Home > Features > Seni Menanggapi Komentar Di Medsos

Seni Menanggapi Komentar Di Medsos

MEMBACA komentar di salah satu grup terkait berita berjudul “Stress Berat Berkepanjangan Ahok Gantung Diri,” admin terkekeh-kekeh. Ada yang nyinyir, ada yang nyindir, ada yang mencaci dan ada yang berusaha membela.

Nampak sekali, netizen terpolarisasi (terbelah). Keterbelahan ini meneruskan produk pilpres 2014 yang melahirkan tiga kubu: pro Jokowi, pro Prabkwo dan netral. Pilpres 2014 terbelah oleh isu etnis, agama dan kelompok.

Keterbelahan ini makin kentara saat pilgub DKI 2017 lalu. Netizen terhisap kedalam tiga pusaran arus: pro anis, pro ahok dan netral.

Kelompok masyarakat yang terpecah ini kemudian masing-masing mencari sekutu. Memperkuat barisan dan saling mencari kelemahan lawannya. Mereka mengira, sosok yang mereka idolakan laksana dewa. Tak ada celah, tak ada noda serta tak boleh dikritik.

Yang paling aneh, kelompok-kelompok warganet ini terpelihara dengan baik lantaran tingkat literasi (sebagian dari) mereka masih rendah. Apalagi terkait literasi media (kemampuan mengelola informasi dari media, memilahnya, mensintesanya dan menciptakan ide baru).

Riset tempo hari menunjukkan Indonesia terpayah berliterasi. Dari 61 negara, kita rangking 60 di dunia. Payah betul. Nah masyarakat yang tidak literate inilah yang kemudian meramaikan media sosial, yang seenak udelnya menjejali kolom komentar medsos dengan ujung jarinya yang nirnalar.

Bayangkan, betapa gobloknya seseorang jika: dia berani berkomentar tanpa terlebih dahulu membuka link berita. Orang-orang begini manusia fanatik terhadap sesuatu. Padahal mereka sendiri tidak mengenal sosok yang dipujanya.

Mereka berkomentar menghujat orang, tanpa mempertimbangkan dampak dari komentarnya. Mereka tidak mengetahui persis duduk perkara, tapi tampil lebih vokal berkomentar.

Dengan situasi ini, kita perlu bijak. Jika menghadapi komentar di medsos admin menganjurkan tiga jurus pamungkas.

Pertama, tanggapi secara positif. Apapun komentar orang, selalu balas dengan ucapan terima kasih. Banyak orang tidak menyadari kekuatan kata “Terima Kasih ya”. Sebuah ucapan sederhana, namun mampu membesarkan hati sekaligus cambuk paling menyakitkan. Bermedsos, kata ajaib ini harus selalu kita pakai.

Contohnya, “Terima kasih Mas, sudah berkomentar. Kami sadari betul, Mas, mbak, bung, bang, om, tante sudah meluangkan waktu untuk menulis dan membalas komentar ini.” Begitu. Jangan pernah sekalipun menghakimi orang lain. Karena siapa kita sehingga berhak menghakimi orang lain?

Kedua, jika hati kita panas atau emosi, sebaiknya matikan ponsel Anda. Tutup medsos cepat-cepat. Atau jauhi medsos. Pergilah ke tempat dimana Anda terhibur dan bisa mengalihkan pikiran. Jangan pernah membalas komentar orang saat hati dan pikiran Anda tidak jernih. Itu bisa menjadi ‘jebakan batmen’ yang menjerumuskanmu ke penjara. Ingat, jarimu harimaumu.

Dan jangan pernah lupa, sebaiknya hindari berdebat di medsos. Bagaimanapun, tak ada gunanya meladeni orang adu mulut di medsos. Sebab, bisa saja yang berkomentar itu bukan manusia melainkan akun palsu, mesin, buzzer atau manusia bebal.

Terakhir, tugas kita sedang berat-beratnya. Yakni mencerdaskan publik barisan yang belum memiliki kecakapan literasi. Karena itu, mari tunjukkan sikap rendah hati lewat telunjuk jari.

Salam literasi dari admin.

You may also like
4-5 Agustus Digelar Festival Seni Siantarman
Puluhan Komunitas Bergandengan Tangan Gelar Siantarman Arts Festival
RKI Gelar Festival Seni Budaya Di Tao Silalahi
Fanatisme Buta VS Fanatisme Melek
Ritual Topeng Dalam Seni Pertunjukan

Leave a Reply