Home > Opini > Begini Dosmar, jika Saja Saya Menjadi Bupati

Begini Dosmar, jika Saja Saya Menjadi Bupati

Oleh Riduan Situmorang
Dosmar Banjarnahor, pendatang baru dalam kancah politik Humbang Hasundutan, langsung terpilih menjadi Bupati Humbahas, bahkan mengalahkan petahana. Bagi saya, ini adalah pengalaman hebat. Saya tertarik menuliskan ini, pertama, karena saya berasal dari Humbang Hasundutan. Kedua, karena semasa kampanye, Dosmar sering “mengidentikkan” dirinya seirama, bahkan “kembar” dengan Jokowi. Ya, secara visual, Dosmar memang mirip dengan Jokowi. Culun, kurus, muda, dan kelihatannya energik. Ketiga, karena saya ingin, Dosmar jangan lupa pada janjinya.
Belum lagi karena kini semacam sudah menjadi trend bagaimana pemimpin muda yang berasal dari daerah menjadi pilihan. Ada Ahok di Jakarta, ada Ridwan Kamil di Bandung, ada Bu Risma di Surabaya, terakhir, ada pula Nurdin Abdullah di Bantaeng. Pertanyaannya, bisakah Pak Dosmar yang sudah sempat “memistifikasi” dirinya sebagai Jokowi menjadi tambahan dari contoh-contoh yang disebutkan di atas? Mestinya bisa dan harus bisa.
Harus bisa karena pada kontemporer ini, Sumut seakan kehilangan jati dirinya. Hampir tak ada pemimpin daerah yang membanggakan. Kiprah mereka (para pemimpin Sumut) lenyap ditelan ketidaktahuan sehingga kepemimpinan ibarat siklus: berakhir begitu saja tanpa ada yang berkesan. Padahal, boleh dibilang, Sumut termasuk provinsi yang rajin melahirkan pemikir dan politisi hebat di pusat.
Beberapa Pertimbangan
Nah, mengapa di daerah, di kampungnya sendiri, justru tak kedengaran, kecuali kasus korupsinya? Tentu, inilah momentum dan bahkan menjadi peluang besar bagi Pak Dosmar yang masih muda (tentu juga pemimpin daerah yang lainnya)! Apalagi untuk Dosmar, dia punya latar belakang yang sama dengan Jokowi: sama-sama pengusaha yang berwajah culun. Pertanyannya, bagaimana menggapai peluang ini?
Saya tak akan menggurui. Saya hanya akan memberi beberapa pertimbangan, mudah-mudahan dapat menjadi alternatif. Pertama, Bapak (Dosmar) harus ingat bahwa Bapak terpilih karena harapan. Harapan itu bahkan sangat besar. Hal itu terdeteksi dari terpilihnya Bapak melawan petahana di mana sejauh ini, rasanya sangat sulit mendongkel petahana, kecuali ada semangat dan kepercayaan besar yang diberikan rakyat. Dan, jika saja itu ada kaitannya, kemenangan Jokowi-JK pada perhelatan Pilpres kemarin di Humbang menjadi simbol kehausan warga atas pemimpin yang mengayomi, dekat dengan rakyat, dan tentu saja bersih. Kiranya begini jugalah kemenangan Bapak. Warga kini sedang haus-hausnya pada pemimpin yang energik, muda, dan mengayomi. Dengan kata lain, Bapak diharapkan menjadi “jokowi-baru” di Humbahas.
Tantangannya adalah,”jokowi-baru” tidak cukup hanya dari segi perawakan dan penampilan yang sudah Bapak miliki. Penampilan hanya pencitraan sesaat dan bahkan sebenarnya sesat. Bagaimana aksi-aksi di lapangan dapat dieksekusi dengan baik, cepat, dan prorakyat itulah yang menjadi modal utama.
Nah, di sinilah Bapak perlu menoleh para pemimpin muda yang kini berkibar dan berkobar dalam membela rakyat. Bapak boleh mencontoh Ahok yang keras, kukuh, dan berani. Ya, Humbang beda sekali dengan Jakarta. Rakyat Humbang masih melankolis dan boleh jadi hanya mengangguk-angguk. Tetapi, melankolis ini rentan. Manakala yang dielu-elukan tidak sesuai harapan, apatisme tingkat akut bisa menyerang. Beda lagi dengan karakter para PNS. Seperti kita tahu, PNS adalah surga. Kerja minim dapat gaji normal. Kerja maksimal juga dapat gaji normal sehingga seringkali PNS kita hanya orang yang datang, duduk, menggosip, lalu pulang, hampir tanpa ada hasil kerja. Belum lagi, terutama itu di kampung kita, PNS itu didewakan dan dipertuan. Logika publik pun dibelokkan dari yang dulunya PNS hanya abdi, malah mendadak jadi tuan. Dan, karena tuan, mereka hanya bisa disuruh bekerja setelah ada permohonan. Permohonan itu dapat berupa uang terima kasih. Sudahlah, mari menukar rahasia dan membelalakkan mata bahwa mengurus surat-surat di kita itu “lamban”, kecuali ada uang. Di kampung saya bahkan sudah beredar standar berapa fee mengurus catatan sipil. Nah, fenomena ini perlu didobrak Pak Dosmar. Tentu saja ini susah karena tadi, PNS sudah dipertuan. Apalagi, budaya di kita, segalanya adalah raja. Mental raja adalah mental dilayani.
Maka itu, Pak Dosmar harus bergerak dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Bapak tak boleh duduk di kantor karena tugas Bapak bukan administratif yang hanya sibuk menandatangani. Bapak harus membuka layanan pengaduan masyarakat di setiap daerah yang kredibel. Bapak harus berani dan tegas seperti Ahok. Tak usah takut, rakyat kita sangat melankolis. Kalau Bapak di pihak mereka, Bapak akan dibela sampai kapan dan di mana pun.
Sebatas informasi, di Jakarta dan Bandung, mereka menggunakan media sosial sebagai tempat untuk mengadu dan mengusulkan. Bahkan, Ridwan Kamil membuat sebuah situs “Menjadi Wali Kota Sehari”. Di situs ini, warga Bandung memberi saran-saran untuk membangun Bandung. Biar lebih dalam, ada baiknya Bapak mencari informasi lebih jauh. Nah, di kita barangkali hal ini belum bisa diterapkan maksimal karena warga kita masih banyak yang belum melek teknologi. Tetapi tak usah takut, jika saja lembaga pengaduan itu ada dan kredibel, Bapak bisa meminta saran dari sana.
Dalam hal pendidikan, Bapak harus hadir lebih nyata lagi. Jujur saja Pak Dosmar, entah saya yang tidak kebagian informasi. Yang pasti, sejauh ini, saya cemburu pada teman mahasiswa dari kabupaten lainnya karena mereka mendapat beasiswa dari pemerintah daerahnya. Mudah-mudahan saya salah, sedekat yang saya tahu, beasiswa dari kabupaten di kita belum punya. Padahal, nasib kabupaten kita justru terletak pada tangan-tangan anak muda yang terdidik. Maka itu Pak Dosmar. Berikan beasiswa kepada orang miskin. Membebaskan orang dari kemiskinan bukan dengan memberi uang, tetapi memberi mereka kesempatan untuk belajar bagi anak muda dan memberi modal usaha bagi yang sudah berkeluarga. Mereka sendirilah nantinya yang akan melepaskan dirinya dari kemiskinan. Tetapi, dalam hal memberikan ini, Bapak harus teliti. Teliti tentu tak sama artinya dengan pelit. Teliti berarti melihat kesungguhan dan kenyataan.
Turun Lapangan Karena itu, Bapak harus turun lapangan. Sebab, sudah menjadi keberanan umum bahwa bantuan dari pemerintah seringkali salah sasaran dan salah orang. BLT kemarin, misalnya, banyak orang kaya dapat, tetapi nenek tua bangka malah tidak. Artinya, berilah modal itu (beasiswa dan modal usaha) bagi yang membutuhkan. Jangan kepada orang kaya. Jika orang kaya dapat lagi, ini akan semakin memperlebar rasio gini, orang miskin terpinggirkan dan orang kaya semakin kaya.
Di samping itu, Bapak juga harus menjaga komunikasi dengan para pemuda. Banyak orang muda hebat dari kampung kita, tetapi karena mereka tak teroganisasi, mereka akhirnya berpencar dan tanpa arah.

Mengapa mesti pemuda?
Pertama, ini era Gen-Y. Gejalanya sudah terlihat di Jakarta di mana dunia virtual dan maya menjadi dunia nyata. Kedua, sebentar lagi, Danau Toba akan menjadi pusat wisatawan. Belum lagi karena MEA, tentu saja Danau Toba menjadi peluang bersama. Tetapi, Danau Toba dan MEA ini bukan hanya peluang, ini juga sebenarnya menjadi ancaman. Jika saja pemuda kita tak dilatih, tidak saja akar budaya kita yang tergerus, tetapi kita menjadi budak di rumah kita sendiri. Maka itu, Pak Dosmar, apalagi Bapak juga pengusaha, sudah perlu memberi mereka pelatihan terpadu.

Bagaimana?
Buat, misalnya, lomba-lomba. Entah lomba apa pun. Boleh dalam bentuk menulis, menyanyi, menari, terutama agar pemuda kita tidak melupakan budaya kita. Sebagai gambaran, Kabupaten Karo selalu terkenal dengan pesta buahnya. Bagaimana kalau kita membuat pesta budaya tiap tahun? Selain menjadi penjaga agar budaya kita tak hilang, ini juga menjadi potensi mengundang para wisatawan.
Masih banyak yang boleh Bapak lakukan. Percayalah, Bapak adalah orang beruntung. Manfaatkanlah keberuntungan ini untuk membuat orang lain beruntung. Seperti kata pepatah, sesungguhnya manusia itu sudah mati manakala dia tak memberi manfaat. Pak Dosmar, hadirlah menggebrak budaya “raja” yang ada di kita. Mereka, para “raja” itu, adalah sejatinya para pelayan. Pak Dosmar, judul ini sendiri terilhami dari gebrakan Pak Ridwan Kamil. Maksud saya, contohlah mereka yang aktif melayani dan mencari inspirasi dari masyarakat. Selamat bekerja!
Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan (PLOt) dan di TWF (Toba Writers Forum, E-mail: riduciscobama@gmail.com)

You may also like
GMKI WILAYAH I akan Rayakan Natal dan PMD di Humbahas
Yelika Manullang Torehkan Medali Perak Bagi Humbahas Dalam Kejuaraan Karate Piala Gubsu
BBM Jenis Premium Langka di Humbahas
Aldi Sibarani Dibunuh Ayahnya Sendiri
4 Hari Dinyatakan Hilang, Aldi Sibarani Ditemukan Tewas
Rayakan Natal, Igemsi Medan Serukan Persatuan

Leave a Reply