Banyak orang Batak berpendidikan tinggi dan sukses dalam karir, namun kehilangan kebudayaannya. Mereka mampu meraih banyak keberhasilan dengan lompatan-lompatan jauh tetapi sama sekali tidak mengerti budayanya. Mereka menganggap dan budaya dan ritual di dalamnya hanya sebuah kebodohan, kekonyolan dan kekafiran.

Tak heran, sekarang ini mudah sekali menemukan orang Batak yang sama sekali tidak cakap berbahasa Batak, tidak mengerti umpasa, tidak memahami filosofi dalihan natolu, tidak mengenal falsafah-falsafah kebatakan yang kaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Lantas bagaimana masa depan generasi Batak di masa depan? Tantangan terhadap budaya Batak kini semakin kuat di tengah gerusan arus modernisasi. Semua itu berpangkal pada ketidakmandirian berpikir sebagian besar orang-orang Batak, khususnya generasi muda masa kini. “Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal mereka lupakan. Bahkan mereka pula yang getol menolak budaya dan mempertanyakan relevansinya pada zaman sekarang,” tuding Prof Albiner Siagian, pemerhati kebudayaan Batak.

Kondisi “senjakala” budaya Batak, seperti diuraikan di muka kini menjadi perhatian besar bagi Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak. Yayasan ini beranggotakan orang-orang Batak lintas profesi yang merasa terbeban untuk melestarikan kebudayaan Batak. Yayasan yang baru berusia seumur jagung ini sedang gencar-gencarnya mengampanyekan pentingnya melestarikan kebudayaan Batak di kalangan generasi millenial, baik secara online maupun offline.

Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak ini berkeyakinan, jika kebudayaan dan kearifan lokal Batak tidak diselamatkan, bakal terjadi kehancuran besar bagi bangsa Batak dan sejumlah kerusakan-kerusakan pada sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Orang Batak bisa terdepak dalam pergaulan modern jika terus menjauhkan diri dari nilai-nilai kebatakan. Selama masih menganggap nilai-nilai kebatakan inferior ketimbang budaya barat, kita akan kalah dalam pergaulan dan kompetisi dunia,” timpal Manguji Nababan, pegiat literasi Batak dari Universitas HKBP Nommensen.

Pentingnya menganut paham egaliter, menurut Manguji, menjadi satu syarat dalam memajukan kebudayaan Batak. Sebaliknya, pandangan yang menempatkan budaya Barat lebih unggul ketimbang budaya bangsa kita adalah awal kehancuran bangsa. Ide itu sepantar dengan peringatan dari Letjen TNI Nono Sampono, Wakil Ketua DPD RI, yang mengatakan, tanpa budaya negara kita bisa hancur!

Kerusakan atau kehancuran-demi kehancuran itu sebenarnya sudah terlihat sejak dulu. Kehancuran-kehancuran masyarakat dan bangsa karena mengabaikan kebudayaan. Sebutlah, korupsi, saling sikut, mengeksploitasi lingkungan, bermuka tembok, malas kerja, jual diri, tidak bertanggung jawab, tidak menghargai kaum perempuan dan lainnya. “Padahal dalam narasi-narasi kebudayaan Batak, semua hal dalam hidup kita itu sudah ada pedomannya,” terang Manguji Nababan.

Narasi Kebatakan

Ia mengambil contoh narasi-narasi kebatakan yang bersangkut paut dalam kehidupan, sebagai buah daya cipta sekaligus teladan dari para leluhur Batak. Contohnya Masyarakat Mandailing yang hingga kini memelihara mitos soal hutan larangan dan lubuk larangan. Dengan adanya mitos tersebut, hutan dan sungai-sungai di sana terjaga kelestariannya dan kealamiahannya hingga sekarang. Orang tidak berani mengeksploitasi hutan maupun sungai.

Contoh lain, tentang umpasa Batak yang kaya gagasan. Umpasa-umpasa diciptakan sebagai falsafah atau pedoman dalam menjalani hidup sehari-hari. Misalnya umpasa terkait antikorupsi ada beberapa. Sekadar menyebut “Unang allang indahan sian toru ni rere” (Jangan memakan makanan dari hasil terselubung), “Unang mamogo jambar ni dongan” (Jangan mengambil hak orang lain). Umpasa-umpasa ini lantang berbicara soal karakter antikorupsi.

Ada juga petuah tentang tau rasa malu yakni “Sattopak do bohi ondo siboto namaila” (muka hanya setelungkup tangan, tapi dia tahu rasa malu). Wajah kitalah yang malu jika kita korup, berlaku bejat, atau bertindak kurang ajar.

Soal harga diri ada pula umpasa yang berbunyi: “metmet pe sihapor alai dijujung do simanjujung na” yang artinya belalang memang bertubuh kecil, tetapi ia mengangkat tegak kepalanya. Umpasa ini mengajarkan soal bagaimana kita harus tegak kepala karena punya harga diri. Tetapi orang yang bisa dibeli, harga dirinya rendah sekali. Orang yang bisa dibeli harga dirinya, ia bahkan lebih hina dari belalang kecil.

Di bidang etos kerja, leluhur Batak mewariskan umpasa “Naolo loja do naboi mangan” yang artinya hanya yang mau bekerja yang lantas makan. Orang malas sangat tidak layak diberi makanan. Umpasa ini bahkan kerap disandingkan dengan petuah berikut: “Molo dung dijujung ikkon do diporsan” yang maknanya, kalau beban sudah dipikul (beban), harus kamu kelarkan, jangan tanggung dan jangan setengah hati.

Umpasa ini berkait erat dengan tanggung jawab. Soal isu gender, falsafah Batak pun ada yakni “Ina do nampunasa dalan” yang artinya Ibulah pemilik jalan. Dengan umpasa ini, orang Batak pun mengagungkan perempuan khususnya ibu, sebab merekalah pandu jalan bagi kita.

Ada ratusan bahkan ribuan umpasa hasil daya cipta leluhur Batak yang ditujukan sebagai pedoman menjalani hidup sehari-hari, hidup berkeluarga , hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sayangnya, umpasa-umpasa itu, sebagai bagian dari kebudayaan dan kearifan lokal, kini telah dilupakan oleh generasi muda masa kini.

“Menganggap kebudayaan Batak itu kuno, berbau kekafiran, tidak lagi relevan dengan masa kini, boros dan melelahkan. Sehingga tumbuh stigma kalau budaya Batak itu justru sebuah kebodohan. Ini salah satu ancaman bagi masa depan budaya Batak,” timpal Manguji.

Lunturnya budaya dan bahasa Batak tidak terjadi hari ini saja. Kelunturan itu sudah dimulai sejak lama, paling tidak sejak masuknya agama Hindu dan Budha ke Nusantara disusul kedatangan penjajah dari Belanda, masuknya misi zending dan masuknya agama Islam.

Pendiri Rumah Budaya Tonggo, Jim Siahaan mengatakan, budaya Batak mulai terkontaminasi ketika masuknya Budha dan Hindu pada awal Masehi. Kemudian, masuknya pengaruh Islam dari Turki Ottoman pada abad ke-15 menggantikan Budha dan Hindu.

Kemudian masa Sisingamangaraja memerintah kedatangan orang Barat banyak mempengaruhi kebudayaan Batak. Penjajah yang menguasai pemerintahan begitu adikuasa menggerus budaya Batak dengan memanfaatkan sistem sebagai senjata, diantaranya dengan menciptakan kurikulum, mendirikan sekolah dan balai kesehatan serta soal merekrut tenaga buruh perkebunan.

Dengan menguasai sektor pendidikan dan kesehatan, penjajah dengan mudah mempecundangi kebudayaan Batak. Selama peperangan di masa Raja Sisingamangaraja XII, pembaratan dan pengkristenan terus berlangsung. Banyak sekolah didirikan penjajah. Banyak perlawanan terutama dari Parbaringin sebagai benteng terakhir habatahon.

“Pembaratan dengan sendirinya membuka pandangan orang-orang Batak keluar. Orang Batak yang dulunya tertutup, sekarang terbuka. Orang Batak mulai mengikuti pendidikan dan gaya hidup Barat. Adat budaya bisa dikatakan hampir semua hilang,” ungkap Jim.

Pertanyaan besarnya, bagaimana kebudayaan Batak bisa tetap bertahan dan aktual pada masa mendatang untuk menuntun generasi muda Batak dalam pertarungan di tingkat bangsa-bangsa? Ketika orang Batak terasing dan tercerabut dari akar budayanya sendiri, bagaimana mungkin mereka bisa eksis menghadapi kompetisi dunia modern

Mampukah generasi muda Batak mengadopsi budaya dan nilai-nilai kebatakan sebagai pandu dalam menghadapi kemajuan zaman dan berdaya saing terhadap kebudayaan asing? (Redaksi)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *