Home > Features > Mesra Bertuah Deli Serdang

Mesra Bertuah Deli Serdang

Oleh Dedy Hutajulu

Di tinggal kabur sejak kecil, Selamet nyaris dipecat dari sekolah karena tidak mampu membayar iuran. Beruntung paguyuban kelas ada di sekolahnya, sehingga Selamet masih bisa menjaga mimpinya menjadi orang sukses.

Sebenarnya, Selamet punya ayah dan ibu, namanya Junaidi (41) dan Miswati(40). Namun ketika Selamet berumur setahun, kedua orangtuanya kabur. Sehingga Selamet diasuh oleh Neneknya, Misna (62).

Selain Selamet, Misna juga mengasuh dua cucu lainnya yang masih usia remaja. “Sampai sekarang ayahnya nggak pernah nengok Selamet. Ayahnya suka berjudi dan mabuk-mabukan. Itu yang bikin ibunya kabur. Ibunya enggak kuasa melihat kelakuan suaminya itu,” beber Misna saat ditemui di kediamannya di Desa Kualanamu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang.

Untuk menafkahi ketiga cucunya, Misna berjualan lontong. Ia menjajakan lontongnya setiap pagi dengan mengayuh sepeda, berkeliling kampung. Sehari ia bisa meraup omzet Rp 200 ribu. Dari hasil penjualan lontong itulah ia mencukupkan kebutuhan mereka sehari-hari, termasuk biaya sekolah ketiga cucunya. “Saya bantu-bantu nenek jualan. Tugas saya membungkusi dan mengantar lontong ke beberapa pelanggan,” ungkap Selamet.

Misna menceritakan bagaimana Selamet nyaris dikeluarkan dari sekolah karena sering kali gagal membayar iuran. Belum lagi, nilai akademiknya benar-benar anjlok. Paguyubanlah yang menyelamatkannya.

Oleh paguyuban, sekolah pun mengurungkan niat memecat Selamet. Pasalnya, sekolah tidak mengetahui secara utuh kehidupan ekonomi dan rumah tangga orangtua Selamet.

“Cucu saya hampir dipecat. Sekolah menyarankan agar dipindahkan. Saya mikir, kalau pindah duitnya dari mana? Saya ini sudah tua. Tetapi setelah saya jelaskan situasi kami, wali kelasnya, Bu Titin bilang, ‘Kalau nenek tak sanggup, biar saya yang sekolahkan Selamet ya.’ Saya terharu,” tangis Misna mengenang kejadian dua lalu.

Sejak kejadian itu, ditambah Misna yang rajin ikut paguyuban, Selamet semakin disayang guru-guru dan orangtua murid lainnya. Selamet anak baik. Ia tak pernah berkelakuan buruk, baik di sekolah maupun di rumah. Hanya saja, kemampuan akademiknya rendah sekali. Ia payah menangkap pelajaran. Kini guru-gurunya mulai rajin membantu Nek Misna.

“Kalau saya ke sekolah selalu diselipkan Bu Guru uang. Bahkan, Bu Gurunya ngasih tas dan buku untuk Selamet. Tapi saya terus jualan lontong. Saya ini bodoh, saya nggak ingin cucu saya bodoh seperti saya. Saya ingin cucu saya bisa mengecap pendidikan minimal sampai tamat SMA. Biar nanti dia bisa mewujudkan cita-citanya,” timpalnya.

Selain Selamet, Paguyuban juga telah menyelamatkan William Wijaya (13). Remaja berbadan gempal ini, ditinggal pergi ayahnya ketika ia masih di kandungan ibu. Bahkan hingga hari ini, William sama sekali tak pernah bertemu Ucok (38), ayahnya. “Ayahku cuma satu, ya ini,” ungkap William sambil memeluk Mislan (58), kakeknya saat ditemui di kediamannya di Gang Panah, Dusun Delima, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang, Sumut.

Sedangkan ibunya, Ekawati (31) merantau ke Jakarta setelah William berumur setahun. Di sana ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Sehingga William dibesarkan kakek-neneknya, Mislan (58) dan Saniem (52). Tak hanya menyekolahkan William, kakek-neneknya juga rajin betul ikut paguyuban. “Di paguyuban itulah kami belajar banyak hal tentang cara mendidik cucu kami,” ujar Saniem.

Mislan dan Saniem memiliki empat anak dan tiga cucu. Keluarga ini bukanlah orang berada. Meski bekerja serabutan, Mislan tak pernah surut semangatnya mendidik William. “Saya kan mikir. Cucu saya ini ditelantarkan ayahnya. Maka sayalah yang harus memperjuangkannya. Kalau bukan saya siapa lagi? Saya tahu saya tak punya harta, maka satu-satunya yang ingin saya wariskan kepada William adalah pendidikan yang bagus. Dengan memberinya pendidikan, saya percaya, suatu saat dia bakal mandiri,” timpal Mislan.

Baik Misna maupun Mislan, keduanya rajin ikut kegiatan paguyuban kelas. Dua orangtua lanjut usia ini rutin mendatangi sekolah. Mereka menemui wali kelas cucu mereka. Mereka terus menggali seputar perkembangan belajar cucu mereka. “Kalau untuk cucu, semua urusan sekolah atau paguyuban pasti saya utamakan. Saya rela ninggalkan kerjaan. Ini demi William. Nanti kalau dia sudah besar, pasti ingat siapa yang terus membelanya. Tentu dia pun akan melakukan hal serupa untuk cucu-cucunya kelak. Bagi saya ini penting untuk saya teladankan,” terang Mislan lagi.

Tak hanya ke wali kelas, kepada guru-guru di sekolah dan para tetangga rumah, Mislan selalu mencari tahu seperti apa karakter dan perilaku cucunya itu. “Anak-anak di kampung kami ini, semua saya tanyai bagaimana perilaku cucu saya. Supaya kami tahu dan bisa mendidiknya lebih baik,” kata Saniem.

Kehadiran paguyuban orangtua amat berarti bagi Mislan. Ia kaya wawasan tentang mendidik anak. Setelah banyak belajar dari paguyuban, ia pun makin rajin membawa William kemana-mana. Baik itu ke sawah, ke ladang, ke pengajian maupun ke tempat seni, sebagaimana di sekolahnya diajarkan, bahwa belajar juga bisa di luar kelas.

“Dari paguyuban kami pelajari, anak juga butuh main bola dan belajar kesenian, supaya tambah matang dia,” cetus Saniem.

Saling Tolong
Paguyuban kelas mendorong orangtua murid saling menolong. Para orangtua ini berkumpul sekali sebulan dalam program arisan paguyuban. Di arisan itulah mereka membahas banyak hal. Utamanya tentang bagaimana mendukung belajar anak-anak di rumah selaras dengan program sekolah.

Nursafika misalnya, teman sekelas William. Anak ini berasal dari keluarga berada. Sejak lahir, Nursafika jauh dari ayahnya. Ayahnya bermukim di Malaysia, bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan elektronik di Kuala Lumpur. Nursafika tinggal bersama ibu dan kakaknya di Kecamatan Beringin Deli Serdang.

Melalui obrolan di paguyuban, Susilawati (42) mendulang ilmu tentang pentingnya membatasi anak memakaian gawai. Jika selama ini, Nursafika bisa belasan kali videocall via skype dengan ayahnya, sekarang, oleh ibunya, dijatah maksimal 10 kali. Sebab, jika sedang videocall-an, Safika bisa berjam-jam mengobrol.

Belum lagi setelah itu, Nursafika mengakses internet dan bersosial media. “Dari payuguban saya banyak belajar,” kata Susilawati.

Susilawati salah satu orangtua yang gemar mengulurkan tangannya kepada keluarga lain yang membutuhkan. Keluarga ini meyakini, sebagian dari rezeki mereka adalah milik orang lain, sehingga harus dibagikan. Jika ayah Nursafika seorang kaya raya, kakeknya juga tak kalah banyak hartanya.

Atuknya Safika punya ladang luas, sawah dan peternakan bebek. Jadi, soal biaya hidup, kami tak ada masalah. Makanya, kalau sekolah butuh sesuatu, insyaallah, saya siap membantu. Kan ini demi kemajuan anak kita juga,” sahutnya.

Dulu Nursafika ranking 30-an di kelasnya. Sekarang ia peringkat 10. Wali kelasnya ramah dan rajin datang mengunjungi rumah Nursafika dan murid lainnya. Ibu Nursafika senang dengan kunjungan wali kelas ke rumahnya. Ia pun makin termotivasi membantu tumbuh kembang Nursafika.

Baik Nursafika maupun William ataupun Selamet, memang bukan juara di kelas. Tetapi, ranking ketiganya meningkat tajam sejak orangtua mereka getol ikut paguyuban. “Waktu di kelas satu, saya tidak ikut paguyuban. Setelah Safika naik ke kelas dua, baru saya bergabung,” imbuh Susilawati.

Pentingnya Paguyuban

Kepala SMP Negeri 1 Beringin Pitoyo mengatakan ia mendukung kehadiran paguyuban-paguyuban kelas. Bahkan sekolah menyediakan ruang khusus untuk paguyuban yang ditempatkan di salah satu sudut perpustakaan. Melalui paguyuban inilah, walikelas anak-anak bisa berkonsultasi dengan orangtua murid membahas perkembangan belajar anak di kelas.

Pitoyo menerangkan, sebelum ada paguyuban, banyak orangtua cenderung pasif terhadap perkembangan anaknya. Mereka menyerahkan tanggung jawab pengembangan potensi anaknya sepenuhnya kepada sekolah.

Beruntung, Pemerintahan Deli Serdang menggencarkan Gerakan Mesra Bertuah.
Gerakan Mesra Bertuah, akronim dari Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Orangtua, Masyarakat dan Sekolah. Gerakan ini dinilai sukses mengubah paradigma banyak orangtua. Orangtua yang dulunya pasif, sekarang terlibat aktif mendukung pendidikan anak-anaknya.

Melalui paguyuban, orangtua—dan juga masyarakat–bisa berkontribusi secara leluasa terhadap sekolah. Sebagai organisasi informal, paguyuban menjadi wadah bagi orangtua untuk berkumpul, berdiskusi, mencurahkan uneg-uneg tentang anak, berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat relasi. “Di sekolah kami ini, paguyuban lahir dari keinginan orangtua dalam satu kelompok kelas,” ungkap Pitoyo.

Pitoyo menerangkan, awalnya, sekolah menyosialisasikan program sekolah lalu menceritakan pentingnya keterlibatan orangtua. Namun, keterbatasan pengetahuan orangtua tentang paguyuban ditambah, minimnya referensi mereka tentang hal itu, sehingga mereka tak tahu mau berbuat apa dengan paguyuban itu.

“Di titik inilah sekolah bisa menjelaskan. Dari penjelasan itu, orangtua kemudian mengerti betapa paguyuban ini penting sekali. Sehingga ada sebuah ikatan, atau forum, atau perhimpunan orangtua yang lahir secara alamiah,” imbuh Pitoyo.

Kehadiran paguyuban orangtua penting untuk mewujudkan kepentingan terbaik anak. Sebab, sekolah dihadapkan dengan ratusan anak. Guru dihadapkan dengan puluhan anak. Sedangkan setiap anak membawa karakteristiknya masing-masing.

Lalu bagaimana orangtua bisa meyakinkan guru—terutama yang mendidik di jenjang sekolah dasar—bisa mengenali karakteristik muridnya, kekurangan dan kelebihan masing-masing anak, ketika tidak ada sumber-sumber informasi yang dapat memberikan dukungan kepada si guru? “Nah, ketika paguyuban terbentuk, banyak hal yang bisa mereka lakukan,” sahut Rita, seorang guru sekaligus wali kelas.

Rita menerangkan, di satu sisi paguyuban ini memfasilitasi pertemuan orangtua dengan wali kelas. Kumpul dan menceritakan karakter anak-anaknya. Paguyuban orangtua bisa leluasa berbicara dengan wali kelas. Hal ini akan memberikan dampak luar biasa.

“Itu dari sisi kepentingan anak secara psikologis. Agar anak-anak bisa terlayani dengan baik. Dengan sumber yang kaya dari orangtua, wali kelas akan lebih mudah mengenali dan membangun karakter murid-muridnya,” terang Junaidi Malik dari Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) Deli Serdang.

Secara lebih luas, kata Sandi Simamora (36), orangtua siswa, ketika anggaran dana BOS terbatas, paguyuban orangtua bisa berinisiatif membantu menciptakan suasana ruang kelas yang lebih nyaman bagi anak-anak untuk belajar. Orangtua murid bisa menyumbang gordyn, taplak meja, galon minum, cangkir, papan tulis putih, spidol dan kipas angin atau tong sampah.

“Hal-hal itu yang kami lakukan di sekolah anak saya. Termasuk mengecat dinding kelas dengan warna yang lebih jreng. Bahkan kami ikut menjadi lanitia untuk berbagai even di sekolah,” urai Sandi yang juga salah satu pengurus paguyuban orangtua.

Halimah (47), orangtua lainnya, menambahkan, ia mendukung program-program di sekolah anaknya. Ia percaya, semua program sekolah didesain untuk kebaikan anak. Karena itu, ia rela hati terjun sebagai pelatih tari dan fesyen untuk kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

“Saya mendorong anak-anak di sekolah untuk rajin ikut kompetisi tari dan fesyen show. Saya pastikan diri saya selalu ikut mendampingi anak-anak ikut kompetisi,” katanya menggaransi.

Tak sampai di situ, paguyuban yang intens berkumpul berdiskusi adalah ujung tombak pencerdasan masyarakat. Mereka tak lagi hanya berkontribusi untuk sekolah. Tetapi mereka mulai saling mengisi, melalui aneka kegiatan dan parenting forum. Berbagi informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan. Sehingga ketika ada pendisiplinan-pendisiplinan di sekolah, orangtua lebih mudah menerima dan menerapkannya di rumah.

Bahkan, “Paguyuban sukses mengurangi diskomunikasi antara sekolah dengan orangtua,” kata Armanto, Kepala SMP Negeri 2 Sunggal, Deli Serdang.

Lebih jauh Armanto menerangkan, secara psikologis, orangtua leluasa menyamankan anaknya dengan memberikan penguatan-penguatan yang tidak bisa diberikan sekolah. Di saat bersamaan, bagi orangtua itu sendiri, paguyuban ini menjadi cara mujarab untuk mengedukasi diri, saling berbagi, karena mereka sering bertemu bersama, mungkin bisa saling curhat tentang perkembangan anaknya masing-masing.

Apa Yang Dilakukan Paguyuban?

Kehadiran paguyuban kelas terbukti memberikan dampak luar biasa. Karena itu, praktik baik di satu paguyuban perlu sekali ‘dikloning’ atau diadopsi paguyuban lain, supaya makin banyak jumlah anak yang menerima manfaat darinya.

Untuk tingkat SMP saja misalnya, terdapat 294 unit satuan pendidikan yang tersebar di 22 Kecamatan di Deli Serdang, dengan total 76.014 siswa dan 5.151 guru. Jika satu guru mewakili satu wali kelas, dimungkinkan berdiri 5000-an paguyuban kelas.

Dari sini kita bisa lihat, kehadiran paguyuban potensial untuk mendukung pelibatan orangtua dan masyarakat dalam pendidikan anak-anak di daerah yang dipimpin Bupati Ashari Tambunan ini.

Kehadiran paguyuban orangtua terbukti telah membawa dampak positif bagi anak, guru, sekolah dan masyarakat. Di SMP Negeri 1 Beringin misalnya, ada 22 kelas dan tiap kelas punya paguyuban orangtua. Seluruh paguyuban itu aktif, sehingga banyak program sekolah yang terlaksana dengan baik dan mendapat dukungan penuh dari orangtua murid dan masyarakat.

Sekolah memberikan kebebasan bagi orangtua siswa untuk merencanakan program paguyuban. “Berapa jam-lah anak di sekolah? Paling delapan jam. Selebihnya kan sama orangtuanya. Jadi kalau tidak ada kerjasama antara orangtua dengan sekolah, wah ribet sekali kita untuk mengantarkan anak bangsa ini,” kata Pitoyo.

Dengan pemikiran itulah, Pitoyo memerintahkan seluruh wali kelas agar proaktif membangun komunikasi dengan orangtua siswa melalui paguyuban. Setiap orangtua siswa dikumpulkan nomor telepon (dan WhatsApp) mereka yang aktif sehingga wali kelas bisa sewaktu-waktu menghubungi dan membicarakan hal-hal seputar perkembangan anak didik.

“Dengan adanya paguyuban ini, kami lebih mudah berkomunikasi dengan orangtua murid, membicarakan program sekolah, perkembangan siswa kami serta mendiskusikan apa yang bisa kami kerjakan bersama-sama,” tambah Pitoyo.

Ketua Paguyuban orangtua untuk SD Zufriadi, mengatakan, yang paling penting dari paguyuban adalah kesediaan orangtua mau membagi waktunya mendampingi anak, baik di sekolah, di rumah maupun di tempat bermain. Selama ini, kebanyakan orangtua lebih mementingkan urusan pribadinya ketimbang urusan belajar anak.

“Orangtua suka berpikir, ‘Ah, saya banyak kerjaan. Anak saya lagi di sekolah kok.’ Padahal yang dibutuhkan itu ada rasa kemauan meluangkan waktu untuk anak,” anjur Zufriadi.

Lelaki yang gemar jualan jamu sambil membawa gerobak buku ini mengakui, tantangan paguyuban adalah orangtua yang sibuk bekerja menafkahi keluarga dan merasa paguyuban tidak penting.

Menurutnya, perlu ada sebuah usaha lebih keras sedikit lagi dari orangtua untuk bisa meluangkan waktu bagi anak-anak mereka. “Saya juga tidak berharap, para orangtua ini selalu hadir setiap pertemuan paguyuban. Jangan karena pertemuan nanti terganggu pekerjaannya, sehingga terganggu pula mereka menafkahi keluarganya. Yang saya harapkan sederhana, tolonglah bagi waktu kita pada anak-anak. Itu saja,” pinta Zufriadi.

Sejauh ini, Paguyuban kelas yang dipimpin Zufriadi telah banyak menggelar kegiatan kerja sama dengan sekolah. Di antaranya, kegiatan rutin sarapan pagi orangtua bersama murid dan guru di sekolah, pentas seni, pameran fesyen, lomba menyanyi, lomba melukis, kontes joget balon, joget jeruk dan berbagai permainan lainnya.

“Kami mengupayakan melalui berbagai kegiatan ini, agar orangtua dan guru semakin dekat secara emosional. Sehingga dengan kedekatan ini, orangtua kompak dengan guru. Itu berguna agar mereka sama-sama membimbing anak-anak dan sekalian orangtua ikut belajar lebih mengenal anaknya,” beber ayah dua anak ini.

Selain pertemuan di sekolah, paguyuban juga mengadakan pertemuan sekali sebulan dalam program arisan keluarga paguyuban. Pertemuan dilakukan di rumah anggota secara bergiliran. “Di arisan ini, kami merembukkan perkembangan anak-anak dan mendukung kegiatan sekolah. Kami bersepakat untuk terus memotivasi anak-anak kami supaya berkembang. Dengan dukungan orangtua dan sekolah, insyaallah, anak-anak kami tumbuh lebih baik psikologis dan karakternya,” pungkas Zufriadi.

Kegiatan lain yang dilakukan orangtua melalui paguyuban adalah membuka kelas inspirasi atau menjadi narasumber, sepasti dikerjakan SMP Negeri 2 Sunggal, SMP Negeri 3 Sunggal dan SMP Negeri 4 Sunggal.

Ketiga sekolah ini telah melibatkan orangtua dan masyarakat–polisi (babinkamtibmas), tentara (dari Kodim), tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan Camat–dalam program kelas inspirasi, kebersihan lingkungan, simulasi siaga aman bencana, permainan tradisional dan dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta penentuan program-program sekolah.

“Manfaatnya, program-program sekolah semakin mudah dikerjakan karena mendapat dukungan penuh dari orangtua. Keterlibatan orangtua semakin menambah semangat belajar anak, semakin terjalin kekompakan dan ikatan emosional antara orangtua dengan sekolah, semakin tumbuh rasa memiliki orangtua terhadap sekolah, serta komunikasi guru dengan orangtua tentang pengembangan potensi dan perilaku anak kian intens, karena sekolah membuka diri,” pungkas Sech Muli Pinem, Kepsek SMP Negeri 4 Sunggal.

Begitu juga dengan SMP Negeri 3 Sunggal, Kepala Sekolah Budi Pariono menyebut dukungan orangtua terhadap sekolahnya begitu besar. Apalagi sebagai sekolah adiwiyata, prioritas sekolah ini adalah menjaga agar peran serta orangtua terus meningkat. Sekolah sudah menerapkan Sekolah Ramah Anak dan program pendidikan keluarga.

Melalui paguyuban orangtua, praktik baik kelas inspirasi berjalan rutin. Orangtua terus menginisiasi dengan mengundang alumni dari sekolah tersebut yang sukses dalam karir untuk berbagi pengalaman kepada adik-adik kelasnya.

Orangtua juga turut menyumbang materi untuk pengembangan sekolah berbasis lingkungan, program Oppung Sari (operasi pungut sampah) menjadi tradisi bagus yang terus dilestarikan.

“Operasi ini sudah sampai tahap menciptakan kompos dari sampah dan pemanfaatnya bagi kelestarian bunga-bunga di sekolah,” jelas Pariono.

Tak mau kalah, SMP Negeri 2 Sunggal juga sudah menerapkan program pendidikan keluarga. Melalui paguyuban kelas, orangtua dilibatkan dalam berbagai program sekolah. Orangtua terlibat dalam penyelenggaraan berbagai even yang bisa menambah keaktivan sekaligus rasa percaya diri anak-anak.

Beberapa praktik baiknya, seperti menyelenggarakan pentas akhir tahun, outbond bersama orangtua, guru dan anak, dan kerjasama ortu dengan wali kelas dalam membicarakan perkembangan anak, simulasi tanggap bencana dan melestarikan permainan tradisional.

“Komunikasi efektif kami terapkan dengan orangtua. Kami ingatkan orangtua untuk menerapkan didikan yang kami disiplinkan di sekolah agar dilakukan juga di rumah, supaya terbangun keselarasan program,” pungkas Kepala SMP Negeri 2 Sunggal, Armanto.

Parenting Forum

Melalui paguyuban pula, orangtua juga bisa memfasilitasi terlaksananya parenting forum bersama sekolah. Psikolog, analis bakat dan perilaku, ahli gizi, guru, pakar kesehatan, dan orangtua bisa leluasa berbagi ilmu dan pengalaman di situ. Orangtua tentu punya pengalaman unik mendidik anak.

Pengalaman itu bisa dibagikan di forum itu. Sehingga kemudian orangtua bertambah wawasannya dalam mendidik anak.
“Jadi, kalau kita mau berhasil sebagai orangtua hari ini, pertama kita harus tahu bakat anak kita. Kedua, kita harus tau cara bagaimana mengembangkan bakat anak kita. Bagaimana kita membesarkan anak, itu bisa kita dapat dalam forum-forum parenting, dimana ahli dihadirkan untuk berbicara, dimana guru dan juga orangtua-orangtua hebat ikut berbagi pengalaman-pengalaman (best practices) mereka mendidik anak,” kata Analis Potensi dan Perilaku Anak, Taslim Moeis.

Dengan kehadiran paguyuban orangtua, sekolah semakin terberkati. Orangtua yang proaktif di sekolah dan di rumah kentara memotivasi anak-anaknya, di saat bersamaan orangtua juga terberkati karena punya akses lebih leluasa terhadap program sekolah dan kebijakan wali kelas untuk kemajuan anak mereka. Melalui sikap keterbukaan dan kerelaan sekolah menerima usulan-usulan orangtua, pendidikan akan terasa lebih baik.

“Meski kenyataannya, masih banyak orangtua yang pasif dan melepaskan tanggung jawab pendidikan anaknya,” kata Sandi Simamora, salah satu ketua paguyuban orangtua.

Dampak Mesra Bertuah

Sekretaris Dinas Pendidikan Deli Serdang Miska Gewasari mengatakan, sejak diterapkan gerakan Mesra Bertuah di Deli Serdang mulai 2015 sampai hari ini, dampaknya, angka kekerasan pada anak menurun, paradigma guru soal ramah anak juga berubah. Guru kini sudah memahami Undang-undang Perlindungan Anak.

Selain itu telah terbentuk ribuan paguyuban orangtua, dan keterlibatan mereka dalam program sekolah begitu besar, diantaranya terlibat aktif dalam rapat-rapat paguyuban, turut menyumbang gagasan, materi dan daya, menjadi panitia berbagai even dan mampu berkolaborasi menciptakan usaha produksi guna membantu sekolah.

Di sisi lain, sambung Gewasari, anak kini menjadi pelopor dan pelapor tindakan kekerasan, anak menjadi agen kampanye anti kekerasan, intoleransi dan narkoba, angka perundungan pada siswa menurun, siswa semakin berprestasi dalam pembelajaran maupun secara non akademik, seperti menjuarai kontes nyanyi, lomba mendongeng, lomba cipta puisi, lomba menari, renang, catur, dll.

“Kemudian anak semakin berkarakter baik, seperti punya hasrat berprestasi, memiliki daya juang, ramah, mulai menonjolkan budaya lokal dalam menyambut tamu-tamu, terlatih mensyukuri berkat bisa sekolah dan mulai belajar jujur atas perasaannya dalam pembelajaran: gembira atau jenuh,” urainya.

Wujud Tri Sentra Pendidikan

SEJAK gerakan Mesra Bertuah diluncurkan di Deli Serdang, Sumut, gaungnya luar biasa. Sedikitnya 500 sekolah telah mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak. Paradigma masyarakat terhadap pendidikan juga berubah secara signifikan. Mereka tak lagi menyerahkan tugas pengembangan potensi anak sepenuhnya kepada sekolah. Orangtua, masyarakat berkontribusi besar dalam gerakan perubahan itu.

Gerakan ini menjadi “suplemen” bagi kesehatan ekosistem pendidikan. Tidak hanya dalam menunjang proses pembelajaran di kelas, tetapi mulai ada tradisi baru, yakni penyelarasan disiplin di sekolah dengan pendidikan di rumah dan pendidikan non formal di masyarakat.

Gerakan ini wujud nyata konsep “Tri Sentra Pendidikan”, yang dicetus Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara. Ada kerjasama sekolah dengan orangtua dan dukungan nyata dari masyarakat.

Atas gagasan itulah, Dinas Pendidikan Deli Serdang mendorong semua pihak ikut terlibat dalam mengoptimalkan gerakan Mesra bertuah di seluruh satuan pendidikan, baik formal, informal maupun nonformal. “Setidaknya gerakan ini ada tiga gendangnya. Pertama, sekolah menjamin perlindungan terhadap anak. Kedua, partisipasi orangtua meningkat. Ketiga, ada penyelarasan pendidikan di sekolah dengan di rumah,” beber Miska Gewasari.

Historis

Miska menegaskan, Gerakan Mesra Bertuah adalah jawaban atas tuntutan masyarakat yang menginginkan sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Sebagai tempat pembentukan karakter anak, sekolah ibarat wadah tanam bibit untuk menciptakan pohon yang bagus, tentu media tanamnya harus berkualitas.

“Sementara kita melihat fakta di lapangan, kadang-kadang sekolah masih menjalankan pelayanan pendidikan yang konvensional, belajar harus selalu di dalam kelas, lalu komunikasi antara siswa dengan guru seperti atasan dengan bawahan, secara emosional tidak terbangun hubungan psikologis yang baik,” kata Gewasari.

Sementara itu, sambungnya, komunikasi antara orangtua dengan sekolah juga selama ini tidak cukup baik. Sekolah kadang-kadang punya kebijakan yang tidak boleh diakses oleh orangtua secara transparan.

Sebaliknya, orangtua memberi harapan terlalu besar kepada sekolah yang kadang-kadang melampaui batas yang sebenarnya, di luar daripada yang harusnya dilakukan sekolah. Misalnya, tuntutan menjadikan anaknya hebat. Tetapi orangtuanya juga tidak mendukung pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan di sekolah.

Menurut Gewasari, jika kita sepakat sekolah sebagai media tanam karakter yang baik, mustinya ada pola asuh yang sama, pola didik yang sama, serta kesamaan pandang bagaimana proses yang dilakukan orangtua di rumah dengan di sekolah. Kalau desainnya sudah berbeda, hasilnya merugikan anak.

“Itulah yang akan menimbulkan situasi yang tidak menyenangkan bagi anak. Di sekolah dia mendapatkan pembelajaran seperti ini, lalu di rumah dia tidak mendapatkan itu. Atau sebaliknya,” terangnya.

Menurut Gewasari, Tri Sentra Pendidikan itu harus berjalan bersamaan untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai outputnya pendidikan itu sendiri. Mengapa selama ini pendidikan kita kurangberdaya gugah, menurut Gewasari, karena semua pihak berjalan sendiri-sendiri. Sehingga efektivitas program tidak terlihat. “Harusnya kompak, bersinergi dan berkolaborasi,” pungkasnya.

Menjadikan sekolah sebagai tempat pembentukan karakter anak, maka Gerakan Mesra Bertuah harus dikerjakan secara bersama-sama. Sekolah, orangtua, masyarakat dan sektor publik. Semua dikompilasi menjadi satu kesatuan, dikerjakan secara terpadu, barulah hasilnya luar biasa.

“Tentu saja amat penting menguatkan kemampuan guru-guru dan kepala sekolah untuk melakukan perubahan paradigma,” pungkas Miska Gewasari yang juga anggota Dewan Pendidikan Deli Serdang itu.(*)

You may also like
Kesal Ditanyai Soal Cincin, Pelajar Tikam Rekannya Di Bagian Payudara, Nyaris Tewas
Tiga Pengisap Sabu Ditangkap
Curi Sepeda Motor, Warga Deli Serdang Tewas Dimassa di Langkat
Wakil Sekretaris PPM Deli Serdang Dukung Perppu Pembubaran Ormas
Anak Balita Hanyut di Sungai Klambir Deli Serdang
Persoalan Mutasi Jabatan, Tercium Aroma Kolusi

Leave a Reply