Home > Kolom > Kuliah di Eropa Itu Asyik

Kuliah di Eropa Itu Asyik

Junita Togatorop saat berada di kampus Université de Strasbourg, Kota Strasbourg. Sorotdaerah.com

Oleh Lindung Silaban

Apakah Semua Anak Indonesia bisa Kuliah di luar negeri?

***

“Saya merasa ilmu yang dari kampus semasa S-1 masih kurang. Hal ini mendorongku untuk kuliah di luar negeri. Dan ternyata saya mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang tidak ada di Indonesia,” ungkap Junita, dalam percakapan panjang melalui Whatsapp.

Junita Togatorop demikian nama lahirnya. Wanita yang akrab disapa Junita ini merupakan alumni bahasa Perancis Universitas Negeri Medan (Unimed). Awalnya ia merasa mustahil untuk kuliah di negeri orang. Karena membutuhkan dana yang mahal untuk pembiayaan kuliah dan hidup sehari-hari.

Namun berkat doa-doanya setiap hari, Tuhan membuka jalan dan meridoi kerja kerasnya. Junita mengikuti beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). LPDP merupakan program beasiswa pemerintah yang diperuntukan bagi anak-anak Indonesia berkemampuan akademik, kepemimpinan yang tinggi dan lolos proses seleksi untuk melaksanakan studi pada program Magister dan Doktor. Perjuangan panjang Junita menghantarkannya untuk menempuh pendidikan di kampus Université de Strasbourg kota Strasbourg, Perancis.

“Masih kental diingatanku bagaimana perjuangan untuk mengurus berkas dan mengikuti setiap tahapan seleksi. Pengalaman itu juga menyadarkanku betapa penting arti sebuah perjuangan yang mandiri. Ternyata membuahkan hasil,” kenang Junita.

Apakah sulit untuk mengikuti setiap tahapan? setiap tahapan butuh perjuangan dan mempersiapkan diri dengan baik, jawab Junita ketika ditanya soal tahapan seleksi.

Menurutnya setiap anak Indonesia punya kesempatan yang sama, hanya saja dibutuhkan satu keinginan dan perjuangan yang gigih. Ibarat pepatah mengatakan “ketuklah pintu maka pintu dibukakan, jikalau belum, maka jangan lelah untuk kembali mengetuk pintu itu hingga dibukakan bagimu”. Kalimat itu selalu terngiang di benak Junita.

Kebiasaan Baik

Wanita kelahiran 16 Juni 1991 ini awalnya merasa aneh ketika melihat mahasiswa ke kampus tidak membawa buku diktat ataupun buku cetak lainnya. Berbeda halnya di Indonesia, tas mahasiswa berisi setumpuk buku. Setelah ia perhatikan, ternyata mahasiswa lebih banyak diperpustakaan. “Mahasiswa tidak beli buku. Diperpustakaan semua tersedia. Mulai buku jaman terdahulu hingga sekarang. Dan bukan hanya kampus yang lengkap bukunya. Ada perpustakaan di setiap kota hingga daerah (daerah dimaksud adalah seperti kecamatan kalau di Indonesia) Semua perpustakaan lengkap bukunya dan bisa dikunjungi. Hal yang menakjubkan perpustakaan ada yang buka 24 jam. Enak bukan? Bisa setiap saat baca buku”  Akses itu mempermudah mahasiswa untuk mengerjakan tugas kampus tanpa biaya besar. “Kami tidak harus beli buku, cukup keperpustakaan untuk cari bahan tugas kampus. Mahasiswa di sini suka membaca,” terangnya.

Disana dosen terbuka diajak berdiskuksi. Dosen antusias untuk menjawab setiap pertanyaan mahasiswa bahkan tak enggan menerima pandangan mahasiswa yang beragam.

Bicara soal dana ternyata di Perancis jauh lebih murah biaya kuliah dibanding di Indonesia. Mahasiswa cukup bayar 7.5 juta per tahun untuk program magister sudah termasuk asuransi pendidikan. Ada keringanan untuk setiap pelajar, yakni pemotongan biaya transportasi dengan syarat memiliki kartu mahasiswa.

Selain kuliah mahasiswa yang dari Indonesia juga memiliki kegiatan positif seperti bergabung ke dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Melalui PPI, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia. Dalam hal ini PPI bekerjasama dengan beberapa organisasi masyarakat setempat dan kampus. Salah satu kegiatan yang lajim dilaksanakan oleh PPI adalah pertunjukan tarian Indonesia. Bukan hanya itu, mahasiswa memiliki kesempatan belajar kebiasaan hidup orang Eropa. Disela-sela kesibukan, mereka menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

“Aku sempat khawatir akan perbedaan budaya, sosial dan cara berpikir orang-orang di sini, namun kenyataannya berbeda. Mahasisna di sini sangat menghargai perbedaan setiap orang,” ucap Junita.

Bagi Junita kuliah diluar negeri tidak selamanya membutuhkan dana yang mahal. Sebab Pemerintah menyediakan beasiswa bagi anak bangsa yang memiliki kemauan untuk belajar.

“Mimpi itu hanya sejauh doa dan usaha. Sejauh kita meyakini mampu menggapai apa yang diyakini, seisi bumi akan membantu,” pesan Junita. (*)

You may also like
Ringkasan Sosialisasi Beasiswa LPDP
499 TAHUN REFORMASI GEREJA
DIREKTUR LPDP DORONG DOSEN UNIMED STUDI DOKTOR KE LUAR NEGERI

Leave a Reply