Home > Opini > Pria Pemalu Yang Jatuh Cinta Pada Kamera

Pria Pemalu Yang Jatuh Cinta Pada Kamera

Oleh Lindung Silaban

DULU seorang bocah laki-laki malu disorot kamera. Setiap kali diajak berfoto, ia selalu menghindar. Tak dinyata, belasan tahun kemudian, ia jatuh hati pada fotographi. Setiap hari, ia akrab dengan jepret menjepret. Bahkan darah “pemburu” foto, mengalir di nadinya.

Berkat semangat “berburu foto”, pria ini sudah wara-wiri di tanah Sumatera. Ia menualangi banyak tempat. Mengabadikan beragam potret kehidupan. Ratusan ribu frame poto telah dikoleksinya.

Ia bahkan dikenal orang sebagai fotografer handal ketimbang pekerjanya saat ini, orang kantoran.

***
Lelaki itu, Charis Martin Purba. Putra Kelahiran Kota Siantar 27 Maret 1985 silam. Menamatkan studi dari Universitas Riau. Jurusan Agrobisnis.

Charis dulunya tidak pernah bermimpi jadi seorang juru foto. Tak ayal mimpi itu menghampirinya. Berawal ketika dia bersama istrinya, tengah melangsungkan sesi foto praweding di suatu tempat.

Diam-diam, ia “terkesima” dengan juru foto yang mengabadikan sesi prawedding mereka. Ia membayangkan sebuah pekerjaan mandiri yang bermula dari hobby. “Betapa sedap jadi fotografer. Digaji untuk hobby, dibawa jalan-jalan dan diberikan fasilitas gratis,” khayalnya.

Charis Purba bersama istrinya Silvia Cleopatra

Dia akhirnya terjun ke potografi karena mengetahui, memotret prawedding itu honornya gede. Kerja motret sambil jalan-jalan, dapat honor menurutnya asyik sekali. Ia membayangkan nikmatnya menjalani hobby yang bisa mendatangkan banyak duit.

Memang semua tidak mudah. Ia harus membaca banyak buku fotografi atau mempelajari karya-karya foto orang lain. Ia pun rela berjam-jam memelototi gambar, mempelajari teknik pemotretan, komposisi, sudut bidik dan core value.

Bermodalkan, kenekatan, keberanian dan semangat belajar, kini dia telah mengoleksi frame foto unik dan bagus.

Sekalian ia bisa mengeksplorasi beragam tempat-tempat wisata. Ia kini sedang mengerjakan projek bertajuk “Sehari Satu Foto”. Projek ini telah berjalan setahun lebih. Melalui projek ini, ia mendapat banyak jaringan pertemanan.

Ia mempublikasikan beragam foto secara rutin per hari di akun fesbuknya. Banyak dukungan mengalir. “Dari sini saya melihat, banyak juga yang seide dengan saya,” kata dia.

Melalui projek sehari satu foto, makin tumbuh gerakan netizen peduli kelestarian Danau Toba. Gerakan itu berupa kampanye lewat postingan bernada positif tentang Danau Toba dan aneka budaya di Sumut. Era digital dan media sosial telah melahirkan generasi X, generasi pembaharu dengan ide-ide kreatifnya.

Generasi X, muncul sebagai barisan menentang model-model jadul yang lamban membaca gerak zaman. Charis Martin, salah satu dari generasi X, yang menjadi ikon sekaligus penggebrak. Ia memanfaatkan kamera sebagai senjatanya. Tentu saja insightnya terhadap alam, budaya dan kemanusiaan telah lama dibentuknya sehingga peka, ibarat pedang yang selalu terasah.

Pekerjaaan yang sekarang bukanlah sebuah mimpi yang kini jadi kenyataan namun sebuah kemauan untuk berkarya. Apa yang dialami oleh Charis telah mengubah pola pikir yang dibatasi kemustahilan.

Di tengah kesibukannya sebagai pekerja kantoran di salah satu perusahaan, dirinya tetap menyempatkan diri untuk menjepret Danau Toba sebagai bentuk kecintaan pada alam. “Minimal hal kecil seperti ini bisa saya lakukan,” kata suami dari Silvia Cleopatra ini.

Ia menjujuri, dulu awalnya menjepret foto untuk hobby atau kesenangan. Namun kini ia telah memiliki visi yang kuat untuk menceritakan suatu tempat supaya dapat dipahami sebagai ide dan cerita yang mampu menyerudut hati setiap manusia.

Menurutnya sebagai pecinta lingkungan, kita tidak mesti memiliki kamera canggih. “Asal ada niat dan kemauan, kamera ponsel juga bisa. Ini saatnya kita melakukan perubahan,” pungkasnya. (*)

You may also like
Dua Maling Sepedamotor Terekam Kamera CCTV Warnet
Ini Era Fotografi Ponsel
Olimpiade Lingkungan Se-Sumut

Leave a Reply