Home > Sajak > Debat Dalam Diri, Puisi Happy Haloho

Debat Dalam Diri, Puisi Happy Haloho

AYAH BUNDA

Duhai Ayah/bunda lentera hati

Kukenanglah ini selalu di kala rindu kian jumawa

Menuntunku pada ingatan-ingatan kita

Saat angin segala musim menebar aroma

betapa nikmat ikan asin bergelut terasi di dapur kita.

Duhai ayah/bunda pelipur lara

Kukenanglah ingatan itu selalu kala duka pun menganga

Mengajakku berkelana pada gelak tawa kita

Saat romansa di rumah kita bercerita

dalam seteguk kopi tanpa gula.

Duhai ayah/bunda pandu mata

Kukenanglah sejuk rumah kita kala sesak penuh di dada

mengulang sketsa rupa-rupa rumah kita

Saat gelak tawa pecah membahana

Betapa lucu saat kami belajar tulis baca.

Duhai ayah/bunda tumpuan jiwa

Kukenanglah hangat rumah kita kala kecewa pun menimpa

memutar kembali lembut ingatan masa

saat bercucur air mata kita

melarut dalam doa kasih mesra.

 

Debat dalam diri

Tiada yang lebih lelah dari pada menunggu kepastian

Pun tiada yang lebih parah daripada pengabaian

Tapi katamu pasti itu kemungkinan yang diyakinkan

Lalu kemungkinan apakah yang harus diabaikan?

Bukankah ada banyak liyan dalam diri?

Yang menuntut dan susah diajak kompromi

Pilihan-pilihan yang selalu mewujud dalam dua sisi

Di manakah aku harus berdiri?

Ada kalanya hitam atau putih tampak abu-abu

Pikiran tenggelam dalam perdebatan untung rugi

Sementara hikmat menegur lembut dalam kalbu

Nafsupun berteriak keras meminta dituruti

Ah bahagianya orang yang berhikmat

Orang-orang yang beroleh kepandaian

Yang berlelah dengan semua pikiran

Sebelum putusan-putusan dipilih dan ditentukan.

You may also like
Puisi Untuk Negeriku Dikumandangkan Di Lapangan Ahmad Yani
[Puisi] Aku Takut (Negeri)
[Puisi] Bisa Kubayangkan
[Sajak] Pelajaran Bersyukur
“Sekilas Kaku”
Puisi: Jeritan dan Pesan Senja

Leave a Reply