Home > Opini > Kecepatan Website Kunci Sukses Bermedia Online

Kecepatan Website Kunci Sukses Bermedia Online

Foto: Ilustrasi

Oleh Jon Roi Tua Purba

PUKUL 9 pagi, ponsel saya bergetar. Sebuah pesan masuk di WhatsApp. Seorang teman mengabarkan, keluarganya tabrakan dan tewas di tempat kejadian.

Lekas saya gali informasi dari berbagai pihak. Begitu data-data terkumpul, saya crosscek lagi dan konformasi ke pihak kepolisian lalu lintas. Begitu seluruh informasi akurat dan terkonfirmasi, beritanya langsung saya tulis kemudian tayang di situs sorotdaerah.com, media daring yang saya rintis.

Usai menuliskan berita itu, saya tidur siang. Baru saja mau tutup mata, mendadak telepon saya bolak-balik berdering. Ponsel saya kebanjiran pesan via sms dan WhatsApp. Penasaran, kemudian saya cek. Ternyata banyak nomor yang tak saya kenal mengirim pesan berisi komplain atas website yang lambat bahkan akhirnya tak bisa diakses. Waktu itu, sorotdaerah.com baru berumur tiga bulan.

Sebagai pengelalo amatir, kondisi ini membuat saya, di satu sisi bingung namun senang di sisi lain. Bingung karena saya tak paham, kenapa website bisa mendadak hang up. Senang, lantaran, respon pembaca atas berita dan website luar biasa. Berita itu menjadi trending topic, website kebanjiran pengunjung.

Dalam sejam pertama, pasca berita itu diposting, jumlah pembaca mencapai 30 ribu. Tak hanya dibaca, tetapi juga dibagikan berkali-kali. Itu baru di website, jumlah pembaca dan share di halaman Facebook juga jauh lebih besar.

Website terus saya pantau, sesekali website dapat diakses. Pertanyaan dan komplain dari para warganet tak berhenti, karena peristiwa ini terjadi pada keluarga rekan satu komunitas. Tingkat afinitas berita dengan pembaca begitu dekat.

Dalam kebingungan itu, saya kontak Bung Marurat, ahli IT kami. Menurut dia, website kami mendadak jatuh (down) lantaran tidak mampu menampung jumlah pembaca yang begitu besar dalam waktu bersamaan.

Marurat menganjurkan, kapasitas website harus diperbesar. Jika tidak, akses terhadap website akan terus lambat. Dampaknya, jumlah pembaca akan anjlok karena mereka tidak menyukai website yang lambat untuk diakses. Tentu saja ini perkara serius bagi saya. “Kamu tak usah bingung. Sebenarnya ini berita bagus,” kata Marurat menyemangati saya.

Terus terang, saya tak mengerti, mengapa persoalan ini, oleh pakar IT, justru dianggap kabar baik? Setelah mendapat penjelasan lebih detail, barulah saya mengerti maksudnya. Sebuah website rintisan dikatakan berkembang positif ketika jumlah pembacanya terus meningkat seiring waktu. Namun, dari situ saya baru paham, rupanya website serupa rumah, mempunyai ruang dan kapasitas tertentu dalam menampung pengunjung yang datang.

Rumah tipe 36 misalnya, tak akan mampu menampung 100 orang dalam waktu bersamaan. Jika hendak menggelar hajatan di rumah tipe 36, kapasitas ruangan perlu diperbesar, misalnya memasang tenda hingga ke teras dan pekarangan. Jika memaksa hajatan digelar di ruang tamu yang hanya mampu menampung 20 orang, namun ada 200-an tamu datang, maka yang terjadi adalah desak-desakan, tidak bisa bergerak, dan hajatan bisa kolaps karena pergerakan orang di rumah itu menjadi sangat terbatas.

Demikian juga website. Jika pengunjung yang datang di saat bersamaan meledak jumlahnya, melebihi dari kapasitas yang tersedia, website otomatis akan lambat sekali diakses bahkan jatuh. Benar saja, website yang saya kelola hanya berbiaya kurang lebih Rp 800 ribu. Penjelasan itu memberi saya solusi jitu: kapasitas website harus ditambah.

Ini yang saya katakan, bahwa persoalan kapasitas website adalah masalah serius. Karena hal ini menyangkut uang yang harus saya keluarkan. Saya kemudian bergerilya mencari duit guna menalangi penambahan kapasitas website. Selama saya mencari dana untuk penambahan kapasitas, website-pun berjalan tidak stabil. Butuh tujuh hari bagi saya untuk mencari dana karena sisa tabungan saya tidak cukup.

Tidak besar kapasitas website yang saya tambah karena keterbatasan dana. Dalam benak saya, yang penting website bisa segera beroperasi. Seiring dengan berjalanya waktu, saya dan tim terus berupaya memperbaiki diri dalam pengelolaan. Tak terkecuali terus berupaya mencari jaringan kerjasama yang mungkin dapat dibangun.

Belum mendapatkan jaringan kerjasama dengan siapapun, kembali depalan bulan kemudian website down. Analisa permasalahanya sama, kapasitas website perlu diperbesar lagi.

Kali ini, saya dan tim menyadari bahwa mengelola website ternyata sangat dinamis. Kabar positif berkembangnya website berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas. Pastinya berhubungan juga dengan dana yang harus digelontorkan.

Sementara itu, usia website yang masih muda juga masih belum mendapatkan kerjasama iklan. Belum ada pemasukan sama sekali. Maklum pengelolaannya masih amatir. Kami juga tak mampu membayar seorang ahli IT. Jadi kami terus menjalin komunikasi dengan penyedia jasa IT.

Demi memastikan website bisa terus berjalan, kami mengajukan proposal untuk patungan bersama dengan para sahabat. Proposal kami sampai pada seorang pengusaha. Nasib baik, proposal kami direspon positif. Seorang pengusaha tertarik untuk terlibat dalam pengelolaan website yang kami bangun.

Saya dan seorang teman, mempersentasekan perkembangan website kami serta peta jalan yang kaki rancang hingga lima tahun ke depannya. Ia tertarik karena website kami berkembang pesat . Kondisi website yang kerap down dinilai sebagai bentuk kemajuan yang harus disambut positif. Website sudah mempunyai pembaca. Pembicaraan mengarah pengembangan dengan mengelola secara professional.

Kami paham betul, menuju sukses dalam mengelola media online adalah dengan memberikan kenyamanan pada pengunjung. Pengembangan yang direncanakan, yakni pengelolaan professional adalah berbicara tentang tantangan di dunia digital yang semuanya serba online.

Sebagai media online, pengelolaan profesional salah satunya adalah memberikan kenyamananan bagi pengunjung. Kecepatan diakses menjadi satu kunci penting agar sukses mengelola media online. Website yang lambat akan ditinggalkan pengunjung. Kecepatan akses, menurut saya, sama pentingnya dengan menyediakan konten yang berkualitas. Sebab tak ada gunanya menyajikan konten bermutu jika website sulit untuk diakses pembaca.

Pilihan penyedia website juga menjadi penting dengan keterbatasan sumber daya manusia yang ada di sorotdaerah.com. Kami percaya kepada Dewaweb. Pelayanan dari Dewaweb membuat sorotdaerah.com lebih percaya diri. Respon layanan yang cepat dan tepat menjadi kelebihan Dewaweb.

Kami tak canggung untuk meminta bantuan setiap kali ada permasalahan. Layanan life chat dengan ‘Ninja Support’ membuktikan bahwa kecepatan layanan menjadi penting dan diutamakan oleh Dewaweb. Setiap permasalahan yang kami laporkan langsung direspon cepat dan tuntas.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Amazon tahun 2006, peningkatan kecepatas akses situs sebesar 100 milidetik atau 0,1 detik akan meningkatkan pendapatan 1 persen. Bahkan, Amazon berpotensi kehilangan 1,6 Milyar dollar Amerika Serikat setiap tahunnya jika website mereka melambat satu detik saja.

Hasil riset yang berkaitan dengan kecepatan website di tahun 2010 yang dilakukan Google juga menekankan betapa pentingnya kecepatan akses website. Google merilis, kecepatan website merupakan salah satu sinyal yang digunakan dalam algoritmanya untuk merangking halaman website.

Hasil riset di muka menandaskan, pengelola website harus terus berbenah dan melakukan inovasi untuk memberikan yang terbaik kepada para penunjung dan calon pengunjung. Sekarang kecepatan website menjadi promosi yang sangat menjanjikan untuk bisa sukses. Tentu tak lepas juga dari konten sebuah website. Jadi jika ingin sukses, terus berinovasi memberikan kecepatan akses di website yang dikelola.  (*)

Penulis tinggal di Siantar dan pemilik media daring sorotdaerah.com

You may also like
Website ITS Sabet Juara II Nasional
Rayakan Kemerdekaan Indonesia TWF Adakan Workshop Dan Luncurkan Website
Gorilla, Narkoba Jenis Baru Beredar di Media Daring

Leave a Reply