Home > Kolom > BPJS Kesehatan Mengembalikan Kehormatan Kami

BPJS Kesehatan Mengembalikan Kehormatan Kami

Dicibir sebagai perempuan ‘nakal’, Christina setahun lebih menebalkan telinga. Ia dituding suka ‘jajan di luar’, dan ‘hamil di luar nikah.’ Tuduhan itu muncul hanya karena perut janda tua ini membesar. Cibiran serupa juga diterima Naftali. Perempuan muda ini dicap hanya pintar ‘bikin anak’, tapi tak mampu memikirkan masa depan. Dua perempuan ini didera persoalan kesehatan. Mereka diberi stereotype buruk oleh publik. Tanpa pernah mengklarifikasinya. BPJS Kesehatan menjadi juru selamat bagi keduanya. Bahkan BPJS Kesehatan telah mengembalikan kehormatan kedua perempuan tangguh ini. 

***

Naftali saat kami jenguk di kontrakannya pasca partus. Ia melahirkan bayi perempuan dengan kondisi sehat.

Naftali nyaris meregang nyawa saat mau partus. Ia dilanda ketakutan dan kebingungan hebat. Bersebab ia tak punya duit. Sedang janda tua, Christina secara sembunyi-sembunyi merangsek dari kontrakannya di kala subuh demi menghindari tatapan nyinyir para tetangganya.

LASMA Naftali Sipahutar (21) sudah lima jam kesakitan. Pukul tujuh pagi, ketubannya pecah. Ia panik. Suaminya, Maruli Tua Purba (21), yang sedang sakit, tak tahu harus berbuat apa. Berulang kali Naftali menjerit kesakitan. Bayi di dalam perutnya terus bergerak. Kontraksi makin kentara. Setiap kali kontraksi, Naftali keringat dingin.

Marisi Siregar (60), Ibu kandung Naftali segera bertindak. Ia berkeliling mencari bantuan ke tetangga-tetangganya di lokasi pinggiran rel kereta api, Kelurahan Tanjung Gusta, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Deliserdang. Salah satu tetangganya, bermarga Siringo-ringo bersedia membantu. Ia langsung menyalakan becak mesinnya. Naftalipun diboyong ke Puskesmas Desa Muliorejo, Km 12, Kecamatan Sunggal, Deliserdang. Mereka tiba di puskesmas sekitar pukul 8 pagi.

Bidan memeriksa kondisi Naftali dan calon bayinya. Kondisi Naftali sudah lemas. Wajahnya pucat pasi, sementara air ketubannya sudah banyak berkurang. Kepala Puskesmas, dr. Hj. Muzdalifah menganjurkan agar Naftali segera dirujuk ke Rumah Sakit untuk dioperasi sesar. Mendengar kata “operasi”, keluarga Naftali tambah panik. Pasalnya mereka tidak punya uang. Selama ini mereka berharap Naftali bisa melahirkan secara normal demi menghindari masuk rumah sakit. Namun pihak Puskesmas menegaskan, bayinya Naftali sudah waktunya lahir. Operasi menjadi jalan satu-satunya. Lantaran, keluarga ini tidak memiliki kartu Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), Naftali pun tidak bisa dirujuk ke Rumah Sakit Umum Lubuk Pakam.

Sehingga pilihan satu-satunya, mencari rumah sakit terdekat. Pagi itu, dengan beca motor yang sama, Naftali diboyong ke Rumah Sakit Swasta Full Bethesda di Jalan Medan-Binjai Km 10,8. Sebelum berangkat, dokter Muzdalifah menyelipkan uang Rp 300.000 ke kantong Naftali. Sesampainya di Rumah Sakit, Naftali tidak bisa langsung mendaftar. Mereka harus mengantre. Setelah selesai mendaftar, ia dibawa ke sebuah kamar (kelas tiga). Ia tidak langsung mendapat pertolongan, karena pihak keluarganya belum datang. Pihak rumah sakit mengatakan, tindakan medis baru bisa diberikan jika ada pihak keluarganya yang menandatangani berita acara operasi persalinan.

Waktu itu, Marisi, ibu korban sedang mencari pinjaman ke tetangga. Sebelumnya, saat mendaftar untuk persalinan, keluarga ini mengalami kendala. Rumah Sakit menetapkan aturan setiap pasien harus membayar panjar (uang muka minimal Rp 500.000). Sementara uang di tangan Naftali cuma Rp 300.000, yang tadi diselipkan kepala puskesmas. Pinjaman dari tetangga yang diupayakan keluarganya akhirnya mampu menutupi kekurangan untuk bayar uang muka. Barulah Naftali bisa mendaftar.

Enam jam kemudian, akhirnya Naftali selesai operasi sesar. Ia melahirkan seorang bayi perempuan dengan kondisi sehat. Namun pasca partus, daya tubuh Naftali benar-benar anjlok. Ia baru bisa keluar dari ruang persalinan sekitar pukul 8 malam. Sedang putri kecilnya sudah dipindahkan ke kamar bayi.

Naftali saat di rumah sakit Full Bethesda, sesaat sebelum partus.

Pihak Rumah Sakit mewanti-wanti agar keluarga Naftali segera mengupayakan kartu keanggotaan BPJS. Tenggat waktu yang diberikan untuk mengurus kartu BPJS itu hanya 3×24 jam. Pasalnya Rumah Sakit Swasta Full Bethesda, salah satu lembaga kesehatan yang bekerjasama dengan pihak BPJS. Dibantu Uba Pasaribu, Ketua Pemulung Kota Medan, pengurusan kartu BPJS Kesehatan Naftali pun berhasil, walau molor hingga lima hari. Ikhwal Maulana, Bagian Humas BPJS Lubuk Pakam menjadi orang baik dibalik kemudahan pengurusan kartu BPJS Kesehatan itu.

“Suruh saja keluarga korban datang ke kantor saya. Akan saya bantu. Kalau pembuatan kartu keanggotaan BPJS saya siap sedia bantu. Bisa siap sejam kok. Cuma kan ada iurannya. Jadi saran saya, ibu Naftali itu sebaiknya dilaporkan dulu ke Dinas Sosial, karena mereka ada dana untuk menalangi orang-orang susah begituan,” anjurnya via telepon seluler.

Atas saran Maulana, kami pun menguruskan kartu BPJS Kesehatannya. Tak makan waktu lama, kartu BPJS Kesehatan Naftali dan keluarganya pun kelar. Dengan kartu itu, akhirnya, seluruh biaya persalinan Naftali ditanggung BPJS Kesehatan. Keluarga ini pun bisa tersenyum lega. Mereka bisa membawa pulang bayinya dengan sukacita.

Miskin

Naftali merupakan salah satu keluarga yang masuk golongan paria. Warga miskin parah. Sejak kecil ia sudah memulung. Di usianya yang baru menanjak 19 tahun, ia jatuh hati dengan seorang laki-laki. Usia kekasihnya hanya bertaut satu tahun. Sialnya, lelaki yang dikasihinya itu ternyata mengidap penyakit komplikasi di perut. Sehingga sejak menikah, suaminya tidak bisa bekerja karena jatuh sakit sampai kini. Naftali menjadi tulang punggung keluarganya.

Keluarga ini menjalani hidup secara berpindah-pindah. Sempat tinggal di sebuah kandang ternak di daerah lahan  garapan di Desa Helvetia. Lalu, Orangtua Naftali membantu pasutri ini untuk mendapatkan satu bilik kontrakan di daerah pinggir rel di daerah Tanjung Gusta. Untuk memenuhi nafkah harian, Naftali saban hari memulung bersama ayah ibunya. Ayahnya, Warbet Sipahutar (60) seorang pengemudi beca dayung namun matanya sudah katarak. Begitu juga ibunya mengalami penyakit serupa.

Akibat didera kemiskinan pula, pasutri miskin ini rela ‘berbulan madu’ selama enam bulan di kandang ternak. Mereka terpaksa menginap di sana. Pasutri ini menuturkan, mereka pernah mengontrak kamar, namun lantaran tidak sanggup membayar sewa, mereka pun diusir pemilik kontrakan. Kini Naftali tak lagi dicap tetangganya hanya pintar bikin anak. Kehidupannya di tengah masyarakat pemulung perlahan mulai dihormati, seiring mereka melihat kesungguhan Naftali merawat dan membesarkan anaknya, juga merawat dan mencintai suaminya yang sakit-sakitan.

Penderita Tumor

Janda tua ini dituding hamil karena perutnya besar. Padahal perempuan ini mengidap kanker di perut.

CHRISTINA Hutagalung (56) juga merasakan kehadiran BPJS Kesehatan. Ditemui di rumah kontrakannya, di desa Muliorejo, Pinggiran rel kereta api, Jalan Binjai Km 13, Deli Serdang, janda tua ini menyambut kami dengan bahagia. Kondisi tubuhnya sudah benar-benar pulih pascaoperasi tumor ganas di perutnya. “Saya disarankan dokter rehat enam bulan. Saya diminta untuk tidak memulung dulu. Tapi sekarang, sudah sembuh,” bebernya.

Pertama sekali bertemu Christina adalah di sebuah gudang botot, masih di KM 13, namun jaraknya jauh dari kontrakannya. Waktu itu, baru dua bulan ia bekerja pada pemilik gudang botot itu. Di sana ia hanya ditugasi memilah-milah sampah plastik, kertas dan aluminium. Ia diupah Rp 35 ribu perhari. Sehari ia harus bekerja mulai pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore. Bagi dia, pekerjaan ini lebih ringan ketimbang sebelumnya: memulung keliling. Masuk gang dan lorong sembari memanggul goni. Ia musti sambangi jalanan dan tempat-tempat sampah. Mengorek dan memilah-milah sampah mana yang layak jual. Ia melakukannya dengan berjalan kaki. Tak terbayangkan lelahnya.

Itu pun tak jelas pendapatannya per hari. Jumlah sampah yang diperolehnya tidak menentu. Karena itu, ketika seorang pengusaha gudang botot menawarkannya bekerja, ia segera mengangguk. Saya mendapatkan informasi tentang keberadaannya, dari seorang rekan. Begitu kami bertemu, janda tua ini bercerita tentang dirinya yang kerap dicibir para tetangga. Dituding hamil lagi, karena perutnya tampak membuncit. Padahal suaminya sudah lama mendiang. Ia kerap tidak tahan menerima cibiran itu. Karena itulah setiap pagi, ia buru-buru meninggalkan kontrakannya dan baru pulang jika malam sudah gelap. Itu satu-satunya cara dia menghindari tatapan mata nyinyir dari para tetangga.

Sudah hampir setahun ia mengidap kanker tersebut. Ia berusaha menutup-nutupinya. Ia kerap mengenakan baju hangat. Tak lupa selembar sarung dijadikannya sebagai penutup kepala. Ia juga membawa bontot untuk sarapan siangnya beserta air putih di eks botol air mineral. Supaya ia tak bolak-balik pulang ke kontrakannya. Tak ada yang tahu penyakit yang bersarang di perutnya itu. “Mereka menuduhku perempuan tak tau diri. Sudah tua hamil lagi, apalagi suamiku sudah tiada,” bebernya.

Ia tetap memulung sekalipun penyakitnya sesekali kambuh. Penyakitnya itu diketahui ketika ia pernah mengeceknya ke Rumah Sakit di Sunggal. Diagnosis dokternya menyebut, di dalam perutnya bersarang kanker yang semakin membesar. Kanker itu harus segera dicabut agar tidak membesar. Namun karena tak punya uang, Christina menahan-nahankannya. Hingga suatu hari, ia limbung oleh rasa sakit yang luar biasa. Belakangan daya tahan tubuhnya merosot. Ia mudah lelah. Akhirnya ia meminta rehat beberapa hari dari pekerjaannya. Ketika ia terbaring di rumahnya, tanpa ada yang mengetahui, seorang rekan saya menjenguknya. Rekan itu pun mengontak saya.

Lalu dengan insight jurnalis yang saya punya, segera saya tulis berita tentang Christina. Dalam hitungan menit, saya kirim ke media tempat saya bekerja. Di media online, berita itu segera tayang dan dibagikan ratusan kali. Namun tak juga ada hasilnya. Seminggu kemudian, berita lanjutan saya tulis lagi, namun masih menggunakan sumber yang sama. Berita itu pun kembali tayang baik di media online maupun cetak.

Kali ini saya juga membawa beberapa jurnalis dari media lain untuk meliput. Berita hasil liputan itu, kami bagikan di jejaring media sosial. Beberapa hari kemudian, mengalir sejumlah bantuan. Ada yang datang memberikan uang sejuta, ada yang mengantar beras, ada juga yang menyumbangkan obat ramuan Tiongkok. Untuk sementara, sumbangan itu  cukup membantu Christina yang sudah hampir dua minggu tidak bekerja.

Tak dinyana, Kepala Humas BPJS Kesehatan Sumut Irfan Humaidi mengontak saya. Irfan menanyakan perihal kebenaran fakta berita yang saya tulis. Lalu saya jelaskan via telepon. Mendengar penjelasan saya, Irfan pun ikut prihatin. Sebagai bentuk empati dan respon positifnya, ia kemudian menghubungkan saya dengan Humas BPJS Cabang Lubuk Pakam, Ikhwal Maulana.

Ia meminta saya agar memfasilitasi mereka bertemu dengan Christina. Saya sanggupi. Namun karena mempertimbangkan keterangan saya, tentang lokasi rumah kontrakan korban yang di pelosok, di Jalan Binjai KM 13, di pinggiran rel kereta api, ia pun mengurungkan niat. Sebab akses jalan menuju ke rumah Christina tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Medannya jalan setapak, dan masuk gang.

Akhirnya pihak BPJS Kesehatan Lubuk Pakam meminta saya membawa Chistina ke kantornya. Saya sanggupi. Esoknya saya dan rekan Uba Pasaribu, aktivis Pemulung membawa Christina ke Lubuk Pakam. Kami naik beca mesin. Setibanya di sana kami diterima dengan baik. Kepala Cabangnya, dr Phindo Bagus Dharmawa, Kepala Humasnya Ikhwal Maulana dan Kepala Unit MK UPMP4 Pretty menerima langsung kehadiran Christina Hutagalung di ruang kerjanya, di Jalan Diponegoro No 111 BC, Lubuk Pakam, Sumut.

Alhasil, hari itu hanya butuh waktu 15 menit, Kartu Indonesia Sehat-nya Christina langsung diterbitkan. Kami pun bisa bernafas lega. Maulana berterima kasih kepada saya yang sudah berkenan melacak orang susah seperti Christina sekaligus menulis kisahnya di media.

“Terima kasih Pak Dedy. Kami tahu informasi tentang Bu Christina ini setelah membaca tulisan bapak di media online. Kami senang sekali. Kami minta maaf selama ini. Kami juga meminta Bapak agar jangan bosan-bosan menulis tentang orang-orang beginian. Kalau kami pak, tak bisa kami jangkau semua orang, karena wilayah Deli Serdang ini begitu luas. Dengan bantuan jurnalislah, kami bisa tahu informasi yang luput dari perhatian kami,” ujarnya memuji.

Apresiasi

Saya senang karena apa yang saya lakukan justru diapresiasi pihak BPJS Kesehatan. Mereka tidak berang dengan kritik saya di media. Mereka bahkan meminta saya terus menulis. Saya lebih senang karena akhirnya bisa membantu Christina. Sebagai jurnalis media lokal, saya tidak punya uang untuk membantu orang lain. Kemampuan saya hanya menulis. Itu satu-satunya yang saya punya dalam hidup ini. Namun dengan model itu pun, saya bisa berbagi hidup dengan orang lain.

Setelah itu kami pulang. Esoknya, Christina segera masuk rumah sakit. Ia menjalani operasi. “Sebesar bola volley kankernya dikeluarkan dari perutku,” katanya menceritakan saat saya berkunjung ke kontrakannya, beberapa hari lalu.

Rumah kontrakan Christina Hutagalung di pinggiran Rel Jalan Binjai Km 13, Desa Mulio Rejo, Deliserdang

Ia tergopoh-gopoh membuka pintu saat kami datang. Ia malu karena sama sekali tak bisa menggelar tikar atau menyediakan kursi untuk duduk. Kontrakannya nyaris kosong melompong. Tak ada kursi atau meja. Rumah dengan dua kamar itu bahkan hanya mengandalkan satu lampu 25 watt sebagai penerangan. Tidak ada kamar mandi.

Saya senang saat dipersilakan duduk. Kami berselonjor di lantai. Lobang ada di sana-sini lantai rumahnya. Saya tak mempedulikan kondisi itu. Saya datang hendak menjenguknya, sekaligus mencari tahu informasi tentang perkembangan kesehatannya. “Sekarang sudah sehat. Ini sudah bisa kerja lagi. Maaf, saya pesankan minuman dulu ya ke warung,” katanya menawarkan.

“Saya sudah minum tadi sebelum ke sini,” jawab saya menolak halus.

Saya senang melihat dia sudah lebih segar. Bahkan dua bulan lagi ia sudah bisa kembali memulung. Terjun pada aktivitas hariannya. Yang paling menyenangkan, beber Christina, orang-orang kini sudah tak lagi mencibirnya setelah tahu kalau di dalam perutnya yang membesar itu bukanlah janin, melainkan sebuah penyakit ganas. Sepasti nasib Naftali yang berubah lebih baik, BPJS Kesehatan juga telah mengembalikan kehormatan Christina. Tetangganya kini tak lagi mencibirnya. Mereka makin respek terhadap janda tua ini. (Dedy Hutajulu)

You may also like
Pakai Sepeda Motor Curian, Pemulung Diangkut Polisi
Balita 3 Tahun Idap Tumor Mata Stadium 4 
Juru Selamat Itu Bernama BPJS Kesehatan
Friska Mawel Bayi 4 Bulan Memprihatinkan
Mahasiswa USU Bantu Warga Miskin
Sempat Ditahan RSU 2 hari, Bayi Umur 16 Hari Akhirnya Diizinkan Pulang

Leave a Reply