Home > Opini > Bila Pendidikan Sudah Merata

Bila Pendidikan Sudah Merata

Oleh Riduan Situmorang

SABANHARI di kampung penulis (saya pikir, ini bisa menjadi representasi dari pelosok), setiap anak sehabis sekolah langsung ke sawah, ke ladang. Bahkan, tak jarang setiap anak malah bertukar seragam di sawah. Saya sendiri dulu mengalaminya. Bukan berarti bagi orangtua pendidikan itu tak penting. Hanya saja, adalah fakta bahwa setiap anak juga sekaligus menjadi mesin penopang perekonomian keluarga. Artinya, anak tak bisa sekolah andai mereka tak mau ke ladang atau ke sawah. Jadi, alih-alih mengulangi pelajaran atau mengerjakan PR dengan maksimal pada malam hari, anak justru memilih langsung cepat tidur.

Semua hari sama saja, tak ada perbedaan, termasuk dengan masa ujian. Maka, ketika sekarang saya menjadi pengajar sekaligus pendidik di kota, saya merasa cemburu sekaligus iba pada anak-anak di kampung. Perbedaan itu memang benar-benar nyata. Betapa tidak, di kota, rata-rata setiap anak dibebani cukup hanya belajar dan bermain. Mereka tak lagi berpikir bagaimana menopang perekonomian keluarga. Mereka dipersiapkan menghadapi masa depan secara terstruktur dengan cara mendatangkan psikolog atau konsultan. Jika sekolah dirasa belum cukup, pada anak pun disuguhkan bimbingan belajar. Ada kursus bahasa asing, kursus matematika, dan masih banyak lagi.

Di kampung, hal itu tak terjadi. Masa depan anak cukup diserahkan pada takdir dan nasib baik. Mereka tak dipersiapkan menghadapi masa depan. Masa depan seolah mimpi yang tak bisa ditata. Tak ada psikolog sehingga penjurusan dominan hanya karena ikut-ikutan. Tak ada bimbingan belajar, apalagi kursus-kursus. Semua hari sama saja, termasuk pada masa ujian: melelahkan. Bahkan, hari libur hampir tak ada gunanya bagi anak di kampung. Betapa tidak, jika di kota, anak akan mengunjungi pantai, di kampung, anak akan seharian di ladang atau sawah.

Menjaga Kasta

Sebentar lagi, ujian-ujian seleksi ke PTN akan segera berlangsung. Karena itu, kini hampir semua anak sekolah-kota tengah sibuk membahas tipe-tipe soal. Asupan gizi mereka ditingkatkan. Guru sendiri cukup atraktif “menggurui” agar orangtua memperhatikan pola makan siswa. Di kampung, jangan harapkan hal itu terjadi. Masa-masa ujian dan masa-masa lain adalah masa-masa merepotkan dan melelahkan. Asupan gizi pun tetap sama (kurang). Di sinilah, saya merasa iba. Perbedaan itu ternyata benar-benar real.

Contoh konkretnya terlihat dari mimpi dan harapan mereka. Itu terlihat setelah habis UN, beberapa orang siswa desa (ya, beberapa saja untuk tidak mengatakan sebagian kecil) akan datang ke kota untuk ikut belajar di bimbel. Mereka akan duduk dan sekelas bersama orang-orang kota. Mereka akan diampu oleh pengajar yang sama dengan cara yang sama pula. Di sini, mereka kelihatan sudah punya level yang sama dengan siswa-siswa dari kota (orang kaya). Tetapi, ini hanya tampak luar. Sesungguhnya, ada perbedaan mendalam dan mendasar di antara mereka, yaitu mimpi.

Ketika ditanya, impian siswa-kampung itu sangat sederhana. Jurusan dan universitas yang mereka inginkan pun “biasa-biasa” saja. Mengapa? Karena mereka tak berani bertarung dengan anak-anak kota. Mereka sadar bahwa jatah mereka adalah jurusan dan universitas yang tak diambil oleh siswa dari orang-orang kota. Mereka hanya bisa mengambil jurusan dan universitas “sisa-sisa”. Ya, universitas dan jurusan barangkali bukan penentu masa depan. Semuanya kembali pada kreativitas anak itu sendiri.

Akan tetapi, siapa pun tahu, pengaruh universitas dan jurusan-bergengsi sangatlah besar pada tipe pekerjaan dan pendapatan. Di sinilah saya curiga bahwa sistem pendidikan kita memang sengaja dibuat demikian: menjaga kasta orang kaya. Bahwa orang miskin dan orang kampung hanya diberi kesempatan memilih jurusan atau universitas yang tak diambil oleh orang kaya dan orang kota. Kecurigaan ini bukan tanpa dasar. Adalah fakta bahwa perhatian kita ke setiap sekolah sangat berbeda. Sekolah-sekolah favorit seakan selalu menjadi fokus perhatian. Dana BOS selalu mengalir kepada mereka dengan deras.

Maka, bermunculanlah sekolah bergedung mewah pada posisi masih banyak sekolah “beratap langit-berlantai tanah”. Melihat ini, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, baru-baru ini sebenarnya sudah berang. Dia mengatakan bahwa porsi anggaran yang besar itu tak berdampak signifikan. Banyak anggaran tak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati orang kaya. Hasilnya, serperti kita ketahui, terjadilah kesenjangan luar biasa. Menurut data yang dirilis Oxfam, kekayaan empat orang terkaya Indonesia saja setara dengan 100 juta orang termiskin.

Dalam angka yang lebih detail, 10 persen orang terkaya kita menguasai 77 persen kekayaan nasional. Sisanya (23 persen) diperebutkan oleh 90 persen warga lainnya. Sudah bisa ditebak, bahwa jika sikap pendidikan kita tetap demikian, maka kesenjangan dipastikan semakin melebar. Perbedaan kualitas pendidikan akan semakin jauh. Karena itu, perbedaan kualitas hidup masa depan di antara mereka pun sudah pasti timpang. Memang, sekilas, hasil studi PISA (2015) pada pendidikan kita menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Skor sains, literasi, dan matematika kita meningkat. Peringkat kita pun menanjak.

Harus Hadir

Namun, fakta yang harus kita cermati adalah bahwa di baliknya ada masalah dahsyat. Yaitu, kualitas siswa dari golongan ekonomi terendah dan ekonomi tinggi mencapai angka yang tak tanggung-tanggung: 60 poin. Ini membuktikan bahwa fokus perhatian kita dalam pendidikan ada pada orang-orang kaya. Kita menyisihkan orang miskin dan menyerahkan mereka pada nasib baik. Padahal, cara terbaik memeratakan kesejahateraan adalah dari pendidikan. Bank Dunia sudah menyebutkan itu lebih dari seperempat abad yang lalu.

PISA sendiri sudah membuktikan bahwa peringkat terbaik bukan diperoleh dari adanya sebuah sekolah megah dengan posisi pada saat yang sama, ada banyak sekolah “kandang”. Tak ada guna keunggulan kalau itu hanya menumpuk pada golongan tertentu. Tak ada guna memperbanyak porsi anggaran jika itu untuk orang yang sudah berkecukupan. Kualitas sebuah bangsa tidak dilihat dari golongan tertentu, tetapi dilihat dari seberapa merata (adil). Malah, PISA melalui rilisinya 6 Desember 2016 lalu sudah dengan tegas mengatakan bahwa yang harus diperjuangkan bukan keunggulan, melainkan keunggulan-pemerataan (Excellence and Equity in Education).

Karena itu, sebagai orang kampung, saya memohonkan agar pemerintah bersudi hati memperhatikan nasib pendidikan orang miskin dan orang-orang kampung. Jangan biarkan mimpi mereka ditindas oleh mimpi orang-orang kaya. Jangan serahkan nasib mereka pada nasib baik. Negara harus hadir. Tentu saja bukan dalam bentuk sumbangan tunai. Tetapi, lebih pada sumbangan elegan dan membantu, yaitu menghadirkan pendidikan berkualitas. Niscaya, dengan perlakuan lebih, dengan kualitas pendidikan (excellence), mereka akan berani bermimpi tinggi, bukan lagi menunggu mimpi sisa-sisa (yang dibuang orang kaya-kota). Pada saat itu, kesenjangan akan terpangkas dan Pancasila bukan lagi identik dengan ketimpangan. (*)

Penulis Seorang Pendidik di Medan, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan di Toba Writers Forum (TWF).

Tulisan Ini Disertakan dalam Lomba “Opini dan Features Kemendikbud 2017”

You may also like
Ephorus HKBP Kunjungi Pulau Enggano: Perekonomian, Jalan Dan Pendidikan Masih Minim
Tingkatkan Nasionalisme, Plaza Medan Fair Gelar Acara Anak-anak Pancasila
SMP HKBP Sidorame Raih Kostum Terbaik dalam Lomba Tari Pendidikan di Unimed
Perbaiki Mutu Pendidikan, 12 Rektor LPTK PTN Bertemu di Medan
Cabuli Sembilan Muridnya, Guru Honor Di Humbahas Ditetapkan Tersangka
Pendidikan Vokasi Berbasis Potensi SDA

Leave a Reply