Home > Kolom > Kekuatan Media Sosial

Kekuatan Media Sosial

GAGAL menjadi TKI, Sukarsih, perempuan umur 39 tahun, terdampar di Kota Medan. Ia menjadi pemulung. Hidupnya terkatung-katung dan tanpa punya identitas. Dua dekade ia terpisah dari keluarganya. Sebuah pertemuan tak disengajalah yang mengubah arah hidupnya. Seperti apakah kisahnya?

***
Sukarsih diliputi haru. Hari ini ia akhirnya bertemu dengan abang kandungnya, Supardi yang datang untuk menjemputnya ke Medan. Dari Purwodadi, Jawa, Supardi buru-buru bertolak ke Medan.

Supardi juga tak kalah bahagia. Ia bersyukur kepada Ilahi, karena dipertemukan kembali dengan saudarinya. Sudah belasan tahun Supardi dan keluarga besarnya mencari-cari keberadaan Sukarsih. Mereka bahkan sempat merasa mustahil bertemu adiknya yang hilang.

Supardi bahkan tak menyangka, ternyata masih banyak orang-orang yang punya jiwa solidaritas. Melalui media jejaring sosial Facebooklah, Supardi dengan nama.akub FB Umi Sugih itu, bisa mengetahui keberadaan adiknya. Keluarga ini disatukan kembali oleh orang-orang keberkatan.

Bertemu abangnya, Sukarsih alias Mimin langsung bicara lepas. Ia tak bisa membendung air matanya. Bisa dibayangkan, ribuan malam dilaluinya dalam kesendirian di emperan swalayan di Medan sembari tetap menjaga agar impiannya jangan sampai redup. Dua puluh tahun ia hidup dengan menebalkan telinga dari cibiran orang yang mencapnya sebagai orang gila. Hanya karena pakaiannya kumal, tubuh bau lantaran jarang mandi dan tak punya baju ganti. Ironinya, belasan tahun pula, tiada yang peduli pada dirinya.

Pertemuan Tak Disengaja

Hidup Mimin kini menemukan titik balik, sejak bertemu secara tak sengaja dengan Ronald Purba, seorang netizen yang aktif di Facebook. Sejak berkenalan dengan Uba Pasaribu, Ketua Pemulung di Medan, Ronald menjelma menjadi sosok yang gencar melakukan kegiatan sosial.

Suatu waktu, tepatnya dua hari pasca perayaan dirgahayu 72 tahun Indonesia, ia bertemu Sukarsih di Jalan Panglima Denai, Medan. Mereka mengobrol di pelataran minimarket. Kepada Ronald, Sukarsih menceritakan pengalaman hidup yang dramatis. Sukarsih mengaku berasal dari Jawa namun lupa alamat detailnya. Ia sampai ke Medan, panjang jalan ceritanya. Kala itu ia hendak berangkat ke Malaysia mencari pekerjaan. Namun ia ditipu dan dibuang oleh seseorang. Beruntung ada warga Medan yang menolongnya.

Sukarsih pun diboyong ke Medan. Gagal menjadi TKW, Sukarsih malah menjadi tunawisma. Nasibnya terkatung-katung di kota Guru Patimpus ini. Namun ia berusaha bertahan hidup dengan menjadi pemulung. Ia tidak punya skill untuk menghadapi pertarungan bisnis yang kompetitif di kota ini. Sayangnya, Sukarsih sampai kini tak punya identitas kependudukan.

Ronald terkejut saat mendengar kisah hidup Mimin. Orang yang dianggap gila itu, ternyata seorang perempuan waras. Diam-diam Ronald Purba merekam percakapan mereka itu. Kemudian mempostingnya di akun FBnya. Hari itu juga, Yuni Rusmini, netizen asal Ngawinan, Jawa Timur, memviralkan postingan Ronald itu melalui jejaring di FB. Alhasil, video postingan itu terbaca oleh Uba Pasaribu, Ketua Komunitas Pemulung.

Usai menonton video rekaman itu, Uba bersama tim segera merangsek ke lokasi dimana Sumarsih ditemukan. Uba kemudian mewawancarai Sukarsih. Uba juga merekam percakapannya itu dalam bentuk video. Rekaman itu kemudian dipostingnya di FB. Oleh Yuni, kembali postingan Uba kemudian disebar-luaskannya. Yuni ibarat tangan penghubung ke banyak pemirsa. Jadilah video tersebut lagi-lagi viral.

Banyak netizen menanggapi secara positif. Kisah hidup Sukarsih yang dramatis telah mencuri perhatian banyak orang. Rasa empati tumbuh dan solidaritas menguat. Para netizen pun tergerak hatinya. Mereka, tanpa dikomandoi, bergerak bersama, mencari keberadaan keluarga Sukarsih di Jawa.

Dalam hitungan jam, ternyata ada netizen yang merupakan tetangga dari keluarga Sukarsih. Si tetangga ini langsung mengonfirmasi keluarga korban dan mengirimkan video rekaman tentang kondisi keluarganya di Jawa. Saudara korban lainnya yang tinggal di Jakarta juga langsung dikonfirmasi. Netizen yang mengonfirmasi informasi tersebut tak lain, pemilik akun FB Swikee Purwodadi. Ia mengenali korban setelah menonton video percakapan yang direkam Uba Pasaribu. Video itu diposting di akun FBnya dan telah viral. Swikee ini tetangga korban di Grobogan, Jawa Tengah.

Video itu juga turut disebarkan Yuni Rusmini. Seorang netizen dengan pengikut 59.000 akun. Ia bergerilya memviralkan video kiriman Uba Pasaribu. Tak hanya via FB, ia juga membagikannya di sejumlah grup WhatsApp, terkhususnya menyasar netizen asal Purwodadi. Para netizen asal Jawa tengah merespon cepat. Bahkan aparatur desanya ikut di-tag di FB untuk ikut berkomentar.

Dalam postingannya pada 19 Agustus pukul 8 pagi, Yuni menceritakan bagaimana Ronald Purba, netizen di Medan bertemu seorang pemulung bernama Sukarsih. Ronald sengaja mengajak Sukarsih mengobrol karena ia ingin berbagi rejeki. Atas postingan Yuni yang muncul di timeline Uba, ketua pemulung itu pun bergerak cepat menemui Sukarsih. Uba menggali informasi lebih banyak lagi lalu menyebarluaskannya di Facebook.

“Kepada sahabatku semua, mohon infokan, bantu share, copas atau apapun semampu kita ke group daerah Jawa atau ke wall sendiri. Siapa tau ada keluarganya membaca postingan ini. Mungkin ibu ini bisa hidup lebih layak bila berada bersama keluarganya. #viralkan demi kemanusiaan,” tulis Yuni di status FB-nya (disunting seperlunya).

Akhirnya dalam dua hari, Sukarsih sudah terkoneksi dengan keluarga besarnya. Pihak yayasan peduli pemulung sedang mengupayakan agar Sukarsih bisa diberangkatkan ke Jawa bertemu keluarganya. Alamat rumahnya terungkap setelah netizen langsung mengonfirmasi keluarga korban di Grobogan.

Melalui postingan Yuni juga jagat pengguna jaringan internet mengetahui siapa orangtua Sukarsih dan nama-nama saudaranya. Lalu status Yuni pada 21 Agustus pukul 3 dini hari, ia menulis THE POWER OF MEDSOS. Isinya seruan syukur atas campur tangan Ilahi yang memakai tangan Yuni, Ronald, Uba, Swikee dan para netizen untuk mempertemukan Sukarsih dengan keluarganya. Tiada usaha yang sia-sia selama kita mau berusaha. Dan yakin Allah Mahatahu dan Maha Adil. Inilah buktinya,” sebutnya.

Melalui kisah netizen ini, kita melihat media sosial adalah senjata baru. Kehadirannya sangat potensial untuk pergerakan. Perpaduan internet, media sosial dan solidaritas menjadi satu kekuatan besar di era digital kini. Internet dan media sosial memudahkan netizen untuk bertutur sapa, bercengkerama, nyeleneh, bertukar informasi sampai mencetus gerakan-gerakan baru.

Siapa menyangka, seorang pemulung yang tak lulus sekolah dasar sepasti Uba Pasaribu dan rekan-rekannya yang tak pernah belajar soal strategi melacak ornag hilang, ternyata dipakai Allah, untuk mempertemukan satu keluarga yang telah 20 tahun terpisah tanpa jejak? Dengan media sosial, segala ketidakmungkinan itu, bisa dibalikkan menjadi peluang, selama harapan, empati dan solidaritas masih terjaga. Iya kan? (Dedy Hutajulu)

Leave a Reply