Home > Pendidikan > Seperti Apa Etika Menyiarkan Foto dan Video Sadis?

Seperti Apa Etika Menyiarkan Foto dan Video Sadis?

Medan, Sorotdaerah.com- BEBERAPA menit pascaledakan bom di daerah Kampung Melayu, Jakarta Utara, foto-foto sadis para korban tersebar cepat dan luas sekejap di media jejaring sosial.

Tak tanggung-tanggung, foto potongan tangan, kepala, ceceran darah dan jasad yang remuk dibagikan secepat jentikan jari di layar ponsel. Penyebaran foto-foto itu, tak pelak mengundang kesan sadis, ngeri dan rasa muak dari sebagian netizen.

Banyak perdebatan seputar etika penyebar-luasan foto-foto korban (baik korban kriminal, kasus pengeboman, maupun korban bencana). Lantas seperti apakah etika menyiarkan foto-foto (dan video) sadis sebuah peristiwa?

Mari kita bahas secara etika. Bagi publik tentu berbeda aturan yang mengikatnya dengan jurnalis. Kalau jurnalis jelas terikat dan wajib tunduk pada UU Pers dan Kode Etik Jurnalis (KEJ). Etikanya, pers dilarang  menyajikan berira atau informasi (teks, foto dan video) sadis.

Kendati demikian, sebagai sesama insan, publik perlu menghargai sesamanya. Sebaiknya, kita tidak membangun kesan mengerikan terhadap psikologis orang lain lewat postingan atau kiriman-kiriman kita di media sosial.

Memang, awalnya ada niat baik agar orang lain mendapatkan informasi cepat. Akan tetapi penyiaran informasi (teks, foto dan video), sebaiknya lebih mengutamakan KEPATUTAN dan KETEPATAN, Bukan KECEPATAN.

Dengan memahami nilai kepatutan dan ketepatan sebuah informasi, kita akan selalu mengecek ulang informasi dan menimbang-nimbangnya sebelum menyebarluaskannya atau tidak.

Kita akui, teknologi canggih mengubah pola dan mekanisme penyebarluasan informasi. Alat produksi informasi juga tidak lagi dimonopoli jurnalis atau pers. Sehingga siapa saja, bisa memproduksi informasi. Ini seperti pedang bermata dua: baik dan buruk.

Kalau publik mampu mengelola informasi dengan baik, tentu mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, jika tidak terampil mengelolanya, berpotensi mendatangkan mudarat.

Kalau pers, jelas sudah terikat pada aturan. Mereka tidak boleh menyebarluaskan informasi secara membabi buta tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Pers tidak boleh lalai dalam menimbang kepatutan dan ketepatan sebuah informasi, karena jika informasi sudah disajikan ke sidang publik, otomatis memberi dampak.

Di tengah kemajuan zaman kini yang ditunjang kecanggihan teknologi, peran pemerintah diperlukan untuk mengatur pola penyebaran informasi sadis. Ke depan, perlu dirancang aturan baku yang mengatur publik dalam penyiaran informasi sadis.

Tak ketinggalan pers, harus selalu yang terdepan sebagai pandu penyebarluasan informasi yang selalu mengindahkan kepatutan dan ketepatan.

Nah, kaum cerdik cendekia, termasuk mahasiswa diharapkan peka dengan hal ini. Kaum cerdik cendekia perlu bergerilya mengampanyekan gerakan anti informasi sadis. Informasi sadis perlu ditepis, dijauhkan bahkan ditentang. Sama geregetnya ketika kita menolak informasi hoax.

Di level paling akar, gerakan edukasi harus terus berjalan. Program melek literasi baik di kelompok-kelompok kecil masyarakat, keluarga maupun sekolah tetap dikerjakan. Kita perlu bergerilya agar bisa membalikkan keadaan dari data kejut UNESCO yang menyebut, Indonesia rangking 60 dari 61 negara debgan tingkat literasi terburuk.

Tanpa bergerilya membudayakan gerakan melek literasi, kita akan selalu ketinggalan zaman. Kemampuan berliterasi yang baik menjaga kita untuk cerdas mengelola informasi, memanfaatkannya dan menciptakan gagasan-gagasan hebat yang bisa mengguncang dunia. Kemampuan literasi menjauhkan kita dari kebiasaan buruk meneror orang lain dengan informasi sadis. Saatnya berhenti menjejali ruang publik dan media sosial dengan informasi sadis. (Redaksi)

You may also like
Dinas Perpustakaan Pemprovsu Dukung Gerakan Literasi
Diskusi Literasi, TWF Berkunjung Ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut
Tulisan Features Para Jurnalis Dipuji Juri
Literasi Harus Diintegrasikan Dalam Pembelajaran
Hasban Ritonga Luncurkan Pustaka & Ngaji Kampung 9
Jurnalis Bahas Optimalisasi Dana Pajak Rokok

Leave a Reply