Oleh: Penny Charity Lumbanraja

Medan, Sorotdaerah.com-“Yee”,teriak Elen sembari melihat pengumuman rekrutmen kepegawaian salah satu BUMN tujuannya. Elen, sosok wanita yang cukup ambisius dan gigih. Dia baru saja menyelesaikan studinya di jurusan ilmu Fisika di pertengahan tahun di salah satu perguruan tinggi negeri di salah satu provinsi tempat dia tinggal. Dengan konsentrasi fisika material, dia melihat daftar profesi yang hendak dia pilih yang selinier dengan ilmu yang dipelajari selama 4 tahun dia kuliah.

 


“Hmmmm, jurusanku kok gak ada ya?”, gumamnya kecil.
Saat itu yang dibutuhkan adalah di bidang teknik elektro. Tetapi, tanpa membatasi diri, dia memilih bidang itu dengan salah satu jurusan yang dibutuhkan yaitu, arus listrik kuat dan arus listrik lemah.

 


“Bu, BUMN impian Elen sedang mengadakan rekrutmen kepegawaian loh, Elen boleh nyoba ya?”,tutur Elen kepada ibunya.
“apakah tidak jadi masalah?, kamu kan belum dilantik dan wisuda dari kampusmu?”, tanya ibunya.
“Gak apa-apa ma, yang penting revisiku sudah beres dan urusan-urusan administrasiku sudah aku urus, cuma gimana ya Bu?”, Elen merasa ragu.
“Kenapa, nak?” sahut Ibunya.
“SKL Elen belum ada”,gerutu Elen.

 


Tetapi, sejenak dia langsung bergegas pacu dan berangkat ke kampus untuk mengurus SKL (Surat Keterangan Lulus) ke bagian akademik Fakultasnya.
Pergi berjalan sendiri tanpa diketahui oleh teman-temannya yang lain, Ia pun mengumpulkan keberaniannya menjumpai Kabag Fakultas, dengan harapan besar pihak Kabag dapat mengeluarkan SKL untuknya.

 


“Huuh, sudah 3 minggu. Kenapa SKL ku belum keluar juga ya Bu?”, tanya Elen kepada Ibunya.
“Yah, Ibu mana tau Nak, coba saja kamu menjumpai bapak itu dan tanyakan langsung kepadanya”, saran Ibu.

 


Segala urusan administrasi keperluan pendaftaran online sudah dipersiapkan oleh Elen, baik Sertifikat TOEFL, SKBS (Surat Keterangan Berbadan Sehat), SKTBW (Surat Keterangan Tidak Buta Warna), SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), dan sertifikat-sertifikat khusus lainnya.

 


Setibanya di kantor Kabag Fakultas.
“Permisi Pak, mohon maaf. Saya adalah mahasiswi yang mengurus SKL dari 3 minggu yang lalu.”, kata Elen dengan sopan kepada Bapak Budi, sebagai Kabag (Kepala Bagian) di fakultas.
“oh, kamu yang mengurus SKL itu, maaf ya nak. Bapak tidak sempat memberitahukan kepada kamu”, katanya kepada Elen.
Dengan agak kecewa sambil melirik sedikit ke arah layar komputernya yang sedang serius bermain 3D Chess. Dengan posisi tangan ke bawah.

 


“Jadi, apa yang harus saya perbuat, Pak?, saya sudah menunggu selama ini. Semua dokumen pendaftaran sudah saya persiapkan, tinggal SKL ini Pak yang saya perlukan,” sahutnya kecewa.
“Sebenarnya begini nak, jujur saja. Kami pihak fakultas tidak bisa mengeluarkan SKL kepada mahasiswa praalumni sebelum mereka dilantik judisium, kami dengan senang hati membantu, Nak. Tetapi, urusannya ke Bapak Dekan juga, kan?”, responnya.
“Saya mohon, Pak,” tuturnya.
“Baiklah, kamu saya sarankan untuk menjumpai Pak Dekan sekarang”, katanya seolah-olah menjadi harapan untuk Elen.
“Terima Kasih banyak, Pak”, sahut Elen dengan mantap.\\

 


Beberapa jam menunggu di depan kantor ruang Dekan. Akhirnya, muncullah si Bapak. Dengan sedikit arahan yang cukup merepotkan, akhirnya si Bapak mau mengeluarkan SKL untuknya. Dengan teriakan yang keras di dalam hati, Elen pulang ke rumah untuk segera melakukan peregistrasian kepegawaian.

 


Berusaha untuk mensugestikan diri sendiri, “Huh…huh, Jangan terlalu  berharap ya Len, bagianmu cuma ini”, gumamnya di dalam hati.
                        ***
Tiba-tiba di sore hari, dalam kondisi sedang membantu adik kecilnya belajar Himpunan, berbunyi “Tidak ada tempat pesan baru” di handphone jadulnya. Sambil mengajar dan memilih pesan yang mana untuk dihapus, masuk pesan resmi dari BUMN yang ia registrasi, yang menyatakan Sdr LULUS administrasi untuk mengikuti Tes Akademik. Info selengkapnya hubungi situs berikut untuk melakukan pencetakan kartu ujian. Dengan rasa senang bercampur keyakinan karena telah diberi kesempatan, akhirnya Elen mempersiapkan segala keperluannya untuk mengikuti ujian yang akan dilaksanakan 4 hari kedepan.

 


Tetiba di kantor tersebut, yang dia lihat begitu banyaknya kompetitor yang menjadi pesaingnya, hanya saja tidak banyak yang berjenis kelamin wanita. Melihat kode profesi khusus SAL, nama Elen berada pada urutan ke 226 dari 919 peserta khusus provinsi tersebut.

 


“wah, ini masih di kotaku, gimana lagi yang nasional ya?”, kata Elen pelan hingga tak sengaja terdengar oleh seorang wanita lulusan psikologi yang mengambil profesi SHR.

 


Jam menunjukkan pukul 10.30, untuk gelombang ke dua, akhirnya tiba giliran Elen memasuki ruangan ujian untuk mengikuti tes Akademik. Tes tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu Tes Kemampuan Umum dan Tes Inteligensi Umum. Pihak pengawas ujian dan pengelola SDM sangat ketat memberikan aturan-aturan sehingga sedikit kesalahan saja dapat terjadi diskualifikasi di tempat. Hal itu cukup menguji mental para peserta ujian. Ujian untuk inteligensi umum saja hanya diberi waktu 1 jam. Dalam 1 jam itu dibagi menjadi 4 sesi yang masing-masing sesi memakan waktu 15 menit dengan masing soal-soal adalah 50 butir soal. Ujiannya terdiri atas aritmatika, sinonim, antonim, dan analogi. Elen melihat kondisi teman-temannya. Cukup megap-megap kelihatannya. Lagi-lagi, Ia mensugesti dirinya untuk tidak terlalu berharap penuh dan hanya melakukan yang terbaik saja.

 


2 jam telah berlalu, dengan keadaan energi terkuras, akhirnya ujian akademik pun selesai dilaksanakan. Pihak SDM memberikan peringatan kepada peserta ujian untuk tidak membawa buku soal dan menyampaikan bahwa pengumuman akademik akan dikeluarkan 3 hari kedepannya.

 


Dengan perasaan pasrah campur lelah, akhirnya Elen bergegas pulang ke rumah.
Setiba di rumah. “Gimana ujiannya, nggi?” tanya Chris kepada Elen, selaku kakaknya.
“Hemm, ya, begitulah kak, kita lihat saja nanti”, pasrahnya.
“Kok begitu jawabnya nggi?”,tanya Luic kepadanya selaku teman kakaknya.
“Entar kakak-kakak bakalan rasakan sendiri kok, susah menjelaskannya loh,” sentak Elen.
“Kan bisa baik-baik jawabnya!”, ujar Chris.
“Sudah kakak, kamu mestinya lihat kondisi adikmu, dia itu sudah kelelahan. Tunggu tenang saja dia, baru kamu tanyakan lagi”, kata ibu.\\

 


***
Sembari mempersiapkan tes untuk selanjutnya yang mungkin akan diikutinya, akhirnya tibalah hari pengumuman tes Akademik. Elen dipenuhi perasaan penasaran, ia pun melihat pengumuman tes akademik. Dengan perasaan tak menyangka, namanya terlihat sebagai peserta untuk tes selanjutnya. Tes Psikologi. Yang lebih kerennya lagi, dia satu-satunya peserta yang lulus dari provinsinya untuk kode profesi SAL (Sarjana Arus Listrik). Hingga muncullah perasaan agresif di dalam dirinya, namun tidak terluapkan dari dirinya sendiri.

 


“Ngapain kamu, nggi?, tanya Chris.
“Lagi persiapan tes Psikologi, nda”, jawab Lena ramah.
“Luluskah nggi?, wah selamat ya. Salut sama mu nggi”, puji Chris.
“Ah, belum apa-apa nda. Katanya tes psikologi itu berat kan, nda?”,tanya Lena
“Iya nggi, kata kawanku, ada 3 hal yang harus kau lakukan sebelum mengikuti tes itu, cukup tidur, jaga stamina dan lupakan semua masalahmu”,begitu jawab Chris kepadanya.
“Ah, masa sih nda, masa gitu. Setauku ada Tes Pauli, Tes Warteg, Tes Menggambar Orang, Tes Alpha Army, Tes Menggambar Rumah, Tes Menggambar Pohon, Tes Kepribadian. Itulah kak”, jawab Lena.
“eheh, saranku pas beneran loh. Banyak orang yang tumbang habis tes psikologi loh nggi”, sahut Chris.
“Iyalah iya, kudengar saranmu, nda”, ujarnya.


***
Tiba hari untuk tes Psikologi. Ada psikotes, LGD (Locus General Discussion), dan wawancara psikologi. Tes psikotes  menguras energi otak dan energi tenaga Elen.
“Mau muntah rasanya Ibu, ini tes atau apa sih”, keluh Elen kepada Ibunya setiba pulang dari tempat ujian.
“Kenapa rupanya tesnya, ngiiiii?”, ejek Chris.
“Serem kak, banyak kali maunya mereka. Aku seperti mau muntah rasanya di sana. Melihat tes korannya saja sudah mau hang otakku. Tes-tes seperti ini kali pertama untukku”, keluh Elen.
“Betul kan kakak bilang. Itu sangat mempengaruhi kepribadianmu loh anggiiiii”, ujar Chris.
“Iyalah kak, aku jalani aja semua tes-tes ini. Yang penting pengalaman itu lah yang berharga untukku”, hibur Lena kepada dirinya sendiri.(*)

By Redaksi

2 thoughts on “Kali Pertama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *