Home > Opini > Salah Rumah Sakit Sajakah ?

Salah Rumah Sakit Sajakah ?

Oleh Martogi Siahaan

Baru baru ini begitu ramai pembahasan mengenai Rumah Sakit (RS) yang menolak perawatan memadai untuk pasien tanpa uang muka. Berbagai bahasan yang tentu menyayangkan situasi ini telah dibahas. Barang tentu saya berada di pihak yang mendukung upaya masyarakat dan pemerintah untuk mendorong RS tidak menjadi institusi yang mengabaikan rasa kemanusiaan. Kehadiran pemerintah untuk mengawasi dan mencegah RS yang mencari keuntungan dari penderitaan masyarakat.

Tidak bermaksud membela. Tapi mencoba melihat keberpihakan dan keadilan, maka kita harus mencoba objektif dengan melihat berbagai sisi, sehingga pengusaha tidak takut dalam berusaha dan ada perlindungan yang memadai khususnya dalam era digital saat ini, dimana suara massa acapkali menjadi kebenaran informasi. Pembaca tidak lagi mau menguji opini dengan jernih. Seringkali opinion leader di media sosial seolah menjadi pengadil dan kalau ini terjadi dalam kasus adanya service failure maka beban perusahaan bahkan yang benar-benar melakukan servicepun akan sangat berat.

Kondisi ini memang tidak berdiri sendiri. Masyarakat sudah banyak kecewa dengan pelayanan Rumah Sakit. Komersialisasi yang berlebihan terhadap institusi ini dengan dalih pelayanan, maka keuntungan yang dikejar sangat memberatkan masyarakat.  Sepertinya rumah sakit kehilangan sisi kemanusiaannya. Di sisi lain pelayanan primapun belum dinikmati masyarakat, terbukti banyak pasien beranjak luar negeri oleh karena perlakuan buruk dokter dan institusi kesehatan ini.

Saya masih ingat kisah ibu seorang teman yang kaya, kecewa oleh karena proses pembayaran sebelum dilakukan tindakan. Rumah sakit meminta uang tunai.  Ia (teman saya) hanya membawa kartu kredit dan ATM. RS tidak bersedia.  Hal itu menimbulkan curiga yang mendalam. Ada apa? Sebab sebagai pengusaha kami tahu kalau transaksi tunai itu mengandung banyak lobang. Kasus tersebut salah satu contoh bahwa bukan hanya masyarakat miskin yang korban.

Kompleksnya permasalahan per-rumah sakitan ini, tidak terlepas dari ruwet dengan kondisi moral masyarakat. Banyak orang yang ditolong kemudian meninggalkan tagihan yang membengkak yang akhirnya membebani keuangan RS. Masyarakat kita juga sama sakitnya. Ditambah dengan kisah BPJS yang menjadi trauma tersendiri bagi dokter, RS dan pasien.

Kasus RS tidak beda jauh dengan institusi pendidikan. Dilema antara kemanusiaan dan kelangsungan usaha menjadi jamak. Banyak RS dan institusi pendidikan yang baik kemudian seperti juga institusi yang lain di mata masyarakat. Oleh karena mereka terpaksa memainkan instrumen SOP dan aturan baku, oleh karena kelonggaran sedikit di level operator merupakan celah yang besar di finansial. Celah ini seringkali dimanfaatkan oleh pegawai dan masyarakat. Dan di sisi lain pengusaha tidak bisa telat bayar gaji.

Kondisi permasalahan RS terkini  menjadi momentum pembenahan RS di Indonesia. Di sinilah peran pemerintah sebagai wakil Tuhan bagi bangsa ini menjadi penting. Membuat aturan dan melindungi semua pihak, baik pengusaha maupun masyarakat dan semua stakeholders.

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. “Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat” (Roma 13:4).  (*)

You may also like
Lusa, Kapolri Akan Berikan Bantuan Kesehatan Bagi Pengungsi Sinabung 
Juru Selamat Itu Bernama BPJS Kesehatan
Jaringan PLN Korsleting, Masyarakat Sipoholon Diharap Bersabar
Tigor Lumbantoruan Terima Kunjungan Dukungan Kelompok Masyarakat Pahae
Kondisi Kesehatan Korban Selamat Pembunuhan Sadis di Medan Membaik
ELSAKA Gelar Pelatihan Tentang Layanan Publik Sektor Kesehatan

Leave a Reply