Home > Hortikultura > Mengenal Sosok Apni, Perempuan yang Jatuh Cinta Bertani

Mengenal Sosok Apni, Perempuan yang Jatuh Cinta Bertani

Oleh Alfredo Sintong Lubis*

Perempuan yang satu ini bisa dibilang anomali. Ia memilih pulang kampung dan berkiprah menjadi petani, di tengah orang-orang desa yang sedang gandrung-gandrungnya hijrah ke kota. Apalagi, bertani, sebuah profesi yang tidak populer bagi anak muda. Ia bahkan rela meninggalkan jabatannya yang mentereng di sebuah yayasan di ibukota. Lantas, apa gerangan yang mendorongnya pulang kampung?

***

“Saya ingin berguna bagi kampung halaman saya,” tutur gadis itu. Namanya Apni Olivia Naibaho. Usianya sekitar 34 tahun. Baru saja ia meraih nominasi “Young Farmers on Top” sebuah penghargaan bergengsi, sebagai petani berdedikasi dalam ajang Duta Petani Muda 2016 di Jakarta. Ia terbang ke ibukota hanya untuk menjemput piagamnya itu.

Ia tak ingin berlama-lama di sana. Sebab ada banyak pekerjaan menunggu di kota kelahirannya: Siantar. Apni adalah satu sosok perempuan tangguh, enerjik dan pantang menyerah, yang pernah saya kenal. Saya belajar darinya tentang dedikasi dan bagaimana memaknai hidup.

Sore itu, kami bertemu di sebuah rumah sekretariat. Ia datang membawa embun inspirasi. Ia bercerita banyak tentang pilihan hidupnya menjadi petani dan bagaimana menginspirasi sejumlah petani lain untuk maju. Meski latar pendidikannya bukan sarjana pertanian. Ia lulusan dari Fakultas Ekonomi Universitas Bung Karno.

Ia juga bukan keturunan keluarga petani. Seumur-umur, ia tidak pernah terjun ke sawah. Ia benar-benar awam terhadap bidang pertanian. Namun ‘keawamannya’ itu justru pelecut baginya untuk mencari ilmu dan pengetahuan tentang pertanian. Ia memberikan perhatiannya lebih ekstra untuk belajar bertani.

Tak tanggung-tanggung, pada 2012, ia mengambil kelas khusus pertanian selama dua minggu. Kemudian ia terbang ke Sentul, Jakarta, khusus untuk menguasai ilmu-ilmu pertanian dasar. Hingga akhirnya, ia menguasai berbagai model pertanian. Ia kemudian memilih konsentrasi pada pertanian organik. Fokusnya tanaman sayur-sayuran.

Uji Coba

Titik balik hidupnya ketika ia berani mencobakan ilmu pertanian organik yang didalaminya. Memang tidak mudah awalnya. Selain keterbatasan dana, ia juga harus mencari lahan sewaan untuk mengeksekusi ilmu bertani yang telah ia pelajari. Namun ia nekat mencoba.

Pada 2013, ia menyewa lahan kosong seluas 400 meter persegi di daerah Simpang Kerang Pematang Siantar. Ini menjadi lahan uji coba pertamanya. Namun ia gagal. “Penduduk setempat tidak merespon baik,” tuturnya.

Padahal, ujicoba perdana itu direncanakan sebagai pilot projek pertanian organik. Karena gagal, ia mencoba rencana cadangan. Ia menerima tawaran temannya. Temannya itu memiliki lahan kosong di kawasan Tanjung Pinggir. Luasnya dua kali lipat dari lahan yang pertama sekali ia sewa.

Di lahan kedua ini, Apni tak membuang-buang waktu. Ia segera menerapkan ilmu bercocok tanam dengan konsep organik. Namun hasilnya juga tidak jauh beda dari projek awal. Ia gagal meyakinkan masyarakat tentang faedah bertani organik dan prospek ekonominya. “Penduduk setempat lebih doyan memulung barang bekas,” imbuhnya.

Pantang Menyerah

Dua kali gagal, tidak membuat Apni patah arang. Ia berusaha mencari lahan baru untuk mewujudkan gagasannya. Ia proaktif mencari informasi tentang keberadaan lahan kosong. Akhirnya, melalui seorang teman, ia menemukan lahan baru, di desa Silaumahala, Blok Songo, Simalungun. Luasnya sepertiga lapangan bola kaki.

Di lahan barunya itu, Apni memulai aksinya. Kali ini ia tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan warga setempat. Penduduk di sana juga tidak lekas merespon, karena di sana warga kerap terlibat utang ke tengkulak. Namun karena mereka ingin lepas dari jerat utang. Tawaran Apni seperti angin segar.

Ada dua ibu rumah tangga menyambut gagasannya. Apni pun tak menia-nyiakannya. Ia mulai membina dan mengenalkan pertanian organik kepada dua ‘kadernya’ itu. Selama tiga bulan pendampingan, ladang sayur mereka tumbuh subur. Apni berjuang memasarkannya. Dengan ketentuan keuntungan 40 persen bagi Apni dan 60 persen bagi petani. Ketentuan itu menguntungkan kedua belah pihak. Atas usaha ini, perekonomian dua kadernya itu mulai membaik.

Satu kadernya itu (yang memiliki lahan 800 meter persegi) meraup keuntungan 3 sampai 4 juta per bulan. Satu lagi (yang memiliki lahan 400 meter persegi) mendapatkan satu sampai 2 juta per bulan. Sedangkan dalam pemasarannya, Apni berjibaku dengan motornya sendiri untuk mendagangkan sayur-sayurannya. Ia singgah di satu tempat ke tempat lain, bahkan juga memberanikan diri memasarkan ke kantor-kantor.

Apni Olivia Naibaho, warga Siantar, saat memasarkan sayur dari petani ke rumah-rumah warga. Apni adalah sosok muda inspiratif di bidang dedikasi bagi masyarakat petani

Begitulah kabar baik, mudah tersebar dari mulut ke mulut, dari pintu-ke pintu. Kabar baik itu mengundang penasaran warga lainnya. Mereka pun mencari tahu dan menyaksikan sendiri. Setelah itu, mereka tertarik ikut mencoba.

Seiring waktu, jumlah petani pun bertambah mengikuti deret hitung. Melihat dampak baik dari usahanya itu sekaligus antusias penduduk setempat, Apni pun memutuskan menyerahkan seluruh lahan sewaannya itu untuk digarap para petani. Apni sendiri memilih sebagai pembina.

Kini Apni sudah membina enam orang penduduk Blok Songo menjadi petani organik. Pembinaan ini sudah berjalan dua tahun. Paling tidak, selama dua tahun ini, nasib perekonomian enam rumah tangga di Simalungun sudah berhasil didongkrak Apni.

Ide Baru

Kini gadis Siantar ini juga mulai menjajal ide baru. Ia mencoba menciptakan jenis usaha lain dari hasil pertanian organiknya, yaitu produk olahan stik atau keripik olahan. Keripik olahan itu dibikin tanpa pengawet, penyedap atau monosodium glutamat dan pengembang. Produk olahan ini mendapat respon baik di masyarakat. Laku di pasar. Ini ini juga kreatif, karena diolah dari bahan dasar sayur-sayuran.

Sebagai brand, Apni juga memakai identitas SISE (Siantar Sehat). Komposisi stik olahan hasil kreasi Apni, beraneka rasa sepasti rasa kangkung, sawi, pakcoy, dan bayam. Harnya juga terjangkau yakni Rp. 12.000 per 200 gram.

“Saya masih akan terus berinovasi dengan model pertanian organik ini, baik itu dengan menambah tanaman sayur-sayuran yang baru, maupun menciptakan produk makanan olahan baru,” kata Apni optimis.

Saya tergugah dengan pengalaman Apni ini. Ia berhasil mendaratkan gagasannya di tengah masyarakat. Ia juga sukses memajukan perekonomian petani yang dibinanya. Bahkan, ia mampu meyakinkan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memberdayakan lahan kosong serta mengembangkan pertanian organik dan produk olahannya.

Suatu waktu, saya ingin mengajaknya minum teh. Saya tak sabar pengin mendengar lagi ceritanya tentang produk kreasi terbarunya. Saya juga ingin sesekali bisa menemaninya melihat ladang-ladang petani binaanya itu. Apni, kamu hebat sekali! (*)

 

*Penulis seorang peternak unggas. Tiap hari terjun ke sawah mencari keongmas, untuk makanan ayam-dan bebeknya.

You may also like
Lagi-Lagi Mie Berformalin Diamankan Sebanyak 1,5 Ton di Siantar-Simalungun
IWO Serukan Copot Kabag Humas Pemko Pematangsiantar
Kurang Hati-hati, Tiga Bus Tabrakan Beruntun
Puluhan Tahun Terabaikan, Akhirnya Akses Jalan Ke Desa Huta Panahatan Dibangun
Simalungun Bentuk TP4D
Geledah Asrama Martoba, Polisi Amankan Seorang Pengisap Ganja

Leave a Reply