Home > Kolom > Aku Ingin Jadi Fotografer

Aku Ingin Jadi Fotografer

Oleh Lindung Silaban

Ia berbeda dengan anak yang lain. Ia tidak sesempurna temannya. Namun Ia memiliki impian yang besar.

Semua orang berhak menggantungkan cita-citanya setinggi langit dan menancapkan tujuannya di jantung kehidupan yang sukses. Tidak satupun manusia didunia ini lahir tanpa bakat dan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan. Maka bermimpilah.

***

Ia adalah Robby Syharul Ramadhan Sinulingga (16). Ia yang akrab disapa Ramadhan kini duduk dibangku SMP di sekolah luar biasa (SLB) Batu Bara. Ia dilahirkan ke dunia ini menyandang tuna daksa. Kedua kakinya mengecil sehingga tidak bisa digunakan untuk berjalan. Sehari-hari ia merangkak dan menggunakan kursi roda untuk berpindah tempat.

Putra dari Kusmiadi (54) dan Narsi (52) ini sedang menekuni salah satu olahraga yang dipertandingkan ditingkat olimpiade nasional yakni balap kursi roda. Ramadhan telah mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) semenjak tahun 2015 sebagai perwakilan Sumatera Utara (Sumut) dan berhasil meraih medali emas di O2SN 2017 di Medan. Prestasi ini cukup membanggakan bagi kedua orangtuanya dab gurunya. Baginya, menggeluti olahraga balap kursi roda sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, selain mendapatkan uang saku, ia punya kesempatan untuk menjelajah beberapa kota di luar kota Medan.

Sejak kecil Ramadhan tidak pernah mengeluh atas nasib yang menimpanya. Ia mensyukuri sebab apa yang dialaminya ini adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa dielakan. “Aku selalu percaya diri meskipun terkadang di ejek teman. Bagiku itu hal biasa pak. Aku syukuri semua dari Tuhan,” ungkapnya beberapa waktu yang lalu.

Cita-cita

Selain menggeluti dunia balap kursi roda, ia juga suka menjepret memakai smartpohe yang dimilikinya. Ternyata Ramadhan punya impian sebagai fotografer. “Aku ingin jadi fotografer. Saat ini aku suka mengedit foto, karena bagiku jadi fotografer itu sangat menyenangkan,” ucapnya.

Menurutnya profesi tersebut sungguh menyentuh dan memikat hatinya. “Rasanya menyenangkan kalau aku jadi fotografer,” tambahnya.

Namun sayangnya impian itu belum mampu diraihnya. Ia belum memiliki kamera karena terkendala dana. “Orangtuaku miskin pak. Mana mungkin mampu beli kamera yang harganya jutaan,” keluhnya.

Orangtua Ramadhan bekerja sebagai pejual tahu keliling setiap hari. Pendapatan sehari cukup untuk hari itu juga.  Sehingga Ia tidak berharap banyak kepada orangtuanya untuk membeli kamera. Dirinya yakin suatu saat ada jalan untuk memiliki kamera yang bagus. “Kalau sudah besar nanti, aku berusaha beli kamera supaya bisa jadi fotografer,” harapnya.

Ternyata impian seseorang tidak dapat diukur dari kesempurnaan tubuhnya, akan tetapi jiwa, pemikiran dan semangat hidup akan membangun satu impian yang indah. (*)

You may also like
Pria Pemalu Yang Jatuh Cinta Pada Kamera
Dua Maling Sepedamotor Terekam Kamera CCTV Warnet
Ini Era Fotografi Ponsel

Leave a Reply