Home > Pendidikan > Diskusi Literasi, TWF Berkunjung Ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut

Diskusi Literasi, TWF Berkunjung Ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut

Sorotdaerah.com- Toba Writers Forum (TWF) mengadakan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Sumut, Senin pagi (14/8).

Kedatangan TWF disambut oleh Syafiral Nazaruddin (Pustakawan) dan Indra Hadi Kusuma Nasution (Pengelola Bahan Pustaka). TWF berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumatera Utara karena ingin berperan aktif dan serius dalam menghidupkan semangat literasi Sumatera Utara, apalagi Provinsi Sumatera Utara juga sudah mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Melek Literasi.

Acara diskusi dimulai Riduan Situmorang dengan menuturkan sejarah dan tujuan pembentukan TWF. “TWF dibentuk berdasarkan sebuah kegelisahan sekaligus semangat. Gelisah karena dulu pegiat-pegiat literasi berasal dari Sumatera Utara. Ada Merari Siregar, Simatupang Bersaudara, Sanusia Pane, STA, Sitor Situmorang, bahkan Chairil Anwar besar di Medan. Kami bukan siapa-siapa dalam dunia literasi, kami hanya orang muda yang mau bergerak,” katanya menjelaskan.

Semangat TWF adalah ingin membiakkan geliat literasi pada orang-orang muda, khususnya siswa-siswa. Sebab, orang tua akan segera berlalu, orang muda akan segera mengambil tempat.

“TWF itu gerakan semangat. TWF bukanlah gerakan dengan gerak-gerik. Kita murni gerakan intelektual” kata Juniper Silitonga, salah satu anggota TWF.

“Kita dari TWF sudah melakukan beberapa pelatihan dan akan terus berupaya melakukannya semampu kami,” lanjut Parno S Mahulae.

Pada perayaan 17 Agustus ini, TWF memang akan mengadakan dua workshop sekaligus di Huta Siallagan, Samosir. Workshop pertama adalah tentang dunia kepenulisan dengan topik “Merdeka dalam Menulis”.

Sementara workshop kedua tentang semangat menggali dan menjaga kearifan lokal di sekitaran Danau Toba. Topiknya “Menunggu Danau Baru”. “Kita ingin gerakan pelatihan semangat membaca menulis sampai ke daerah-daerah juga, jangan hanya di kota,” ujar Firman Situmeang.

Pihak Dinas Perpustakaan dan Arsip menyambut dengan baik niat dari TWF. “Kita ini benar-benar searah, sepaham, dan sejalan kalau dalam misi literasi ini. Kita juga ingin agar rakyat Sumatera melek literasi. Hanya memang, dalam memperjuangkannya kita masih lumayan kesusahan” tukas Indra.

Menurut Riduan Situmorang, fokus pencanangan literasi hendaknya diutamakan kepada anak muda dan digalakkan ke sekolah-sekolah. Sebab, orang mudalah generasi penerus. Padahal, saat ini, orang muda seperti siswa sudah malas membaca karena merasa tak mendapatkan apa-apa pun dari kegiatan membaca.

“Sebenarnya, kita sudah lama menggiatkan semangat literasi, apalagi setelah ada survei, menurut UNICEF, indeks membaca kita hanya 0,001. Setelah itu, pemerintah dan kita semakin menggembor-gemborkan semangat literasi. Tetapi, masalahnya, masyarakat serasa tak mendapatkan apa-apa dari kegiatan literasi” tegas Syafrizal.

“Budaya tak mendapatkan apa-apa ini adalah sebenarnya budaya matre. Budaya matre ini sebenarnya bisa kita manfaatkan dan kita arahkan ke tempat yang baik,” kata Riduan menimpali.

Teknisnya, berikan ruang untuk membaca, berikan pula ruang untuk mengkritik atau menanggapi apa yang dibaca. Selanjutnya, berikan apresiasi kepada orang yang mau mengkritik dan yang membaca sebuah tulisan.

Menurutnya, ketika merasa akan mendapatkan sesuatu, seperti hadiah, orang tentu akan aktif membaca kemudian menanggapi. Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut juga mengharapkan, TWF semakin aktif menulis dan berkarya, terutama menggiatkan semangat literasi di Sumut.

“Kita selalu menerbitkan tulisan-tulisan penulis Sumut setiap tahunnya. TWF kami rasa bisa juga menuliskan buku, lalu kami akan menerbitkannya.” TWF menyambut positif hal itu, karena menurut Juniper, jika dikumpulkan, tulisan artikel anggota TWF sudah ada ratusan, bahkan ribuan judul.

“Karangan kami sudah ratusan, bahkan ribuan. Itu saja sudah bisa dibukukan dengan tematik,” tegas Juniper Silitonga.

Juniper mengatakan, TWF sejauh ini ready sebagai fasilitator jika diadakan pelatihan literasi di sekolah.   Pada kesempatan itu, Dinas Perpustakaan Sumut juga mengundang TWF agar ikut aktif dalam acara 28-30 Agustus ini.

“Kita akan fasilitasi stand kalau TWF mau, katanya menantang TWF. TWF langsung menyambut baik hal itu. Apalagi, hal itu bisa menjadi salah satu ajang bagi TWF untuk memperkenalkan website yang akan mereka launching-kan di Huta Siallagan. Secara prinsip, kami mendukung semangat TWF. Gerakan-gerakan seperti inilah yang justru kita harapkan. Silakan nanti TWF, kalau ada pelatihan, diskusi, atau workshop, bisa kok menggunakan aula kita,” lanjut Syafizal.

Dalam diskusi itu, juga ikut hadir dalam diskusi itu Niko Adriano Hutabarat dan Partahanan Simbolon. Dalam pada itu, semua anggota TWF berharap, agar diskusi literasi dengan Disperpusip ini tidak hanya aca seremonial dan bincang-bincangsaja.

Hendaknya ada langkah lanjutan dan teknis yang terukur supaya semangat literasi, terutama dari orang muda tidak bergerak sia-sia, apalagi kalau sampai bergerak tanpa arah. Apalagi kini, Sumatera Utara sudah mendeklarasikan dirinya sebagai Provinsi Literasi. (RM)

You may also like
Menggali Potensi Wisata Siantar
Konsul AS: Selamat Untuk Sumatera Utara!
Besok Pegiat Literasi Buat Rekor MURI
SD Parulian Tunjukkan Cara Mengatasi Pemanasan Global
Dinas Perpustakaan Pemprovsu Dukung Gerakan Literasi
Setahun, TWF Akan Kumpulkan Seribu Surat Untuk Jokowi

Leave a Reply