Ronny Fernando Sijabat (17), penduduk Jalan Bintang Terang, Desa Muliorejo, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Anak piatu ini berharap bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah di bidang pertanian.

Di balik semarak perayaan 74 tahun kemerdekaan Indonesia, seorang remaja laki-laki sibuk memulung botot (barang bekas) usai pulang sekolah. Ia memulung dengan mengenakan seragam putih-biru. Hasil pulungannya ditumpuk di samping rumah mereka yang reot dan berdinding tepas.

Laki-laki itu bernama Ronny Fernando Sijabat (17), penduduk Jalan Bintang Terang, Desa Muliorejo, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Saat ini, ia duduk di bangku kelas 3 SMA Prestasi Utama, Sidodadi, Sunggal. Ia mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sejak kecil, Ronny telah ikut orangtuanya memulung. Sebab, ayahnya, Badaruddin Sijabat (55) hanya bekerja serabutan, sementara delapan anak harus dinafkahinya. Apalagi semenjak ibunya, Herlinda Hutauruk berpulang pada Desember 2017, sebagai remaja, Ronny merasa perlu turut ambil tanggung jawab lebih.

Lelaki berambut cepak ini makin rajin memulung demi memastikan pendidikannya bisa terus berlanjut. Ia juga tidak ingin melihat adik-adiknya putus sekolah. Dua saudaranya kini merantau mengadu nasib di Pulau Samosir dan di Banda Aceh. Mereka bekerja sebagai buruh kasar di ladang orang demi membantu biaya hidup keluarga ini. “Saya ingin mengubah hidup saya. Saya akan berjuang supaya bisa kuliah di pertanian. Cita-cita saya menjadi menteri pertanian,” katanya.

Hidup di keluarga miskin, tidak menyurutkan semangat Ronny untuk belajar. Ia memanfaatkan betul waktunya sebaik-baikmya untuk belajar. Pulang sekolah ia menyempatkan diri ikut les komputer dua jam, setelah itu ia memulung. Ia juga rajin membaca buku dan belajar di rumah. Sehungga ia selalu masuk rangking 10 besar di sekolahnya.

Ia bahkan menjauhkan dirinya dari kegemarannya bermain tennis meja, semata supaya bisa membaca buku atau memulung. “Kalau saya tidak memulung, rasanya tidak nyaman di hati. Adik saya masih ada yang sekolah. Mereka juga punya impian. Saya ingin sekali membantu mereka mewujudkan impiannya,” imbuhnya.

Sementara adiknya, Putra Sijabat (9) terluka karena diserempet mobil yang berkendara secara ugal-ugalan. Putra terpental dari sepedanya dan nyungsep ke parit akibat diserempet mobil, saat ia hendak pulang ke rumah. Tangannya harus dijahit pihak puskesmas. Dan kakaknya, Sri Wahyuni (24) terpaksa pusing mecari pinjaman uang untuk membiaya pengobatan adiknya itu

Padahal, Sri Wahyuni sendiri menderita sakit penyakit. Namun ia tak bisa berobat karena terkendala keuangan. Keluarga ini tidak bsia mengandalkan kesaktian Kartu Indonesia Sehat bersebab status kartunya non aktif. Mereka menunggak biaya premi sekian lama, karena tidak punya uang. Itu sebabnya, mereka tidak bisa mengandalkan program BPJS Kesehatan, selama premi iurannya dan dendanya dilunasi.

Wahyuni mengatakan, ia dan adik-adiknya harus memulung setiap hari karena penghasilan ayah mereka sebagai buruh serabutan tidak menentu. Kadang ada kadang apes. Mereka pun harus belajar makan ala kadarnya. Celakanya, meski pernah berobat ke bidan, namun kondisi kesehatan Sri Wahyuni tidak kunjung membaik. Batuknya makin kambuh. Kondisi kesehatan keluarga ini juga menjadi pertaruhan karena rumah yang mereka kontrak di pinggiran rel kereta api itu sama sekali tidak memiliki toilet dan kamar mandi.

Aktivis Pemulung, Uba Pasaribu menyebut, seharusnya Pemerintah mendukung keluarga Ronny Sijabat. Sebab, anak ini meskipun miskin tapi berusaha untuk hidup mandiri. Selain itu, anak ini berusaha sekuat tenaganya membantu keluarganya. “Pemerintah harusnya mendukung Ronny ini. Dia pekerja keras, bertanggung jawab, tangguh, sayang adiknya dan bermimpi tinggi. Pemerintah harus mengintervensi persoalan keluarga ini,” kata Uba.

Aldes Sijabat, pengurus Generasi Muda Toga Sijabat (GMTS) se-Indonesia juga mengatakan, anak seperti Ronny ini memang layak untuk didukung. Karena itulah GMTS se-Indonesia berupaya mencarikan jalan keluar untuk membantu biaya pendidikan Ronny agar bisa lulus SMA.

Hari itu, GMTS se-Indonesia yang diwakili beberapa pengurusnya menyerahkan bantuan sembako, peralatan rumah tangga dan uang tunai untuk membantu biaya sehari-hari keluarga ini. “Kami ingin Ronny dan adik-adiknya bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik,” pungkasnya. (Redaksi)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *