Home > Kolom > Duit

“Jenderal, ada pembagian duit,” teriak-teriak Kopral Jono di teras rumah Jenderal Nagabonar.

“Bah, duit apa pulak itu Jono?”, tanya Nagabonar ingin tahu.

“Duit Pilgub Sumut Jenderal”, kata Jono, “ada kandidat murah hati. Setiap calon pemilih didatanya dan dijanjikan akan menerima 200 ribu per kepala kalok nanti dia dipilih”.

“Oalahaaaaah, sayang kali otak itu bah” Nagabonar menggerutu.

“Sini kau Jon”, Nagabonar memanggil Jono. “Berapa kau terima? Dua ratus ribu? Itu untuk berapa lama? Lima tahun?”

“Yang pande kau sikit. Dua ratus ribu untuk lima tahun? Jadi berapa kau terima setahun? Empat puluh ribu kan? Hahahahahaaaa 40 ribu dikasi nya kau lo Jon setahun. Lalu coba dulu kau hitung, yang empat puluh ribu itu berarti sebulannya kau terima cuman tiga ribu perak. Hahahaaa Tiga ribu… Terus hitung kau lagilah, sehari berarti kau dapat 100 rupiah Jon. Hahahahaaa lucu kali kau ini Jon. 100 perak mana ada nilainya, udah bukan uang itu lagi di jaman sekarang”, Nagabonar tertawa terpingkal-pingkal.

Jono hanya bisa menunduk. Mana pernah ia menghitung seperti kali-kalinya Nagabonar.

Nagabonar melanjutkan, “inilah mental kita Jon. Kita merasa mendapatkan duit. Padahal yang kita terima itu nilainya kek angin. Kek kentut aja pun itu, nggak terasa. Jadi berpikir panjanglah kau Jono, Jono. Uang tak boleh membeli hakmu Jono. Kalau dia yang ingin menang memberikan uang, maka kelak ketika ia menang, kerjanya makan uang kau Jon. Uang rakyat Jon akan dirampoknya! Paham kau Jono?”

(Dari FB Nagabonar)

You may also like
Kita Mencari Pemimpin Sejati
Salah Urus
Jangan Karena SARA, Ketua
Besok, KPU Umumkan Resmi Pasangan Cagub-Cawagub
Perang Kampanye
Te Es

Leave a Reply