Home > Kolom > Ciptakan Generasi Emas Karate

Ciptakan Generasi Emas Karate

Oleh Lindung Silaban

Mewujudkan mimpi tidak gampang. Butuh kemauan dan keberanian mengambil resiko. Itulah namanya berani bayar harga.

***

Lelaki itu tidak punya banyak uang. Namun dia menjadi bintang terang bagi orang lain. Dari sasana latihannya (dojo), ia telah melahirkan sejumlah atlet peraih medali emas. Siapakah lelaki itu?

Wanda demikian sapaan akrab bagi banyak orang. Ia putra kelahiran Tarutung, 5 September 1983.  Seorang pelatih karate asal kota Tarutung. Ia selalu ingin ciptakan atlet karate generasi emas masa depan karate Indonesia.

“Hanya satu keinginan saya, yaitu menghasilkan atlet yang mumpuni juara nasional dan internasional,” kata Riswanda Pane penyandang sabuk hitam Dan III Wadokai ketika ditemui dalam satu event karate di kota Medan beberapa waktu lalu.

Kini ia melatih disalah satu dojo Wadokai Siualuompu jalan MH Manullang desa Siualuompu, kecamatan Tarutung kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Dojo ini berdiri dua tahun yang lalu. Dibangun dengan keterbatasan dana, mengandalkan tenaga dan bahan-bahan yang ada, akhirnya berdirilah satu tempat latihan yang telah menciptakan atlet berprestasi.

“Tanpa pemerintah kita bangun dojo itu. Saya tau hal ini tidak mudah namun demi sebuah impian” ucapnya dengan semangat.

Dojo Siualuompu telah mengukir sejumlah prestasi daerah, nasional hingga ke negara tetangga Malasyia. Torehan medali perak 6, perunggu 2 dalam kejuaraan di Malasyia,  1 emas dalam piala Panglima, satu perunggu piala Mendagri, 2 Emas dan 1 perak dalam piala Bandung Karate Club (BKC) Open 2017 International Karate Championship.

Wanda melatih dengan sepenuh hati. Ia rela memberi waktunya lima hari dalam sepekan untuk melatih muridnya. Ia tidak sendiri. Ia ditemani oleh sang istrinya yang juga mantan atlet karate Sumatera Utara (Sumut), Kristina Simanjuntak. Dengan mengandalkan semangat, mereka rela melatih tanpa bayaran dari siapapun. Mereka tetap mengutip uang latihan setiap bulannya namun tidaklah mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam keluarga.

“Kami kurang diperhatikan oleh pemerintah, sementara dari uang latihan anak-anak tidak mencukupi kebutuhan kami,” terangnya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ia harus melanglangbuana melatih ke sekolah-sekolah. “Seharusnya pemerintah berani memberi perhatian supaya lebih fokus melatih,” tuturnya.

Semuanya itu tidak meluluhlantahkan semangatnya untuk berkarya demi anak bangsa.

Boleh jadi hari ini, Dojonya belum dikenal publik, namun siapa bisa menebak, dua tiga tahun lagi, dari sana akan mencuat ratusan atlet-atlet kawakan dan Sumut meledak jadi gudang para atlet hebat. Hajime….. (*)

You may also like
Dojo Wadokai Siualuompu Sabet 2 Emas

Leave a Reply