Home > Opini > Sumut Bermartabat, Mungkinkah?

Sumut Bermartabat, Mungkinkah?

Oleh: Gusmiyadi (Goben)

“Padahal martabat memiliki makna yang sangat dalam. Ia (martabat) adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat. Sedangkan Harkat adalah nilai manusia sebagai mahluk Tuhan YME, yang dibekali daya cipta, rasa, dan karsa serta hak – hak dan kewajiban asasi manusia.”

***

SUMUT bermartabat, kata Edy Rahmayadi. Belakangan hari, diksi ini seakan menjadi mantra bagi warga. Tengok saja media sosial masyarakat Sumut saat ini, kata bermartabat berseliweran hilir mudik di lini masa. Sebagai jargon, diksi bermartabat memang renyah, mudah dilavalkan dan sangat familiar dengan keseharian kita.

Padahal martabat memiliki makna yang sangat dalam. Ia (martabat) adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat. Sedangkan Harkat adalah nilai manusia sebagai mahluk Tuhan YME, yang dibekali daya cipta, rasa, dan karsa serta hak – hak dan kewajiban asasi manusia. Edy sedang tawarkan philosofi tinggi untuk dijabarkan secara faktual dalam kehidupan masyarakat Sumut. Mungkinkah?

Siapapun juga paham bahwa Sumut provinsi yang sangat unik. Dalam sejarah, ia mengalami proses dialektika yang rumit, keras dan sangat dinamis. Bukan sekedar kata saya, rasanya semua setuju bahwa mengelola Sumut bukan perkarah mudah. Masyarakatnya majemuk, watak warganya cenderung keras, sehingga penerapan kebijakan perubahan pada aspek yang bersentuhan langsung dengan rakyat akan mungkin saja berpotensi menghadapi tantangan maha dahsyat.

KPK tahun 2016 mengatakan bahwa Sumut termasuk provinsi yang paling korup. Dua Gubernur masuk penjara secara berturut-turut. Tahun 2015, Indonesia Corruption Watch (ICW) melalui penelitiannya juga menemukan bahwa Sumut menjadi daerah dengan kasus tindak pidana korupsi terbanyak di Indonesia.

Kondisi itu merupakan representasi nyata dari rusaknya keadaan Sumut selama ini. Pada saat yang sama, rakyat pasti menjadi yang paling dirugikan. Parahnya, pada titik tertentu, ketika keadaan itu terjadi dalam ruang waktu yang panjang dan masif, masyarakat akan menjadi imun dan ikut-ikutan menjadi kolutif. Buktinya saja, sistem demokrasi kita selalu diwarnai dengan aroma politik pragmatis yang sangat tragis.

Tampaknya situasi ini yang menjadi bacaan Edi Rahmayadi. Sumut Bermartabat menjadi puncak usaha untuk memecahkan kebekuan budaya destruktif yang ada di Sumut. Dalam beberapa kesempatan Edi Rahmayadi mengarahkan bermartabat diartikan sebagai bingkai lingkup kehidupan yang memiliki kualitas iman dan taqwa. Masyarakat yang cukup sandang, pangan dan papan. Situasi ini tidak mungkin tercipta pada masyarakat dan pemerintahan yang korup.

Bermartabat dalam visi Edy Rahmayadi adalah ketika masyarakat dapat mengenyam pendidikan yang baik, kesehatan yang prima, mata pencarian yang menyenangkan serta harga-harga terjangkau.

Pada kondisi pemerintahan yang baik, suasana politik yang beretika dan bersih, rakyat pasti akan mencintai pemimpinnya. Masyarakat akan mencintai negara, serta memiliki kohesi sosial kuat dan harmonis.

Jujur saja, sesungguhnya berat bagi kita meyakini visi itu terwujud secara nyata di Sumut. Meskipun peluang itu tentu saja masih terus harus dijaga. Beruntung yang bicara Edy Rahmayadi. Tokoh dengan prestasi kemiliteran yang cukup mumpuni, terkenal disiplin dan tegas. Ia tidak memiliki catatan yang buruk sepanjang karir hidupnya, termasuk isu-isu terkait korupsi. Dalam konteks ini, harapan pembaharuan menjadi tidak terhenti diruang hampa.

Terkadang memang, dalam situasi krisis kepercayaan yang akut pada ruang-ruang politik selama ini, penting sekali bagi rakyat untuk memperhatikan rekam jejak dalam memilih calon pemimpin. Sisi ini menjadi strategis sebagai komperasi kongkrit antara janji dan kesesuaian pada pembawa pesan perubahan. (*)

Penulis adalah Aktivis Indonesia Bergerak

You may also like
Gus Irawan, Pasokan Listrik Sumut Surplus
Sebelum Mencoblos, Pemilih Wajib Isi Form C7 di TPS
Menuju Birokrasi Sumut Berparadigma 4.0
Menjadi Gubsu, Djarot Sihar Pelayan Rakyat
Menuju Birokrasi Sumut Berparadigma 4.0
Sehari 66 sampai 70 Nyawa Melayang di Jalanan

Leave a Reply