salah Rumah Sakit Sajakah ?
RSU Theotokos Lulus Akreditasi Berbenah Menuju Kerjasama Dengan BPJS
Gerbang Utama RSUD Belum Difungsikan

Leave a Reply