Home > Cerpen > Teror Bom

Oleh: Pretty Lumbanraja

Waktu menandakan subuh pukul 04.30 WIB. Fajar telah menyongsong di ufuk timur menandakan hari yang baru telah tiba. Terdengar suara ayam berkokok. Sebelum mengawali aktivitas di pagi hari, biasanya ayah dan ibu Ryda menonton berita di TV.

Berita yang selalu update membuat ayah dan ibu tidak pernah tertinggal dengan isu-isu hangat di Indonesia. Ada satu buah TV khusus disediakan di kamar. Layar datar ukuran 24 inci yang dibeli tahun lalu sungguh dipergunakan oleh ayah dan ibu untuk menyaksikan berita terbaru. Tidak seperti Ryda dan Andy yang hanya menonton serial kartun saja. Mungkin itu yang menjadi hiburan di rumah daripada mereka mencari hiburan dengan bermain di luar.

Lagipula di usia mereka masih memungkinkan untuk menonton serial kartun toh juga zaman sekarang yang notabenenya orang dewasa masih juga antusias dengan serial kartun.

“Bu, hati-hati ya, belakangan ini ayah dengar-dengar ada teror bom buku”, kata ayah teringat dengan isu yang baru semalam diperbincangkan di kantor.
“Iya yah, zaman sekarang kok semakin mengerikan ya, masak di buku ada bom nya. Aneh-aneh saja”, kata ibu sambil melipat selimut.

“Iya bu, sekarang sudah manusia yang memangsa manusia, bukan hewan lagi, tetap waspada ya bu. Cara teror nya dari pengiriman paket bu, kalo ada kiriman dari orang yang tidak dikenal jangan diterima ya bu”, tambah ayah.
“Itu apa motif nya yah?”, tanya Ibu penasaran.

“Penjelasan yang didapat, ya memang yang bersangkutan ingin melakukan peledakan.Yang jelas membuat kekhawatiran, membuat rasa takut, tapi motif lebih jauh sebenarnya masih ditelusuri”, jawab Ayah.

“Iya yah, nanti ibu ingatin juga ke anak-anak untuk tidak sembarangan menerima barang dari orang lain”, kata ibu.

“Iya benar itu bu. Oh iya bu, semalam Ayah singgah ke rumah kita. Tinggal pemasangan ubin di sekitar taman bu, mudah-mudahan minggu depan sudah bisa kita tempati ya bu”, kata Ayah sambil bersiap-siap.

Beberapa hari lagi ulang tahun Ryda yang ke 10 tahun. Ryda berkeinginan merayakan ulang tahun bersama dengan teman-teman sekelas nya di rumah dengan perayaan ulang tahun yang meriah. Perayaan ulangtahun Ryda sekaligus merayakan syukuran karena memasuki rumah baru.

“Bu, aku mau semua teman-teman ku diundang ya”, kata Ryda kepada ibu nya.
Ulang tahun dirayakan secara meriah. Banyak teman-teman Ryda yang datang mulai dari teman sekolah, teman se-gereja, dan teman sepermainan dekat rumah yang dulu.

Tidak hanya teman-teman Ryda, teman-teman Andy juga ikut diundang. Semua ikut merayakan ulang tahun Ryda. Hidangan lezat, pentas dengan musik berhiaskan suasana ulang tahun meramaikan sekitar komplek Perumahan. Anak-anak berlari dan bermain kesana-kemari dengan girang. Setelah lama bermain tidak terasa waktu terhabiskan.

Hari mulai senja sekitar pukul 17.30 WIB. Para orangtua, anak-anak berkumpul di dalam rumah sambil menikmati es buah dan cemilan ringan. Ada yang menonton tv, bermain play station, dan sibuk dengan mainan nya masing-masing.

Namun tiba-tiba, mereka dikagetkan dengan bunyi “tit-tit-tit, tit-tit-tit, tit-tit-tit”, secara berulang dengan tempo yang cepat yang berasal dari kumpulan hadiah-hadiah Ryda.

“Awas jangan-jangan teror bom bukuuu”, kata Ibu berteriak sambil meletakkan piring yang sedang ditangannya.

“Aaaaaaaaaaaa”, teriak seseorang.

Semuanya panik. Mereka teringat akan berita belakangan ini mengenai teror bom buku. Ada yang langsung berlari keluar dan mengabaikan aktivitas yang dikerjakan tadi. Anak-anak pun ikut juga. Ada yang tidak tahu soal berita tersebut juga ikut-ikutan berlari. Orang-orang di sekitar komplek yang mendengar teriakan dan kehebohan yang timbul pun ikut peka dan mengamankan diri.

Setelah sekitar 20 menit menunggu tidak ada sama sekali bom yang terjadi. Ayah Ryda dan rekannya memutuskan mencari tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba, suara bom yang tadi bunyi kembali. Mereka mencoba untuk tidak panik dan mencari tahu dari hadiah mana asal bunyi bom nya. Dengan mengarahkan ke telinga satu per satu hadiah-hadiah tersebut.

Akhirnya salah satu rekan Ayah Ryda menemukan sebuah kotak yang dilapisi kertas kado kartun Dora and The explore. Perlahan dibuka kado tersebut dan…………… “Yah, hanya sebuah jam weker”, kata Ayah Ryda.

Mereka pun tertawa. Ayah Ryda keluar dan memberitahukan agar tidak panik.

“Tenang-tenang, tidak perlu panik. Hanya jam weker saja”, kata Ayah memberitahukan sambil tersenyum lebar dan menggaruk rambutnya.

“Yahhhhhh cuman jam nya ternyata”, kata semua orang lega sambil tertawa.

Suasana pun berubah yang tadi nya panik menjadi ceria.
Sekian 😂😂😂
Semoga suka

You may also like
Antisipasi Teror, Polrestabes Medan Jaga Gereja Methodist Indonesia Gloria
Ketua PGI Medan Serukan Jaga Toleransi
Kelompok Cipayung Kutuk Pelaku Teror
TEROR BOM GEREJA KATOLIK STASI SANTO YOSEP MEDAN

Leave a Reply