Home > Opini > Pendidikan Vokasi Berbasis Potensi SDA

Pendidikan Vokasi Berbasis Potensi SDA

Oleh Firman Situmeang

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat melimpah. Semua kekayaan alam yang begitu didambakan banyak negara di dunia ada di Indonesia. Indonesia punya potensi perairan yang sangat luas, hasil hutan yang melimpah, pertambangan yang besar, pertanian dan perkebunan yang mumpuni, hingga potensi pariwisata yang memesona.

Namun di balik kekayaan alam yang begitu berlimpah tersebut, nyatanya terpampang sebuah realitas yang sangat bertolak belakang dengan modal alam yang dimiliki Indonesia. Dibalik negara yang kaya ini, kemiskinan masih menjadi sebuah realitas yang tidak terelakkan. Belum lagi pengangguran yang kian hari kian berlimpah.

Untuk memaksimalkan SDA yang melimpah ini seyogyanya harus disertai dengan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengelola SDA yang ada secara baik. Namun yang terjadi masih jauh panggang dari api. Akibat keterampilan yang rendah banyak potensi SDA Indonesia yang terbuang sia-sia dan tidak terurus secara baik.

Misalnya saja potensi pariwisata Sumatera Utara (Sumut) hingga hari ini belum berkembang secara baik. Jangankan mengembangkan yang baru, mengelola pariwisata yang adapun masyarakat dan pemerintah daerah tidak mampu. Salah satu korban dari ketidakmampuan tersebut adalah rusaknya keindahan Danau Toba yang diikuti dengan berkurangnya wisatawan.

Sadar akan kondisi ini maka pada akhirnya pemerintah mengundang investor asing untuk masuk ke Indonesia guna mengelola SDA yang ada dan kini SDA yang terkandung di bumi pertiwi mulai dikuasai dan dikelola oleh pihak asing. Mulai daratan hingga lautan, kini dominasi asing sulit dihentikan. Masyarakat lokal yang harusnya menjadi tuan di rumahnya sendiri, pada hari ini cuma bisa jadi penonton saja.

Berpijak pada realitas di atas maka pendidikan vokasi seyogyanya menjadi solusi yang cukup dibutuhkan. Namun sayangnya meskipun pendidikan vokasi sudah mulai digalakkan dan dijadikan program prioritas Kemendikbud, output dari pendidikan vokasi masih belum terasa hingga ke denyut nadi ekonomi berbasis pedesaan yang digagas Presiden Jokowi. Dalam perkembangannya, pendidikan vokasi yang dilaksanakan di Indonesia masih tidak sejalan dengan kekayaan SDA yang dimiliki negara kita. Hal ini terlihat pada jurusan dan kurikulumnya yang begitu seragam dan tak jarang tidak sesuai dengan ciri khas dari daerah dimana sekolah tersebut berdiri.

Contohnya saja kebanyakan sekolah kejuruan di Indonesia, memiliki fokus menghasilkan tenaga kerja untuk sektor perkantoran semisal jurusan manajemen, komputer, ataupun akuntansi. Sementara sekolah kejuruan seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata sangat minim ditemukan. Kalau pun ada itu lokasinya ada di perkotaan. Inilah dilema pendidikan vokasi yang hari ini berlangsung di tanah air. Pendidikan vokasi masih belum tepat sasaran dan butuh revitalisasi sesegera mungkin. Untuk mengatasi hal itu maka dibutuhkan sebuah terobosan dan konsep baru guna memperbaiki kinerja pendidikan vokasi di tanah air.

Salah satu solusi yang saya tawarkan adalah membangun pendidikan vokasi berbasis potensi SDA daerah. Artinya jurusan dan kurikulum yang dimiliki pendidikan vokasi harus disesuaikan dengan potensi daerah yang ada. Karena tak bisa dipungkiri bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki SDA yang berbeda dan beragam, yang artinya sekolah/pendidikan vokasi yang dibangun juga mestinya disesuaikan dengan SDA yang beragam tersebut.

Misalnya Kabupaten Samosir memiliki potensi SDA yang melimpah selain pertanian, Samosir juga dianugerahi dengan potensi pariwisata yang memesona. Untuk memaksimalkan potensi ini maka pemerintah diharapkan membangun sekolah kejuruan/pendidikan vokasi yang kurikulum dan jurusannya difokuskan pada pertanian dan pariwisata, misalnya dengan mendirikan SMK Pertanian dan Pariwisata di wilayah tersebut. Dengan demikian maka SDA yang terkandung di Samosir dapat dimaksimalkan dengan baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal yang sama juga mesti dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia semisal Papua dengan potensi besarnya akan pertambangannya, atau Jawa dengan pertaniannya.

Membangun Dari Desa

Pendidikan vokasi berbasis potensi SDA daerah yang saya tawarkan diatas tentunya sangat mungkin dilaksanakan jika kita melihat program kerja pemerintah pusat hari ini. Seperti yang kita ketahui, sejak terpilih sebagai Presiden RI, Jokowi memiliki indikasi kuat untuk membangun perekonomian Indonesia dari desa. Hal ini terejewantahkan dalam program Dana Desa yang diinisiasi pemerintah hingga hari ini. Program membangun dari desa ala Jokowi dan pendidikan vokasi berbasis SDA menjadi kombinasi program yang sangat progresif guna memajukan perekomian bangsa.

Selama ini banyak penduduk pedesaan yang memilih hijrah ke ibukota provinsi atau ibukota negara karena merasa perekonomian di desa tidak bisa menghidupi mereka. Alhasil migrasi dashyat yang melanda perkotaan membuat jumlah pengangguran dan kemiskinan perkotaan meningkat. Berpijak pada hal itu maka revitalisasi pendidikan vokasi menjadi sangat dibutuhkan. Lewat pendidikan vokasi berbasis SDA, masyarakat diharapkan kembali tertarik untuk mengelola potensi alam yang ada di daerahnya. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut maka Kemendikbud dan pihak terkait harus membangun sekolah kejuruan (vokasi) minimal 1 (satu) sekolah per 1 (satu) kabupaten.

Dengan skil dan SDA yang mumpuni serta ditopang dengan Dana Desa yang besar maka masyarakat dengan sendirinya akan mampu menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan bagi dirinya sendiri. Misalnya dengan skillnya dalam pengelolaan pariwisata, maka para jebolan pendidikan vokasi diharapkan dapat menjadi inisiator dalam pembangunan pariwisata berbasis rakyat. Contoh lainnya dengan modal yang cukup maka mereka bisa mengembangkan sektor pertanian yang awalnya konvensional menjadi modern, guna meningkatkan produksi dan daya saing mereka di kancah pertanian nasional bahkan dunia.

Bisa kita bayangkan bila setiap kabupaten di Indonesia mampu mengelola dan mensejahterahkan diri dengan potensi SDA-nya masing-masing. Maka ketahanan nasional akan bisa dicapai. Ketahanan nasional yang baik pada akhirnya akan diikuti dengan meningkatnya daya saing bangsa di dunia internasional. Di samping itu dengan pondasi ekonomi yang merata dari desa ke kota maka dampak dari gejolak ekonomi global bisa diminimalisir. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi USU Stambuk 2013 dan Pegiat Literasi di Toba Writers Forum (TWF).

You may also like
Ephorus HKBP Kunjungi Pulau Enggano: Perekonomian, Jalan Dan Pendidikan Masih Minim
Tingkatkan Nasionalisme, Plaza Medan Fair Gelar Acara Anak-anak Pancasila
SMP HKBP Sidorame Raih Kostum Terbaik dalam Lomba Tari Pendidikan di Unimed
Perbaiki Mutu Pendidikan, 12 Rektor LPTK PTN Bertemu di Medan
Cabuli Sembilan Muridnya, Guru Honor Di Humbahas Ditetapkan Tersangka
Bila Pendidikan Sudah Merata

Leave a Reply