Home > Opini > Cerita Mantan Hakim Konstitusi

Cerita Mantan Hakim Konstitusi

Bogor, Sorotdaerah.com- Maruarar Sirait (75),  lahir dari keluarga sederhana. Kemudian ia bersekolah ke Siantar di sebuah perkampungan Kristen.

Ketika sekolah, ia kerap diejek karena berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Ketika itu, anak-anak bangga jika ditangkap polisi.

Tamat sekolah dasar ia hijrah ke Jakarta. Ia menumpang kapal laut. Membawa koper besi yang berisi pakaian. Koper itu harus dilempar ke geladak agar mendapatkan tempat. Orang seperti ayam melihat jagung, berebut naik ke kapal.

“Ketika di atas kapal, saya berpikir, saya tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga saya,” kenangnya.

Di Jakarta, ia tinggal di rumah keluarganya. Di sana ia merasa sangat tidak nyaman. Jadi ia memilih pindah ke asrama.

“Di asrama saya senang sekali walau kehidupan sederhana. Ketika Gerakan 30 September meletus, kehidupan semakin sulit. Terpaksa setiap ada hajatan kami hadiri demi sebungkus nasi,” bebernya tanpa malu-malu.

Maruarar mengaku pernah hidup di Sulawesi. Motto hidupnya begitu jenaka “Menertawakan kemiskinan”.

Sebagai pemuda, ia aktif di naposo bulung. Ia mengaku bukan karena menguasai bacaan alkitab, tetapi membayangkan bakal ada acara pasti ada konsumsi. “Jadi bisa makan lagi,” katanya disambut gelak tawa peserta diskusi.

Dari pengalaman hidupnya, Maruarar kini membangun filosofi. “Orang-orang besar itu adalah mereka yang rela menderita. Kalau tidak aktif di Gereja saya tidak akan sekolah. Saya 11 orang bersaudara,” imbuhnya.

Sewaktu mahasiswa ia terpesona ketika mengikuti jalan hidup seorang hakim. Ketika tidak ada jam kuliah, ia menghambur ke ruang pengadilan demi menyaksikan sidang.

Baginya, satu hal yang meremukkan hatinya adalah saat menyaksikan penderitaan. Ia menuturkan lama menggumuli pilihan hidupnya yang sekarang.

Ia bolak-balik memikirkan aoakah mau menjadi jaksa atau hakim?

Setelah tamat kuliah, akhirnya ia memilih sebagai hakim. Pertama sekali menjalani profesinya sebagai hakim di Kendari tahun 1967/1968.

Di tahun pertama bekerja, ia menunggak bayaran penginapan di Hotel. “Sampai saya keluar saya tidak diminta biaya,” katanya tak percaya.

Ia memilih menjadi hakim karena melihat banyaknya ketidakadilan serta hukum yang masih tumpul ke atas. “Saya ja melihat banyak orang menderita. Banyak yang menangis. Banyak ketidakadilan. Jadi hakim adalah cara saya menolong orang yang tertindas. Hakim adalah benteng terakhir,” pungkasnya.

Sejak menetapkan hati sebagai hakim, ia telah membulatkan tekadnya. Ia juga telah menantang dirinya agar tahan banting dan siap menderita.

Ia punya pengalaman unik sebagai hakim di awal-awal berkarir. Ia pernah mengeritik pimpinannya. Maka ia langsung dimutasi. “Ketika itu saya dipindahkan ke Bengkulu. Tapi itu menjadi momen bagi saya untuk belajar dari kisah hidup Bung Karno. Saya kagum dengan Bung Karno,” ungkapnya.

Setelah sekian tahun berkiprah di Bengkulu,  ia sempat meminta untuk pindah. Namun ia mengurungkan niatnya dan memilih bertahann di sana. Akan tetapi pada akhirnya, ia pun dipindahkan ke Medan.

“Saya dapat telepon dari hakim mahkamah agung. Katanya kurang satu hakim lagi di Mahkamah Konstitusi. Akhirnya saya masuk di MK,” katanya enteng.

Anehnya, di Mahkamah Konstitusi itu, semua hakimnya bergelar profesor. Hanya dia sendiri yang masih bergelar Sarjana (S1), kala itu.

Pada saat menjabat sebagai hakim MK, Maruarar sering memberikan disenting opinion (opini tandingan). Itu dilakukannya karena ia ingin menunjukan kesalahan hakim lainnya. Sejak itu, orang makin mengenal pemikiran-pemikiran dan sikapnya.

Paling berkesan selama menjadi hakim, kata dia, bagaimana memaknai adalah Pasal 33 UUD 1945. Ia mengalami pergolakan batin untuk memperjuangkan keberadaan ekonomi Indonesia.

Ia merasa, sumber daya alam kita belum dimaksimalkan dan disasar demi kesejahteraan rakyat banyak. Karena itu, sempat muncul keragu-raguan di benaknya tentang gambaran masa depannya ketika pensiun kelak. Ia hanya sarjana. Ia tak akan bisa berbuat banyak demi keadilan di tengah bangsa yang masih sengkarut ini.

Atas saran Jimly Assiddiq, ia pun melanjutkan sekolahnya sampai meraih gelar doktor.

“Penderitaan hidup itu yang membentuk saya. Ketika hakim tidak bisa independen, itu jadi petaka,” katanya mewanti-wanti. (JO)

Leave a Reply