Home > Daerah > Inisiator Itu Bernama Deonal

Inisiator Itu Bernama Deonal

Oleh Pendeta Eden Siahaan*)

Deonal Sinaga

Deonal Sinaga

PENDETA Dr. Deonal Sinaga merupakan sosok yang rendah hati, tekun, ulet, sabar dan mampu bersahabat dengan siapapun. Ia cerdas. Sepanjang pengetahuan saya, hingga saat ini dia satu-satunya pendeta HKBP yang termuda ketika memperoleh gelar akademis Doktor Teologi. Ia memiliki relasi dan wawasan ekumenis yang sangat luas. Tidak berlebihan bila saya katakana, dia termasuk pendeta HKBP yang sudah memiliki jaringan skala internasional.

Ia juga orang yang  cenderung melihat orang lain dari sisi positif walaupun sebetulnya setiap orang itu memiliki kelemahan masing-masing. Ia meyakini betul, setiap orang memiliki kemampuan di bidang tertentu. Karena itu, ia tidak pernah meremehkan siapapun. Ia memang pantas menjadi seorang motivator bagi yang lain. Baginya, perjumpaan dengan orang lain merupakan kesempatan yang sangat berharga, sehingga setiap perjumpaan, menurutnya, mestinya dimanfaatkan dengan baik. Itu sebabnya menurut Deonal, perjumpaan itu harus dikelola secara optimal. Supaya produktif. Perjumpaan seperti itu  sering ia sebutkan sebagai “productive encounter”.

Deonal itu seorang yang komunikatif dan terbuka. Dengan karakter seperti itu, ia dengan cepat dapat menginformasikan hal-hal baru. Juga kegiatan-kegiatan termutakhir yang akan segera dilakukan terutama ketika ia di Jerman. Pada waktu itu beberapa kegiatan skala internasional di Jerman segara dapat saya ketahui dan ikuti berkat informasi darinya. Termasuk peluang-peluang kerjasama dengan UEM pada saat itu dengan cepat bisa saya tindaklanjuti atas informasinya.

Tentu saja, banyak orang menyebut, Deonal sebagai orang yangg rendah hati, gemar melayani, pintar dan berintegritas dan selalu berpikir positif. Semua itu benar adanya. Perilaku yang ditunjukkannya bukanlah dibuat-buat, tetapi itu sudah karakter yang berakar di dalam dirinya.

Saya bisa ceritakan dimananya Deonal ini low profile.

[1] Ketika berbicara dengan sesama teman.

Saya perhatikan, ketika bertemu teman, ia selalu mendahului dangan pertanyaan. Ia bertanya tentang temannya itu; keadaan, gagasan, pengalaman dan lain-lain. Ia selalu memberikan kesempatan bagi temannya untuk berbicara. Dan ketika teman ia sedang berbicara, ia sabar dan cermat dalam mendengar. Kalau ada dari pembicaraan temannya itu yang kurang tepat, ia tidak langsung menyalahkan tetapi memberikan pandangan yang mungkin dapat memperbaiki. Dengan kata lain, sekalipun ia sudah menyandang gelar akademis S.3, ia jauh dari sikap ingin menggurui. Berbicara dengan orang lain bagi ia adalah saling belajar.

[2]      Berpakaian.

Sejak mahasiswa sampai sekarang saya melihat ia berpakaian sangat sederhana. Ia tidak menunjukkan kehebatan atau kecerdasa melalui pakaian. Bahkan seandainya orang menilai ia dari sudut berpakaian barangkali orang akan salah dalam memberi pandangan tentang dirinya.

[3]      Menyapa.

Salah satu hal yang menarik, Deonal selalu berusaha mendahului menyapa. Ia suka menyalam orang lain. Ia pro-aktif dalam menjabat tangan orang lain. Ia tidak menunggu orang lain untuk datang menyalam tetapi justru ia yang beranjak dari tempat duduk atau tempatnya berdiri untuk menghormati orang lain.

Kenangan Manis

Ada dua kenangan manis saya tentang dia. Pertama saat jadi panitia kemah. Kami berdua pernah bekerja dalam satu kepanitiaan “Youth Camp HKBP” di Seminarium Sipoholon. Saya ingat bagaimana Deonal banyak memberikan sumbangan pemikiran, terutama dalam hal prinsip agar kegiatan akbar tersebut dapat terlaksana. Salah satu perintang kala itu, tiba-tiba penyandang dana tidak dapat memberikan donasinya, sementara biaya yang dibutuhkan besar. Namun Deonal dengan tegas mengatakan, kegiatan harus tetap berjalan.  Ia pun bekerja keras, hingga akhirnya UEM Jerman dapat memberikan bantuan. Alhasil, kemah tersebut berjalan sesuai rencana.

Dari banyak ingatan saya tentang dia, yang paling dominan adalah, ia suka melayani. Ia suka memberikan diri, waktu, tenaga dan pikirannya untuk melayani orang lain. Saya kira, justru disitulah inti dari pada pelayanan itu, yakni kemauan untuk mempersembahkan diri sendiri.

Jiwa pelayanannya itu makin kentara karena dukungan gaya berpikirnya. Ia seorang yang punya daya analisis tinggi namun tetap selalu melihat segala sesuatu dari sudut positif. Baginya, setiap pribadi memiliki potensi dan berpeluang untuk diberdayakan.

Kedua, sebelum ia berangkat ke Jerman. Kala itu ia melayani di Biro Oikumene, di kantor Pusat HKBP, Tarutung. Sedang saya melayani sebagai dosen di Sekolah Tinggi Guru Huria. Ia mengundang beberapa pendeta muda termasuk saya untuk berdiskusi. Ia mengajak kami untuk sama-sama memberikan perhatian terhadap dinamika yang terjadi di Tapanuli Utara.

Ia mendisain pertemuan kami setiap bulan. Tempat pertemuan itu bergilir di rumah kami masing-masing. Pertemuan itu berjalan baik, akrab dan bersahabat. Setiap pertemuan ada hasil untuk dibacakan.Dan setiap kelar diskusi kami bersantap malam. Peserta pertemuan itu umumnya adalah pendeta. Namun ada juga dari profesi lain sepasti polisi dan pemerintah. Setelah sekian lama, kami berhasil membentuk Forum resmi yang namanya RUMATA, (FoRUm TransforMAsi TApanuli).

RUMATA sukses menunjukkan kiprahnya. Kami menerbitkan satu buku waktu itu. Judulnya “Transformasi Tapanuli”. Buku itu antologi tulisan tentang harapan-harapan, dan kajian analisis tentang dinamika yang terjadi di Tapanuli, khususnya bidang kemasyarakatan, pertanian, ekonomi, politik dan lingkungan hidup. Namun hal yang tidak bisa ditolak ialah mutasi pelayan. Satu persatu anggota Forum itu dipindahtugaskan untuk pelayanan baru. Termasuk Pdt. Deonal Sinaga, musti berangkat ke Jerman.

Namun, saya senang, Deonal berhasil menggagas suatu forum kecil yang perduli pada kampung halaman. Di forum itu, kami mendapat kesempatan untuk bergumul bersama. Hati saya sungguh dibesarkan.

Selain gemar melayani secara oukimene, Deonal juga memantapkan kiprahnya lewat tulisan. Ia turut gigih berperang lewat angkat pena. Ia berdiri di garda terdepan lewat gagasan-gagasan tulennya. Beberapa tulisannya telah saya baca. Semuanya menginspirasi. Tulisannyaa enak dibaca karena linier, dan “to the point”. Bahasanya juga tidak rumit, sehingga mudah dimengerti pembaca. Kenapa bisa seperti itu? Saya tidak tahu persis, apakah ia pernah mengikuti pelatihan jurnalistik atau tidak. Tetapi saya yakin, itu juga talenta yang Tuhan anugerahkan kepadanya.

Apalagi dengan kemampuan berpikrnya yang mumpuni, ia mampu berkotbah dengan baik. Ia selalu menggali dan mengkaji kotbahnya secara mendalam. Dan kotbah-kotbahnya itu disarikannya kembali dalam tulisan untuk dibagikan kepada orang lain lewat dunia maya. Setiap gagasannya, bai dalam kotbah maupun tulisan dan percakapan sehari-hari, menurut saya, tidak pernah muncul dengan cara tergesa-gesa.

Sebelum mengungkapkan gagasan, Deonal terlebih dahulu memikirkannya dengan matang. Bahkan, ia bersedia mendiskusikan gagasannya itu dengan orang lain. Ia memiliki banyak gagasan. Dan gagasan-gagasannya cemerlang. Satu gagasan bernasnya yang selalu saya ingat adalah ketika ia mengatakan, bukti kehadiran gereja adalah diakonia. Menurut Deonal, diakonia merupakan aksi nyata pelayanan kasih. Saya setuju sekali, bahwa diakonia itu bukan “entry point” tetapi bentuk dan wujud nyata dari pekabaran Injil. (*)

 

 

*) Penulis melayani sebagai Kepala Biro Caritas Emergency HKBP

 

You may also like
Pendeta Tolak Mutasi, Jemaat HKBP Terbelah
Sorotdaerah.com Akui Kurang Hati-hati Dalam Menulis
Bersiaplah Untuk Sesuatu yang Baru
4 Tahun Mengurus Izin, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar Resmi Berdiri
Ephorus Larang Gunakan Fasilitas Gereja Untuk Kampanye Politik
HKBP Kembangkan Pariwisata Kawasan Danau Toba

Leave a Reply