Home > Kolom > Jalan Sosialisme Vietnam

Jalan Sosialisme Vietnam

Judul: Revolusi di Sungai Merah: Perjuangan Vietnam di Pusaran Kolonialisme dan Globalisme
Penulis: Agus Marwan
Penerbit: Ombak
Cetakan: I, 2017
Tebal: xx + 204 halaman
ISBN: 978-602-258-439-1

KENISCAYAAN kolonialisme adalah dominasi negera penjajah terhadap terjajah. Dominasi tersebut kerap menyebabkan konflik di antara kedua pihak. Bagi penjajah, superior tersebut menguntungkan baik ekonomi, politik, dan bahkan budaya –memang itulah tujuan kolonial (gold, glory, gospel).

Sedangkan bagi terjajah, kolonialisme menumbuhkan mental inferior. Namun, kebanyakan negara terjajah, dominasi penjajah menjadi akar tunjang kesadaran bahwa ada tatanan yang tidak adil. Kesadaran inilah yang melahirkan nasionalisme.

Nasionalisme mengisyaratkan adanya komunitas terbayang –meminjam istilah Benedict Anderson- yang menghendaki tatanan berbeda dari tatanan penjajahan. Pembalikan tatanan hanya dapat dilakukan oleh terjajah, sebab penjajah akan berupaya mengultuskan tatanan ciptaannya. Demi tatanan baru maka mekarlah nasionalisme dengan formulanya. Tentu formula nasionalisme tidak sama dari setiap negara terjajah.

Formula nasionalisme Indonesia, misalnya, tidak sama dengan Vietnam dalam mengusir penjajah dari negerinya masing-masing. Formula tersebut yang dipaparkan Agus Marwan (2017) dalam bukunya Revolusi di Sungai Merah: Perjuangan Vietnam di Pusaran Kolonialisme dan Globalisme perihal bagaimana Vietnam bisa mengusir penjajah dari negerinya.

Sejarah Vietnam diwarnai banyak konflik dengan bangsa asing. Sejak tahun 181 SM hingga 939 SM Vietnam di bawah kekuasaan Tiongkok. Hampir 900 tahun lamanya Vietnam bergeliat dalam konflik laten dan terbuka (hal 17).

Selanjutnya Perancis, Jepang, dan Amerika Serikat bergantian menjajah Vietnam. Ketiga negara yang disebutkan terakhir ini menjadi fokus Agus Marwan dengan intensitas lebih pada Perancis dan Amerika Serikat. Selain itu, Agus Marwan juga mengulas bagaimana Vietnam bertahan di pusaran globalisasi setelah merdeka (sampai tahun 90-an).

Antara kedua masa itu, pusaran kolonialisme dan globalisasi, Agus Marwan melengkapi dengan faksionalisasi di elite Vietnam sendiri.

Kilas Sejarah Vietnam

Sejarah Vietnam sebagai negeri terjajah sangat kompleks. Sebagaimana negeri-negeri terjajah lain, kedatangan penjajah berawal dari perdagangan dan agama. Namun tujuan sekadar berdagang berubah menjadi menjajah.

Abad ke-19 Perancis telah menanam pengaruh kekuasaannya di Indocina. Saat itu, disebut Indocina adalah bangsa taklukan Perancis dalam satu federasi yang terdiri dari Vietnam, Kamboja (dikuasai 1867), dan Laos (dikuasai 1893).

Kendati Indocina berada dalam satu kekuasaan, namun Perancis memperlakukan berbeda. Terhadap Laos dan Khmer (Kamboja), Perancis memerintah secara tidak langsung.

Sedangkan terhadap Vietnam, Perancis mencampuri langsung roda pemerintahan. Dengan kata lain, kehadiran penjajah di Vietnam sangat nyata. Perancis juga menerapkan prinsip asimilasi terhadap Vietnam.

Prinsip asimilasi ini memaksakan kebudayaan Perancis mewarnai rakyat Vietnam. Sikap Perancis itu menumbuhkan antipati rakyat Vietnam (hal 24-26). Gerakan perlawanan kolektif Vietnam terhadap kolonial tumbuh pada 1920-an. Perlawanan kolektif ini tidak satu, tapi dua kubu.

Menurut Agus Marwan, mereka terdiri dari kelompok nasionalis dan sosialis-komunis. Kubu nasionalis melakukan perlawanan secara terbuka dan konfrontasi total. Dengan metode ini, ketika Perancis meredam perlawanan itu, pimpinannya turut tertangkap. Sedangkan kubu sosialis-komunis melancarkan perlawanan “bawah tanah” sambil mencetak kader-kader dan mencari dukungan dari rakyat (hal 68).

Pendudukan Perancis di Vietnam berganti tatkala Perancis dan sekutunya kalah perang melawan Jerman. Terbentuklah pemerintahan boneka Nazi di Perancis. Konsekuensinya, pemerintahan itu akan patuh kepada Jepang sebagai sekutu Jerman, sehingga Jepang pun menduduki Vietnam sebagai jajahannya pada Mei 1941.

Pergantian pendudukan itu menambah gelora perjuangan nasionalis dan sosialis-komunis Vietnam. Saat pergantian kekuasaan itu, wakil pemuda dari golongan nasionalis dan sosialis-komunis mengadakan pertemuan dan membentuk Viet Nam Doc Lop Dong atau Viet Minh sebagai wadah perjuangan bersama.

Kendati sebagai wadah perjuangan bersama, material Viet Minh didominasi oleh kaum sosialis-komunis (hal 19-20).
Di bawah pimpinan Ho Chi Minh yang komunis, organisasi Viet Minh tumbuh menjadi kekuatan revolusioner tangguh. Dengan dilandasi Marxisme-Leninisme, kaum pejuang kemerdekaan dalam organisasi ini melancarkan perang gerilya.

Mereka merebut tanah dari tuan tanah untuk kemudian dibagikan kepada petani. Mereka juga melakukan penyadaran akan hak kepada rakyat. Pembaruan sistem pertanahan (land reform) dan gerakan penyadaran ini mendapat dukungan dari rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Simpul dukungan rakyat dan segenap kegigihan, Viet Minh mampu mengalahkan Perancis di Bien Dien Phu dan memaksanya hengkang dari Vietnam.

Saat pertempuran berlangsung, peredaan konflik kedua belah pihak telah diupayakan dengan damai melalui koferensi di Jenewa pada April 1954. Hasil konferensi tersebut memberi kemerdekaan kepada tiga negara Indocina (Vietnam, Kamboja dan Laos).

Konferensi Jenewa juga membagi Vietnam menjadi dua bagian: utara yang sosialis-komunis dan selatan berhaluan kapitalis. Perjanjian itu juga mengatur penyatuan kembali Vietnam yang terpisah melalui pemilihan umum pada Juli 1956. Namun pihak selatan yang dipimpin Presiden Ngo Diem Dhim tidak bersedia atas anjuran penyatuan Vietnam (hal 52-53).

Kompleksitas masalah di Vietnam disusupi dua kekuatan antara Blok Barat dengan kapitalismenya (Amerika Serikat) dan Blok Timur dengan komunismenya (Uni Soviet dan Tiongkok). Khawatir efek domino dari sosialisme Vietnam terhadap kawasan Asia tenggara, Amerika Serikat lantas mengintervensi negara yang baru merdeka itu.

Padahal, menurut Agus Marwan, sosialisme Vietnam bukanlah internasionalis a la Uni Soviet, melainkan nasionalis (hal 175). Intervensi inilah kelak menjadi pemicu perang antara Amerika dan Vietnam Utara. Perjuangan gigih dari rakyat, Vietnam berhasil mengusir Amerika dan merdeka sebagai Republik Sosialis Vietnam pada Juli 1976, yang mana utara dan selatan tidak lagi terbelah.

Setelah Unifikasi

Peperangan panjang telah mengorbankan banyak sumber-sumber kekayaan dan perekonomian Vietnam. Tugas berat Vietnam sebagai negara yang baru bersatu adalah membangun perekonomian. Vietnam sebagai negara sosialis, kontrol ketat terhadap usaha ekonomi berada di tangan negara.

Tahun-tahun awal unifikasi, perekonomian tak kunjung membaik. Produktivitas pertanian menurun, sedangkan angka pengangguran meningkat. Tuntutan rakyat akan adanya kesejahteraan kian terasa. Para pemimpin negara atau partai dipaksa segera mengambil kebijakan.

Pencarian solusi atas memburuknya perekonomian menimbulkan perdebatan-perdebatan di antara elite partai. Pilihannya antara pengetatan pengawasan atau liberalisasi ekonomi (hal 77). Dilema pilihan ini kian mempertajam faksionalisasi di tubuh partai. Kubu ideologis mendukung pengetatan pengawasan, sedangkan kubu reformis mendorong liberalisasi ekonomi.

Namun Vietnam realistis dengan kenyataan yang ada, akhirnya mengambil kebijakan pembaruan ekonomi (yang disebut Doi Moi) dan politik. Di bidang ekonomi, Vietnam membuka keran penanaman modal asing dan mengurangi pengawasan oleh negara. Di bidang politik, Vietnam membangun kerja sama tidak hanya dengan negara-negara komunis, tetapi juga dengan non-komunis, termasuk Amerika Serikat. Ideologi bukan lagi menjadi faktor utama dalam menentukan kebijakan politik Vietnam. Perubahan itu berdampak baik terhadap perbaikan perekonomian Vietnam (hal 106-145).

Penutup
Sosalisme Vietnam muncul sebagai ideologi perlawanan rakyat terhadap kolonialisme bangsa asing. Formula nasionalisme Vietnam adalah sosialisme. Alih-alih menginternasionalkan sosialisme-komunis, Vietnam justru realistis membaca kondisi yang sedang terjadi dan mencari jalan agar rakyat tidak terpecah. (*)

Peresensi: Jasman Fery Simanjuntak, alumnus S1 Jurusan Biologi, Universitas Negeri Medan. Berdomisili di Medan.

You may also like
Buku Praktik Baik Madrasah Tersedia Versi Digital
Buku “Hata Ni Debata” Yang Berkaitan Dengan Parmalim Diluncurkan
Tugas Kita Dorong Budaya Baca
Tobasa Gencarkan Gerakan Literasi Sekolah
SONDUK HELA AKAN DIBEDAH DI UNIMED
Revolusi Rokok

Leave a Reply