Home > Kolom > Djarot, Mutiara Untuk Sumut

Djarot, Mutiara Untuk Sumut

APAKAH kekalahan harus menghentikan seseorang untuk berkarir? Ya tidaklah. Banyak kegagalan acap kali menjadi kesempatan untuk berbuat baik. Justru meragukan Djarot “hanya” karena gagal di Pilgub DKI Jakarta, maka ia adalah produk gagal, itu sama saja menafikan jika Djarot itu punya determinasi sendiri.

Kualitas tidak ditentukan oleh kemenangan atau kekalahan dalam Pilkada sebelumnya. Sudah banyak contohnya.

Untuk level Presiden, kita bilang apa coba kepada Prabowo, kenapa masih mencalonkan diri terus, padahal sudah gagal berkali-kali meski “hanya” menjadi calon Wakil Presiden? Apakah dengan demikian kta berhak bilang ke Prabowo supaya nggak usah lagi meneruskan karir sebagai calon Presiden? Hahahahaa. Kebayang ya betapa murkanya Prabowo jika aturan itu dibikin.

Anies Baswedan contoh lain. Ia gagal jadi menteri, tepatnya saat dilepeh oleh Jokowi. Eh diusung Prabowo, dia malah berhasil menjadi Gubernur, meski kualitas kerjanya yah gitulah, semua juga sudah tahu.

Jadi, ide untuk mengusung Djarot ke Pilgub Sumut sebenarnya adalah usulan yang cerdas dan mematikan nyali lawan.

Alasannya. Pertama, Djarot adalah sosok yang membangkitkan gairah baru Sumut. Selama beberapa tahun terakhir, Sumut itu stagnan. Pejabatnya, memimpin asal jadi Gubernur cukup. Bahkan dua diantaranya yang terakhir pun masuk hotel prodeo.

Gatot, bahkan diusung PKS yang mengklaim diri partai bersih, namun justru di era Gatot kita mendengar istilah “uang ketok palu”. Maka hadirnya Djarot akan mengubah pola kepemimpinan di Sumut menjadi lebih bergairah dibandingkan model “krojo tak krojo” seperti selama ini.

Kedua, soal pengalaman. Djarot bukan sosok baru tamat sekolah atau pensiunan jenderal baru. Pengalamannya menjadi pemimpin sipil akan memudahkannya memimpin kantor Gubernur Sumut. Djarot menjadi Bupati dua kali, terlebih ketika mendampingi Ahok, Djarot pengalaman penting mengelola dan bahkan berhadapan dengan seluruh stakeholders. Di tangannya Sumut pasti akan lebih cepat bergerak.

Ketiga, Djarot itu sudah biasa ke bawah. Pemimpin Sumut selama ini hanya ke “bawah” kalau mau Pilkada. Djarot? Balaikota Jakarta itu selalu terbuka kepada siapapun. Djarot biasa blusukan. Selama menjadi Wagub dan kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, Djarot mainannya ke pasar dan rumah-rumah warga, pelosok dan tempat-tempat yang menjadi tempat berkumpulnya warga. Djarot tak elitis. Selama ia memimpin, ia hadir sebagai pemimpin yang merakyat.

Andaikan Djarot memimpin Sumut, niscaya Sumut bukan hanya menjadi emas, melainkan mutiara. Masak memilih emas dibandingkan mutiara? Emas bisa disepuh, sementara mutiara kilaunya tak tergantikan.
Salam Nagabonar

 

Penulis Nagabobar Nagabonar

You may also like
Komitmen Kebangsaan Djarot Sihar
Djarot: “Saya Dapat Panggilan Besar Membangun Sumut”
Poldasu Nyatakan Siap Kawal Pilkada Serentak
Hendak Ziarah, Rombongan Djarot-Sihar Dicegat Warga Desa Silaen dengan Blokir Jalan
Mengenal Sosok Djarot Saiful Hidayat Dengan Segudang Prestasi.
Hatinya Djarot

Leave a Reply