Sorotdaerah.com – Dialah Fikria Nur Baiti, wisudawan S1 Departemen Desain Produk Industri ITS, yang merancang mainan bernama BaaDaaBoo dengan menggabungkan beberapa permainan yang dibungkus menjadi lebih segar untuk anak tunanetra yang masih dalam usia bermain.

Hingga saat ini, mainan yang dikhususkan untuk anak penyandang tunanetra masih sulit ditemui. Gadis yang akrab disapa Betty ini mengungkapkan bahwa biasanya permainan yang sering ditemui langsung terfokus pada pembelajaran huruf braille atau sejenis sistem tulisan sentuh yang diperuntukkan untuk penyandang tunanetra. “Masih jarang terdapat mainan khusus, utamanya untuk menunjang gerak aktif anak (tunanetra),” kata Betty.

Remaja asal Gresik ini menjelaskan, permainan yang ia buat ditargetkan untuk anak yang masih dalam usia bermain. “Karena untuk usia 4 hingga 6 tahun, mainan dibuat lebih fokus untuk pembelajaran tekstur dan orientasi mobilitas atau bergerak berpindah-pindah dengan arah tertentu,” urainya. Betty pun menambahkan, latihan terhadap kemampuan motorik dan konsep arah pada anak juga didapat sekaligus saat bermain mainan buatannya.

Betty menerangkan bahwa ukuran dari mainan ini cukup besar. Jika mainan dirangkai secara keseluruhan, ukurannya mencapai 2 x 2 meter. “Mainan ini dibuat dalam bentuk puzzle, sehingga dapat diubah-ubah konfigurasi bentuknya,” tutur mahasiswi angkatan tahun 2015 ini. Lintasan mainan dapat diubah sesuka hati, bisa berbentuk lurus, belok, dan sebagainya.

Betty pun menerangkan, lintasan mainan yang dirancangnya tersebut timbul sebagai petunjuk arah. “Sepanjang lintasan juga ada potongan berbagai bentuk puzzle dan alasnya, sehingga anak bisa bermain puzzle dengan mencocokkan bentuknya,” ujarnya.

Ia menambahkan, puzzle tersedia dalam berbagai bentuk geometris. Ada bentuk segitiga, lingkaran, kotak, dan segilima yang dibuat dengan variasi tekstur halus dan kasar. Selain itu, terdapat suara lagu tentang bentuk geometris yang dapat diputar saat bermain. “Jadi, ada lintasan yang bisa diikuti anak sambil bermain puzzle agar lebih menyenangkan dan tidak membosankan,” simpulnya.

Dengan satu permainan, menurut Betty, manfaat yang didapat oleh anak cukup banyak. Antara lain dapat melatih kepekaan terhadap indera peraba, melatih konsep arah dengan berkonsentrasi saat berjalan mengikuti lintasan, dan juga orientasi mobilitas. Terlebih lagi, mainan ini aman digunakan penyandang tunanetra dengan menggunakan bahan dari karet EVA atau biasa kita ketahui dengan nama spons.

“Mainan ini sudah pernah dicoba oleh anak penyandang tunanetra di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Surabaya dan Gresik, mereka pun senang bermain puzzle geometris dan menyukai suara dari mainannya,” ungkap Betty.

Fikria Nur Baiti memperlihatkan bagian permainan BaaDaaBoo rancangannya untuk anak penyandang tunanetra

Mahasiswi yang akan diwisuda pada Minggu (15/3) mendatang ini, merasa masih banyak kekurangan pada karya TA-nya tersebut. Karena waktunya hanya singkat, Betty mengaku membuat prototype mainan ini sendiri dibantu teman-temannya.

Ia pun berharap mainan ini dapat dikembangkan lagi menjadi lebih baik. “Saya ingin mainan ini dapat diproduksi dan diberikan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan nantinya, sehingga anak penyandang tunanetra dapat merasakan manfaatnya langsung,” pungkas Betty penuh harap. (Redaksi)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *