fb_img_1476293951932
Foto ini dikutip dari akun FB Pusdalops Kota Medan (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)

Oleh Lydia Margaretha S

Temen-teman memanggilku pluviophile, seorang penggila hujan. Bagi mereka aku ini aneh. Anomali. Entah mengapa mereka memandang ganjil diriku. Hanya karena aku bisa menemukan kegembiraan dan ketenangan hati dalam rinai hujan. Benarkah aku segila itu?
***

AWAN pekat menyelimuti mega. Semakin padat semakin berat. Petir menggelegar diikuti kilat menyambar-nyambar. Langit tak henti bergemuruh. Seketika hujan mengguyur bumi. Hatiku basah lagi.

Di suatu tempat orang mengutuki hujan, tetapi di lain daerah, ada yang merindukannya. Hujan seperti matahari. Panasnya dibenci dan dirindukan. Tetapi di kotaku, Medan, hujan kerap tidak disukai orang. Sebab kota ini kerap dikepung banjir di kala musim hujan. Banjir akan meluap. Jalan tergenang. Selokan tumpat. Dan air masuk ke rumah-rumah. Ini menyebalkan bagi banyak orang.

Belakangan ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi Sumut, tak terkecuali Medan tengah memasuki musim penghujan. Ramalam ini sudah mulai mewujud.

Hujan seketika menjadi sangat “tidak bersahabat” dengan kotaku ini. Tiada hari tanpa kedatangan nya. Miliaran titik air dalam beberapa jam saja ini akan membongkar wajah asli kota ini.

Jalanan kota sekejap berubah menjadi menyeramkan. Hujan akan menggenangi jalanan. Aspal telah menghalangi air metembes ke tanah. Sehingga ruas jalan di sejumlah titik, sepasti di Jalan Dr Mansyur, Jalan Ayahanda, Jalan Kapten Muslim akan menjelma menjadi kubangan kubangan yang menyeramkan.

Air naik cepat. Tingginya bisa mencapai lebih dari dua penggaris. Jika sudah begini, macet tak terelakkan. Hujan, macet akan memicu pengendara naik tensi. Mulut mereka bisa meledakkan gerutuan atau cacian.

fb_img_1476293933550
Foto ini dikutip dari akun FB Pusdalops Kota Medan (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)

Tetapi apakah itu salah hujan? Apakah tepat meggerutu karena kehadiran siklus alam yang memang mulai berubah ini? Jika Medan mengeluh, daerah lain sepasti Karo dan Samosir malah menjerit dan merindukan hujan. Mereka berharap hujan berkenan mengunjungi mereka.

Para peladang memanjatkan doa supaya hujan turun. Mereka berharap hujan turun untuk menumbuhkan benih-benih tanaman yang sudah mereka tabur. Hujan menjadi asa bagi mereka.

Tetapi bagiku, lain lagi. Titik-titik air ini bukan sekadar hujan. Bagiku ia merupakan alarm yang mengalihkan perhatianku sejenak dari segala aktivitas. Di kala hujan, aku mudah menemukan diriku.

Dalam suara rinainya yang kentara, aku selalu bisa mendapati diriku tengah menyepi. Di situ aku bisa merenungkan tentang hidup yang dikendalikan oleh sang Penabur Hujan. Dia penuh misteri bagiku.

Dalam permenungan itu, di selingi suar guyuran, sekelabat kisah selalu bergulir dengan mudahnya dalam benak. Keteduhan Ilahi, begitu aku menyebutnya. Aku selalu terpesona kepadaNya.

Melihat hujan, aku seperti bertemu dengan-Nya. Sang Pencipta yang Mahasempurna. Dalam triliuan juta titik-titik air itu, kusadari campur tanganNya mengatur siklus secara sempurna.

Orang bisa saja meramalkan kedatangkannya. Namun kepastiannya hanya milik Sang Penguasa Semesta. Dan aku sangat suka bagaimanapun caranya hujan datang. Karena aku bisa menikmati keindahan dan keperkasaanNya dari titik-titik air itu yang membelai dedaunan. Dan ranting-ranting ikut menari seakan mempelai yang tengah melambai menyapaku.

Aku mendengar suara hujan seperti orkestra musik alam yang harmoni. Berdetak menyapa degup jantungku. Itu seperti terapi yang menenangkan jiwaku. Aku selalu meluangkan waktuku menyapa hujan. Menutup mataku, agar ia berbicara denganku langsung dari hati ke hati. Seperti sepadang kekasih. Kami hanya perlu baku tatap. Tanpa kata-kata. Karena jiwa kamilah yang sedang menyapa.

Aku suka hujan. Ia mengingatkanku pada sesuatu yang istimewa. (*)

By Redaksi

3 thoughts on “Pluviophile”
  1. Saya juga seorang pluviophile.

    Sungguh terkesan dengan untaian tulisan ini. Terlebih bagaimana bertolak belakang pandangan atas hujan di kota (yang kebanjiran) dengan di daerah pegunungan (yang kini kekeringan).

    Salam dan doa selalu.

    1. Wah kalau abang jg penggila hujan bs dong bikin partai. Simpatisannya pasti banyak bang. Biar aku tim sukses abang…bgmn?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *