Home > Opini > Rasionalitas Pemilih dan Peran (Pemuka) Agama

Rasionalitas Pemilih dan Peran (Pemuka) Agama

Oleh Alfredo Sintong Lubis

Publik perlu sadar. Tidak tendensius terhadap seseorang yang maju pilkada dengan identitas seagama.

****

AGAMA menjadi isu yang sangat mudah dipelintir untuk merusak pemikiran para pemilih yang belum memiliki pemahaman rasionalitas. Masuk melalui khotbah-khotbah (maupun pernyataan pribadi di ruang-ruang tertentu) yang dibawakan oleh kaum-kaum berjubah, jabatan sentral dikalangan para umat. Seakan membawa suara-suara suci. Padahal memberikan propaganda kepada umat. Akhirnya menimbulkan kekisruhan diantara umat yang tak satu pandangan.

Ini bahaya. Lebih ngerinya lagi akan menimbulkan konflik horizontal diantara umat dan para pemuka agama yang membawa dukungan terhadap orang tertentu yang terlibat dalam kontestasi politik.

Kita perlu melihat rekaman peristiwa perpolitikan Jakarta pada pilkada lalu. Isu agama mampu menimbulkan perpecahan. Terlihat itu terjadi pada umat yang awalnya netral. Bahkan yang tadinya sehat berpikir juga mampu terbius. Apalagi umat yang pikirannya mudah disusupi oleh ayat-ayat kitab suci untuk memilih seorang paslon dalam kontestasi pilgub.

Publik perlu memahami bahwa kontestasi politik sangat sarat disusupi berbagai kepentingan. Bisa saja kepentingan menjadi manuver untuk menaikkan rating seorang sebagai kandidat di pilkada. Ruang-ruang peribadatan merupakan salah satu alternatif yang sangat gampang untuk disusupi. Kaum-kaum berjubah, dengan komunikasi tertentu kepada pihak tim sukses dari seorang cagub. Mereka mampu menyajikan kerjasama untuk memprovokasi umat. Tujuanya untuk menentukan pilihan politiknya kepada cagub yang diusung timses tersebut.

Ini menjadi kekuatiran bagi umat lainnya yang punya pandangan berbeda. Kekuatiran itu cukup beralasan, akibatnya memecah persatuan umat. Pemilih dengan rasionalitas yang baik akan bersuara bahwa pemuka agama tidak baik membawa politik ke dalam ruang peribadatan. Ada lagi umat yang berpandangan sah-sah saja membawa politik masuk ke ruang peribadatan. Semua kalangan tersugesti oleh khotbah pemuka agama tersebut. Akhirnya ikut mendukung seseorang yang dalam kaitannya punya identitas seagama.

Karena itu publik perlu menyadarkan diri. Tidak tendensius terhadap seseorang yang maju pilkada dengan identitas seagama.

Rasionalitas dalam menentukan pilihan politik sesungguhnya tidak memiliki kaitan dalam keagamaan seseorang. Keagamaan itu adalah ruang privat yang dianut tiap-tiap individu. Pertimbangan itu harus lebih kita arahkan pada pemimpin yang berkualitas. Selain itu, jangan lupa menelusuri rekam jejak calon yang berkontestasi dalam pilkada. Sehingga dengan informasi tersebut, publik dapat menentukan sikap politiknya. Sikap itu didapat sendiri dengan menggunakan kecerdasan. Jadi pemilih bisa rasional.

Sebaliknya, para pemuka agama tidak perlu menekankan untuk memilih seseorang karena identitas seagama. Pemuka agama cukup menekankan agar para pemilih menggunakan hak politiknya. Memilih pemimpin yang selama ini sudah terbukti memiliki rekam jejak yang baik. Kemudian mempunyai kualitas sebagai pemimpin daerah. Sekali lagi, tanpa membawa pesan dari identitas agama yang dimiliki calon pemimpin daerah tersebut.

Agama harusnya bukan menjadi candu yang membuat seseorang mabuk dalam menentukan sikap politiknya. Agama harusnya mampu menjadi pemerdeka bagi umat dalam menentukan sikap politiknya. Mimilih pemimpin yang jujur dan punya rekam jejak baik. Pemimpin yang mumpuni dalam identitasnya sebagai calon pemimpin daerah.

Akhirnya, dengan pemahaman demikianlah umat dapat memilih pemimpin yang benar-benar punya kualitas sebagai pemimpin daerah. Memahami esensi dari amanah yang diembannya. Jabatan seharusnya digunakan untuk melayani semua golongan di masyarakat. Tanpa melihat identitas agama. (*)

You may also like
Nyeberang Jalan, Pria Tanpa Identitas Tewas Tertabrak Mobil, Terseret 400 Meter
Masyarakat Karo Dorong Ruben Tarigan Maju di Pilbup Deli Serdang
Inilah Identitas Kedua Pelaku Yang Serang Markas Poldasu
Tigor Apresiasi Partangiangan Toga Sihombing, Tapi Jangan Pilih Kasih
LKP2 Kritik Sikap DPRD Siantar
Terungkap, Identitas Mayat Dalam Karung di Sipintupintu

Leave a Reply