Home > Opini > Fanatisme Buta VS Fanatisme Melek

Fanatisme Buta VS Fanatisme Melek

Oleh Herbet Halomoan Sinaga
BERKACA pada fenomena gelombang idolatry terhadap seorang tokoh ataupun sosok di negeri tercinta ini, saya tergelitik dan nyaris tak mengerti atau bahasa sosmednya gagal paham terhadap para penikmat dunia maya yang apakah sadar atau tak sadar membutakan dirinya terhadap kekurangan dan kesalahan yang dibuat oleh idolanya tersebut.

Fenomena ini bak tsunami yang menghantam dengan besarnya gelombang, dan menerjang dari berbagai arah. Saya masih terheran apakah mereka tidak menyadari lagi bahwa kesempurnaan itu hanyalah milik Yang Kuasa?

Apakah masuk akal dengan melakukan tindakan amoralitas, yang bagi saya sebuah aib yang tak patut dilakukan oleh seorang yang katanya pemimpin umat, surga menjadi jaminan perbuatannya itu? Ah, betapa malangnya nasib para pemujanya, dengan fanatisme buta, menyembah dan mengidolakan sesuatu lebih dari Tuhan Sang Raja Maha Besar.

Sebenarnya sah dan wajar-wajar saja, jika kita mendukung dan mengidolakan seseorang, apalagi jika dia itu satu Iman dan Kepercayaan dengan kita, tapi apakah wajar tetap mendukung seseorang secara membabi buta dengan tidak mengevaluasi kesalahan yang diperbuatnya?

Mendukung itu yang wajar-wajar sajalah, atau istilah lagunya yang sedang-sedang saja. Mendukung dan membela disaat melakukan hal yang benar, namun berani mengakui dan gentleman jika diperhadapkan dengan kesalahan dan keburukan yang dimiliki idolanya. Itu baru ciri orang yang Fanatisme nya melek.

Herannya fenomena fanatisme buta ini bisa menjangkit siapa pun di negeri ini, fenomena ini tidak mengenal tua ataupun muda, lulusan sosial bahkan lulusan teknik atapun praktisi pendidikan sekalipun, bisa tak berdaya dibuatnya.

Terhipnotis oleh fatamorgana idolanya yang selama ini bak orang suci tak bisa dievaluasi, bahkan aib nya sekalipun adalah sebuah kebenaran.Jika di evaluasi dan dinilai, para fanatisme buta seakan tak habis khayalan dan angan untuk membela diri, dan kalau kira-kira tidak mujarab malah mengancam akan membuat gelombang lebih besar lagi, walau negara jadi sasarannya.

Seolah tak sadar bahwa negeri tercinta yang membesarkannya ini pun adalah perjuangan para pahlawan bangsa dari Sabang sampai Merauke, yang memiliki fanatisme melek tentunya, fanatisme akan NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara, bukan perjuangan para fanatisme buta yang ingin merubah ideologi bangsa sesuai faham dan ideologi gerombolannya, dan bahkan bukan perjuangan para penikmat dunia maya yang bergerombol untuk menembus 7 juta status.

Namun dibalik sebuah sisi hitam selalu ada sisi putih, bak lambang yin dan yang dari negeri ginseng, ada aliran putih disamping aliran hitam. di Negeri tercinta ini pun masih banyak orang yang hati dan pemikirannya wajar, mendukung seseorang dengan beralaskan hati dan nurani yang tidak buta.

Mereka bagaikan gelombang lipatan dalam lautan, tenang dan seolah diam tak berdaya, namun bisa menjadi boomerang bagi orang yang selalu menganggap dirinya kelompoksuperior, lebih benar dan lebih suci dari kelompok lainnya.
Para fanatisme melek ini pun tidak berasal dari salah satu golongan atau kelompok tertentu saja. Mereka berasal dari latar belakang suku marga, etnis dan usia.

Membela tindakan yang benar, bermotif tulus dan melawan kemungkaran itu lebih penting baginya walaupun itu berbeda bahkan melawan arus kepentingan pribadi golongannya. Memilih untuk melawan setiap cemoohan bahkan mungkin hinaan dengan tindakan yang kooperatif, aksi doa dan demo yang tidak memaksakan kehendak.

Oh alangkah indahnya negeri ini, jika setiap kita bisa melihat keberagaman dengan wajar, memandang perbedaan dengan minim egoisme. Disaat kita masih diterpa fenomena fanatisme, negara lain mungkin tertawa, bukan saatnya lagi mengedapankan suku, ras dan bahkan agama, ini era perlombaan kualitas, teknologi dan penemuan yang bermanfaat bagi human race.

Semoga kita  bisa berkaca dengan wajar dan sadar, agar fanatisme yang buta dapat melihat kembali, dan tetap mengevaluasi diri dan belajar agar Fanatisme yang melek tidak berubah menjadi buta.

Herbet Halomoan Sinaga, Seorang Netizen

Leave a Reply